وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah" (QS. adz Dzariyat: 49)
Ummu Salamah ra menggambarkan betapa berseri-seri wajah Rasulullah ketika mendengar pinangan puteri Beliau yang dimohonkan oleh Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra., sebab sang calon menantu adalah seorang pemuda yang gagah berani, berilmu, dan berakhlak mulia, yang sejak kecil ada di bawah bimbingan dan didikan Beliau sebagai anak angkat, yang dari sulbinya akan lahir keturunan Beliau Rasulullah SAW yang disebut Ahlul Bait atau Adz Dzuriyah.
Diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT, memerintahkan kepadaku agar aku mengawinkan Fatimah dengan Ali." HR. Tabrani.
Perkawinan yang Penuh Berkah
Prosesi akad nikah berjalan dengan hidmat dan penuh dengan nilai-nilai kesakralan, walau maskawin yang diberikan oleh Sayyidina Ali hanya 400 dirham, atau senilai sebuah baju besi untuk berperang. Bahkan perjamuan walimatul 'ursy hanyalah kurma dan kismis anggur yang dikeringkan.
Sahabat Anas Ibn Malik ra. menuturkan bahwa setelah selesai uapacara pernikahan Rasulullah SAW mendoakan kedua mempelai:
"Semoga Allah SWT merukunkan kalian berdua, melimpahkan kebahagiaan dan memberkahi kalian berdua. Dan semoga pula akan memberikan keturuan yang baik dan banyak kepada kalian."
Kehidupan Sayyidina Ali dan Sayyidatina Fatimah sangat sederhana, bahkan Sayyidina Ali tidak mampu membayar gaji seorang pembantu untuk rumah tangganya. Karenanya, Sayyidatina Fatimah yang masih muda itu harus menanggung sendiri semua pekerjaan rumah tangganya. Ia harus menggiling gandum sendiri, membakar roti sendiri, membersihkan rumah sendiri, mencuci sendiri, memasak sendiri,masih lagi harus merawat anak-anak sendiri. Coba bayangkan putri seorang nabi, yang juga kepala negara melakukan aktivitas rumah tangganya sendiri
Suatu ketika Rasulullah SAW. berkunjung ke rumah puteri Beliau, Sayyidatina Fatimah sedang menggiling tepung dengan air mata yang berlinang. Baju yang dikenakannya pun dari kain kasar. Menyaksikan hal itu, Rasulullah SAW, haru dan air matanya pun meleleh, sambil menghibur:
"Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di akhirat nanti."
Namun demikian, dengan segala kesederhanaan dan kehidupan yang serba kekurangan, rumah tangga mereka sangat harmonis, tenteram, damai, saling menghormati, saling mencintai, rukun dan penuh kasih sayang. Mereka tidak pernah mengeluh, semua dikerjakan bersama-sama dengan saling pengertian di posisi mereka masing-masing.
Kunci Rumah Tangga Sakinah
Dari cerita kehidupan di atas, kita memperoleh gambaran yang indah dari sebuah rumah tangga yang pondasi dan pilar-pilar kekuatannya dibangun dengan akhlaqul karimah. Dalam kehidupan rumah tangga, sesungguhnya suami-isteri memiliki hak dan kewajiban yang seimbang sesuai kodrat masing-masing. Dan keduanya dituntut menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Al Baqarah 228
Kewajiban suami kepada istri :
Memberi nafkah lahir (sandang, pangan dan papan), dan batin (kebutuhan biologis),
Mempergauli dengan baik dan bersikap seperti yang ia inginkan, selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Memberi pelajaran agama agar mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi segala laranganNya, serta mendidik untuk berperilaku terpuji.
Menghindari tindakan kekerasan dan sewenang-wenang.
Kewajiban istri kepada suami :
Taat dan patuh kepada suami, selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, antara lain:
tidak menolak apabila diajak untuk bersenggama,
tidak bepergian tanpa izin suami
tidak berpuasa sunnah tanpa izin suami
tidak memasukkan seorang laki-laki yang bukan mahramnya tanpa izin suami
senantiasa mencari kerelaan suami.
Menjaga kehormatan suami
Memelihara harta benda suami
Mengatur urusan rumah tangga dan ikut serta mendidik anak-anak
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah SWT menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah SWT yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah SWT selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An Nisa: 1)
Rabu, 30 Desember 2009
7 Perkara Para Penghuni Kubur
Terdapat seorang pemuda yang kerjanya adalah menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual.
Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang alim/ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah s.w.t
Dia berkata, "Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan aku ingin sekali bertaubat."
Yang pertama, aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telah membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" tanya pemuda itu.
Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah s.w.t. sewaktu hidupnya.
Allah s.w.t. pun menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, untuk membedakan mereka daripada golongan muslim yang lain," jawab ahli ibadah tersebut.
Sambung pemuda itu lagi, "Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok saat mereka dimasukkan ke dalam liang lahat. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telah bertukar menjadi ****.
Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?"
Jawab ahli ibadah tersebut, "Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan sholat sewaktu hidupnya.
Sesungguhnya sholat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika sempurna solat, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,"
Pemuda itu menyambung lagi, "Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa saja. Tetapi saat aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu menggelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak dari perutnya itu."
"Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda," balas ahli ibadah itu lagi.
Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?"
Jawab ahli ibadah itu, "Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang durhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah s.w.t. sama sekali tidak ridho kepada manusia yang mendurhakai ibu bapanya."
Ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuhnya," sambung pemuda itu.
Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka melakukan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari.
Bukankah Rasulullah s.a.w.pernah bersabda,
Barang siapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umatku," jelas ahli ibadah tersebut.
Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, pada siang hari liang lahatnya kering kerontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahatnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,"
Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya," jawab ahli ibadah tadi.
Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya.
Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?" tanya pemuda itu lagi. Jawab ahli ibadah tersebut, "Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka.
Inilah golongan yang memperoleh keridhaan dan kemuliaan di sisi Allah s.w.t. baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya."
Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah s.w.t kita datang dan kepadaNya jualah kita akan kembali.
Kita akan dipertanggungjawabk an atas setiap amal yang kita lakukan, hatta walaupun amalan sebesar zarah.
Pada suatu hari, pemuda tersebut berjumpa dengan seorang alim/ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan keinginan untuk bertaubat kepada Allah s.w.t
Dia berkata, "Sepanjang aku menggali kubur untuk mencuri kain kafan, aku telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran aku merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan aku ingin sekali bertaubat."
Yang pertama, aku lihat mayat yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila aku menggali semula kuburnya pada waktu malam, aku lihat wajahnya telah membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?" tanya pemuda itu.
Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah s.w.t. sewaktu hidupnya.
Allah s.w.t. pun menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, untuk membedakan mereka daripada golongan muslim yang lain," jawab ahli ibadah tersebut.
Sambung pemuda itu lagi, "Golongan yang kedua, aku lihat wajah mereka sangat elok saat mereka dimasukkan ke dalam liang lahat. Tatkala malam hari ketika aku menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telah bertukar menjadi ****.
Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?"
Jawab ahli ibadah tersebut, "Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan sholat sewaktu hidupnya.
Sesungguhnya sholat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika sempurna solat, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,"
Pemuda itu menyambung lagi, "Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang aku lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan seperti biasa saja. Tetapi saat aku menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu menggelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak dari perutnya itu."
"Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda," balas ahli ibadah itu lagi.
Golongan keempat, ku lihat mayat yang jasadnya bertukar menjadi batu bulat yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?"
Jawab ahli ibadah itu, "Wahai pemuda, itulah golongan manusia yang durhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah s.w.t. sama sekali tidak ridho kepada manusia yang mendurhakai ibu bapanya."
Ku lihat ada pula mayat yang kukunya amat panjang, hingga membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuhnya," sambung pemuda itu.
Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka melakukan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari.
Bukankah Rasulullah s.a.w.pernah bersabda,
Barang siapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umatku," jelas ahli ibadah tersebut.
Wahai guru, golongan yang keenam yang aku lihat, pada siang hari liang lahatnya kering kerontang. Tatkala malam ketika aku menggali semula kubur itu, ku lihat mayat tersebut terapung dan lahatnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,"
Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya," jawab ahli ibadah tadi.
Wahai guru, golongan yang terakhir yang aku lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya.
Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?" tanya pemuda itu lagi. Jawab ahli ibadah tersebut, "Wahai pemuda, mereka itulah golongan manusia yang berilmu. Dan mereka beramal pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka.
Inilah golongan yang memperoleh keridhaan dan kemuliaan di sisi Allah s.w.t. baik sewaktu hayatnya mahupun sesudah matinya."
Ingatlah, sesungguhnya daripada Allah s.w.t kita datang dan kepadaNya jualah kita akan kembali.
Kita akan dipertanggungjawabk an atas setiap amal yang kita lakukan, hatta walaupun amalan sebesar zarah.
Selasa, 29 Desember 2009
Abu Sufyan bin Harits, Habis Gelap Terbitlah Terang
Dipublikasi pada Kamis, 31 Januari 2008 oleh abufaiz97
Topik: Kisah Sahabat
Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: -- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa...!"
----------
Habis Gelap terbitlah Terang
Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka .... Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut ... !
Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ... ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.
Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.
Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja'far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah:
"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul'alamin .. . !"
Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ....
Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.
Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.
Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru:
"Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah . Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah".
Rasulullah pun menjawab:
"Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!"
Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: -- "Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini".
Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: "Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!"
Demikianlah hanya sekejap saat…! Rasulullah bersabda:
"Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!" Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas....
Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.
Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.
Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: - "Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana …!"
Ujar Abu Sufyan bin Harits: - "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka ...! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!"
-- yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin -
Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?
Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti .... Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul'alamin ... !
Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lain dan mengejar ketinggalannya selama ini....
Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulu!lah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.
Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya
berseru: "Hai manusia ... ! Saya ini Nabi dan tidak dusta... ! Saya adalah putra Abdul Mutthalib ... !"
Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja'far.
Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.
Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan mutlak.
Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling .... Kiranya didapatinya seorang Mu'min sedang memegang erat-erat tall kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.
Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: "Siapa ini ... ? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits... !" Dan demi didengarnya Rasulullah mengatakan "saudaraku", hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya ....
Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menyatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya: -
"Warga Ka'ab dan 'Amir sama mengetahui
Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai
Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati
Menejuni api peperangan tak pernah nyali
Semata mengharapkan keridla;in Ilahi
Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali".
Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi kematiantetap menjadi tumpuan hidupnya... !
Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi' sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya:
"Aku sedang menyiapkan kuburku ....".
Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: -- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa...!"
Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkatkannya sedikit keatas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini ...
Topik: Kisah Sahabat
Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: -- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa...!"
----------
Habis Gelap terbitlah Terang
Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka .... Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut ... !
Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ... ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.
Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.
Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja'far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah:
"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul'alamin .. . !"
Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ....
Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.
Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.
Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru:
"Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah . Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah".
Rasulullah pun menjawab:
"Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!"
Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: -- "Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini".
Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: "Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!"
Demikianlah hanya sekejap saat…! Rasulullah bersabda:
"Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!" Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas....
Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.
Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.
Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: - "Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana …!"
Ujar Abu Sufyan bin Harits: - "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka ...! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!"
-- yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin -
Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?
Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti .... Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul'alamin ... !
Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lain dan mengejar ketinggalannya selama ini....
Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulu!lah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.
Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya
berseru: "Hai manusia ... ! Saya ini Nabi dan tidak dusta... ! Saya adalah putra Abdul Mutthalib ... !"
Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja'far.
Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.
Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan mutlak.
Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling .... Kiranya didapatinya seorang Mu'min sedang memegang erat-erat tall kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.
Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: "Siapa ini ... ? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits... !" Dan demi didengarnya Rasulullah mengatakan "saudaraku", hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya ....
Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menyatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya: -
"Warga Ka'ab dan 'Amir sama mengetahui
Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai
Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati
Menejuni api peperangan tak pernah nyali
Semata mengharapkan keridla;in Ilahi
Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali".
Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi kematiantetap menjadi tumpuan hidupnya... !
Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi' sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya:
"Aku sedang menyiapkan kuburku ....".
Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: -- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa...!"
Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkatkannya sedikit keatas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini ...
Kisah Sahabat Bilal Al- Habsyi r.a
Posted by Bustamam Ismail on January 21, 2008
Bilal Al-Habsyi r.a adalah sahabat yang cukup terkenal. Ia seorang muadzin tetap di masjid Nabawi. Dahulunya ia seorang budak dan hamba sahaya milik seorang kafir Quraisy. Kemudian masuk Islam , dengan keislamannya ini menyebabkan ia banyak menanggung pederitaan dan mengakami siksaan dari orang-orang kafir.
Umayyah bin Khalaf adalah seorang kafir yang paling keras memusuhi umat Islam. Di atas padang pasir yang panas dan di tengah terik matahari yang menyengat. Bilal r.a ditelentangkan dengan ditindihkan batu yang besar didadanya sehingga ia tidak bias menggerakkan badannya sedikitpun, sambil dikatakan kepadanya “ Apakah kamu mau mati dalam keadaan demikian atau tetap hidup, dengan syarat engakau tinggalkan Islam?” Meskipun dalam keadaan demikian, ia tetap menyatakan Ahad,Ahad yaitu yang boleh disembah hanya satu. Pada malam harinya sambil diikat dengan rantai, ia dicambuki terus menerus, sehingga badannya penuh luka. Pada siang harinya dengan lukanya tersebut ia dibaringkan kembali di atas padang pasir panas sehinga penderitaannya bertambah berat disamping harus menanggung penderitaan karena luka-luka dibadannya. Tuannya berharap bahwa dengan cara seperti itu ia akan mati perlahan-lahan, kecuali jika ia mau meninggalkan Islam. Orang yang menyiksa bilal r.a selalu bergantian. Kadang-kadang Abu Jahal dan kadang-kadang Umayyah bin Khalaf, kadang orang lainnya ikut menyiksanya. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk menimpakan penderitaan yang lebih berat kepada Bilal r.a.
Ketika Abu Bakar As-Shiddiq r.a. melihat hal itu, Iapun membeli Bilal r.a dan langsung membebaskannya.
Kemudian beliau menjadi muadzin Rasulullah saw yang berkhidmat dalam menyerukan adzan untuk mendirikan shalat. Setelah Rasulullah wafat ia tinggal di Madinah Thayyibah. Tetapi ia merasa tidak tahan melihat bekas tempat Rasulullah saw yang kosong. Karena itu ia berniat di dalam hatinya, bahwa sisa-sisa hidupnya akan di habiskannya untuk berjihad dalam agama. Sehingga ia berniat untuk berangkat bersama-sama bergabung dengan lasykar jihad yang berperang fi sabilillah. Sampai beberapa waktu lamanya ia tidak kembali ke kota Madinah.
Suatu malam bermimpi bertemu Rasulullah saw belau berkata da;lam mimpinya,” wahai bilal, kezaliman apakah yang engkau lakukan sehingga engkau tidak mau menziarahiku?” Setelah bangun dari mimpinya, ia segera berangkat ke Madinah. Sesampainya disana, Hasan dan Husein r.a cucu Rasulullah , memintanya untuk mengumandangkan adzan. Permintaan orang yag dicintainya itu tidak dapat ditolak olehnya. Mulailah ia adzan, maka terdengarlah suara adzan seperti masa hidupnya Rasulullah saw. Suara itu sungguh menyentuh hati orang yang mendengarnya. Para wanita menangis, mereka keluar dari rumahnya untuk mendengarkannya.
Untuk beberapa hari, beliau tinggal di Madinah, setelah itu beliau kembali. Dan tahun kedua puluh hijriyah beliau wafat di Damsyiq. ( dikutip dari kisah sahabat oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a)
Bilal Al-Habsyi r.a adalah sahabat yang cukup terkenal. Ia seorang muadzin tetap di masjid Nabawi. Dahulunya ia seorang budak dan hamba sahaya milik seorang kafir Quraisy. Kemudian masuk Islam , dengan keislamannya ini menyebabkan ia banyak menanggung pederitaan dan mengakami siksaan dari orang-orang kafir.
Umayyah bin Khalaf adalah seorang kafir yang paling keras memusuhi umat Islam. Di atas padang pasir yang panas dan di tengah terik matahari yang menyengat. Bilal r.a ditelentangkan dengan ditindihkan batu yang besar didadanya sehingga ia tidak bias menggerakkan badannya sedikitpun, sambil dikatakan kepadanya “ Apakah kamu mau mati dalam keadaan demikian atau tetap hidup, dengan syarat engakau tinggalkan Islam?” Meskipun dalam keadaan demikian, ia tetap menyatakan Ahad,Ahad yaitu yang boleh disembah hanya satu. Pada malam harinya sambil diikat dengan rantai, ia dicambuki terus menerus, sehingga badannya penuh luka. Pada siang harinya dengan lukanya tersebut ia dibaringkan kembali di atas padang pasir panas sehinga penderitaannya bertambah berat disamping harus menanggung penderitaan karena luka-luka dibadannya. Tuannya berharap bahwa dengan cara seperti itu ia akan mati perlahan-lahan, kecuali jika ia mau meninggalkan Islam. Orang yang menyiksa bilal r.a selalu bergantian. Kadang-kadang Abu Jahal dan kadang-kadang Umayyah bin Khalaf, kadang orang lainnya ikut menyiksanya. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk menimpakan penderitaan yang lebih berat kepada Bilal r.a.
Ketika Abu Bakar As-Shiddiq r.a. melihat hal itu, Iapun membeli Bilal r.a dan langsung membebaskannya.
Kemudian beliau menjadi muadzin Rasulullah saw yang berkhidmat dalam menyerukan adzan untuk mendirikan shalat. Setelah Rasulullah wafat ia tinggal di Madinah Thayyibah. Tetapi ia merasa tidak tahan melihat bekas tempat Rasulullah saw yang kosong. Karena itu ia berniat di dalam hatinya, bahwa sisa-sisa hidupnya akan di habiskannya untuk berjihad dalam agama. Sehingga ia berniat untuk berangkat bersama-sama bergabung dengan lasykar jihad yang berperang fi sabilillah. Sampai beberapa waktu lamanya ia tidak kembali ke kota Madinah.
Suatu malam bermimpi bertemu Rasulullah saw belau berkata da;lam mimpinya,” wahai bilal, kezaliman apakah yang engkau lakukan sehingga engkau tidak mau menziarahiku?” Setelah bangun dari mimpinya, ia segera berangkat ke Madinah. Sesampainya disana, Hasan dan Husein r.a cucu Rasulullah , memintanya untuk mengumandangkan adzan. Permintaan orang yag dicintainya itu tidak dapat ditolak olehnya. Mulailah ia adzan, maka terdengarlah suara adzan seperti masa hidupnya Rasulullah saw. Suara itu sungguh menyentuh hati orang yang mendengarnya. Para wanita menangis, mereka keluar dari rumahnya untuk mendengarkannya.
Untuk beberapa hari, beliau tinggal di Madinah, setelah itu beliau kembali. Dan tahun kedua puluh hijriyah beliau wafat di Damsyiq. ( dikutip dari kisah sahabat oleh Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a)
Kisah Ali Bin Abi Thalib
Posted by Bustamam Ismail on January 27, 2008
Dalam perang uhud, orang orag islam mengalami sedikit kekalahan. Penyabab uatamanya adalah karena sebagian dari sahabat r.a tidak mentaati satu perintah Rasulullah saw sebagaimana telah dikisahkan pada bab satu kisah nomer dua pada halaman terdahulu. Pada saat itu, tentera kaum muslimin telah dikepung oleh orang orang kafir dari empat penjuru sehingga orang Islam atau sahabat r.a banyak yang gugur sebagai syuhada’ sebagai sasaran senjata mereka. Selain itu, banyak juga yang melarikan diri. Rasulullah saw sendiri berada dalam salah satu kepungan orang-orang kafir tersebut. Maka orang-orang kafir mengumumkan kepada orang banyak bahwa Rasulullah saw telah mati syahid. Berita ini telah membuat para sahabat sedikit panik dan kacau. Sebagian sahabat ada yang langsung melarikan diri, ada pula yang lari ke sana kemari tanpa arah. Akhirnya pasukan kaum muslimin menjadi terpecah belah dan kacau balau.
Ali r.a berkata” Ketika orang kafir telah mengepung kaum muslimin, saya tidak melihat Rasulullah saw. Maka saya segera mencari beliau di antara orang-orang yang masih hidup. Tetapi saya tidak menemukan beliau di antara mereka. Kemudian saya cari diantara mayat-mayat syuhada yang telah gugur mati syahid. Disana pun ternyata tidak ada. Tetapi saya berfikir tidaklah mungkin Rasulullah saw melarikan diri dari peperangan. Pada zhahirnya Allah swt telah melihat amal perbuatan kami dan Dia marah kepada kami, sehingga Allah telah mengangkat Rasul yang dicintai-Nya ke langit. Nampaknya inilah kemungkinan besar dan terbaik menurut saya.Saya tidak dapat mengira-ngira kemungkinan lain yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Saya segera mencabut pedang saya. Dengan gigih serta penuh semangat saya terjun ke kancah pertempuran melawan orang-orang kafir Quresy. Saya merasa bahwa saya akan mati dalam pertempuran tersebut. Saya terus bertempur dengan mereka sehingga saya telah membuat suatu jalan yang terbuka dari kepungan tersebut. Pada saat itulah saya melihat Rasulullah saw. Maka bukan main senangnya hati saya. Kemudian saya dapat memahami bahwa Allah swt melindungi kekasih-Nya ini melalui malaekat-malaeka-Nya. Akhirnya saya segera pergi mendekati Rasulullah saw dan berdiri di samping beliau saw.
Kemudian datanglah satu pasukan dari tentera kafir Quresy menyerang beliau saw. Rasulullah saw bersabda, “ Hai Ali, tahanlah mereka “ Saya langsung menghadapi serbuan pasukan musuh dengan segenap keberanian saya. Sehingga sebagian pasukan tersebut melarikan diri dan sebagian dapat saya bunuh. Kemudian datang lagi sekelompok pasukan yang kedua, yang berniat untuk membunuh Rasulullah saw”.
Rasulullah saw telah memberi isyarat kepada Ali r.a agar melawan mereka. Kemudian pasukan itu telah dilawan oleh Ali r.a seorang diri. Ketika berlangsung kejadian tersebut, malaekat Jibril telah datang kepada Ali r.a yan g masih muda belia da memuji keberaniannya dalam melindungi Rasulullah saw. Rasulullah bersabda” Sesungguhnya Ali adalah bagian saya dan saya bagian dari Ali”. Inilah satu isyarat yang menunjukkan betapa pentingnya kesatuan yang sempurna. Jibril juga berkata” saya adalah dari kalian berdua”
Dalam perang uhud, orang orag islam mengalami sedikit kekalahan. Penyabab uatamanya adalah karena sebagian dari sahabat r.a tidak mentaati satu perintah Rasulullah saw sebagaimana telah dikisahkan pada bab satu kisah nomer dua pada halaman terdahulu. Pada saat itu, tentera kaum muslimin telah dikepung oleh orang orang kafir dari empat penjuru sehingga orang Islam atau sahabat r.a banyak yang gugur sebagai syuhada’ sebagai sasaran senjata mereka. Selain itu, banyak juga yang melarikan diri. Rasulullah saw sendiri berada dalam salah satu kepungan orang-orang kafir tersebut. Maka orang-orang kafir mengumumkan kepada orang banyak bahwa Rasulullah saw telah mati syahid. Berita ini telah membuat para sahabat sedikit panik dan kacau. Sebagian sahabat ada yang langsung melarikan diri, ada pula yang lari ke sana kemari tanpa arah. Akhirnya pasukan kaum muslimin menjadi terpecah belah dan kacau balau.
Ali r.a berkata” Ketika orang kafir telah mengepung kaum muslimin, saya tidak melihat Rasulullah saw. Maka saya segera mencari beliau di antara orang-orang yang masih hidup. Tetapi saya tidak menemukan beliau di antara mereka. Kemudian saya cari diantara mayat-mayat syuhada yang telah gugur mati syahid. Disana pun ternyata tidak ada. Tetapi saya berfikir tidaklah mungkin Rasulullah saw melarikan diri dari peperangan. Pada zhahirnya Allah swt telah melihat amal perbuatan kami dan Dia marah kepada kami, sehingga Allah telah mengangkat Rasul yang dicintai-Nya ke langit. Nampaknya inilah kemungkinan besar dan terbaik menurut saya.Saya tidak dapat mengira-ngira kemungkinan lain yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Saya segera mencabut pedang saya. Dengan gigih serta penuh semangat saya terjun ke kancah pertempuran melawan orang-orang kafir Quresy. Saya merasa bahwa saya akan mati dalam pertempuran tersebut. Saya terus bertempur dengan mereka sehingga saya telah membuat suatu jalan yang terbuka dari kepungan tersebut. Pada saat itulah saya melihat Rasulullah saw. Maka bukan main senangnya hati saya. Kemudian saya dapat memahami bahwa Allah swt melindungi kekasih-Nya ini melalui malaekat-malaeka-Nya. Akhirnya saya segera pergi mendekati Rasulullah saw dan berdiri di samping beliau saw.
Kemudian datanglah satu pasukan dari tentera kafir Quresy menyerang beliau saw. Rasulullah saw bersabda, “ Hai Ali, tahanlah mereka “ Saya langsung menghadapi serbuan pasukan musuh dengan segenap keberanian saya. Sehingga sebagian pasukan tersebut melarikan diri dan sebagian dapat saya bunuh. Kemudian datang lagi sekelompok pasukan yang kedua, yang berniat untuk membunuh Rasulullah saw”.
Rasulullah saw telah memberi isyarat kepada Ali r.a agar melawan mereka. Kemudian pasukan itu telah dilawan oleh Ali r.a seorang diri. Ketika berlangsung kejadian tersebut, malaekat Jibril telah datang kepada Ali r.a yan g masih muda belia da memuji keberaniannya dalam melindungi Rasulullah saw. Rasulullah bersabda” Sesungguhnya Ali adalah bagian saya dan saya bagian dari Ali”. Inilah satu isyarat yang menunjukkan betapa pentingnya kesatuan yang sempurna. Jibril juga berkata” saya adalah dari kalian berdua”
Ayat Al-Qur’an pelembut hati yang keras( Kisah Umar r.a)
Posted by Bustamam Ismail on February 16, 2008
Seorang sahabat namanya hingga kini sangat membuat bangga kaum muslimin adalah Umar bin Khaththab r.a. Nama itu pulalah yang menyebabkan adanya semangat keimanan yang tinggi, sehingga membuat gentar hati kaum kafirin selama seribu empat ratus yag lalu hingga kini. Pada hal mulanya sebelum ia sendiri masuk Islam, ia sering mengganggu dan memerangi orang-orang yang masuk Islam. Ia sering menentang Nabi saw, bahkan ia pernah hendak membunuhnya.
Pada suatu hari, orang-orag kafir sedang mengadakan musyawarah sesame mereka. Mereka memusyawarahkan apakah ada orang yang siap untuk membunuh Muhammad saw . Umar menyahut, “Saya yang akan membunhnya.” Orang-orang menanggapi, “Benar engkaulah yang dapat melakukannhya.” Umar langsung menghunus pedangnya dan meninggalkan tempatnya. Ia berjalan dengan pikiran untuk membunuh Rasulullah saw. Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan salah seorang sahabat dari kabilah Zuhrah yang bernama Sa’ad bin Abi Waqas. Ia bertanya kepada Umar, “Hai Umar, engkau mau kemana?” Umar Menjawab “ Saya mau membunuh Muhammad saw,” Na’uzdubillah min zalik “Sa,ad menjawab. “ Jika demikian maka banu Hasyim, Banu Zuhrah dan Banu Abdi Manaf tidak akan tenang dengan tindakan kamu. Mereka akan menuntut balas dengan cara membunuhmu.” Umar terkejut dan gelisah dengan ancaman itu. Kemudian ia berkata,” Wahai, jadi nampaknya engkau juga sudah tidak menganut agama nenek moyang lagi.” Kalau begitu, engkaulah yang akan aku bunuh terlebih dahulu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu Umar menarik pedangnya dan Sa’ad r.a pun menyahut,” Ya, saya telah memeluk Islam.” Iapun langsung menghunus pedangnya.
Sebulum keduanya memainkan pedang masing-masing, Sa’ad .r.a sempat berkata,” Hai Umar,dengarkanlah terlebih dahulu khabar dari rumahmu, Saudara perempuanmu dan adik iparmu telah masuk Islam.” Mendengar berita ini, Umar r.a sangat marah dan langsung pergi menuju rumah saudara perempuannya.
Pada saat itu disana sedang ada sahabat Khabbab r.a . Dengan meutup pintu dan jendela, suami isteri sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Umar r.a berteriak minta dibukakan pintu. Mendengar suara Umar, Khabbab r.a langsung berlari untuk sembunyi. Ia segera meninggalkan lembaran-lembaran yang didalamnya tertulis ayat-ayat Al-Qur’an. Isterinya membukakan pintu rumah. Dengan tangan kosong Umar memukul kepala saudaranya sehingga kepala wanita itu mengeluarkan darah segar. Umar berkata,” Kamu telah berkhianat terhadap dirimu sendiri, Kamu telah mengikuti agama yang jelek itu.” Kemudian Umar memasuki rumah tersebut dan bertanya kepada saudara perempuannya,” Apa yang sedang kamu lakukan, suara siapakah yang terdengar tadi?” Saudara perempuannya menjawab, “ Kami sedang mengobrol biasa.” Umar berkata” Apakah kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu dan masuk agama yang baru?” Saudara iparnya menjawab, “ Bagaimana jika agama baru itu ternyata lebih baik?” Mendengar jawaban ini, Umar langsung menarik janggutnya dan mendorong hingga saudara iparnya terjatuh ditanah, Umar memukulinya sejadinya. Saudara perempuannya berusaha melerai tetapi justeru mendapatkan tanparan keras dari Umar di mukanya sehingga keluar darah segar dari bibirnya. Pada hal ia adalah saudara perempuan Umar sendiri.
Kemudian saudara perempuannya berkata,” hai Umar, Kami telah dipukuli hanya karena kami telah memeluk Islam. Memang benar bahwa kami telah memeluk Islam. Apa yang akan kamu lakukan terhadap kami, lakukanlah!. Setelah itu, pandanga Umar r.a tertuju kepada lembaran-lembaran ayat-ayat Al-Qur’an yang terletak begitu saja karena tertinggal. Umar yang pulanya sangat marah, sekarang sudah sedikit mereda dan ia merasa malu atas perbuatannya terhadap saudara perempuannya yang telah menyebabkan darah menetes di wajahnya.
Umar r.a berkata,” bagus,sekarang katakan, apakah ini?” Saudara perempuannya menjawab, “ Kamu tidak suci, Lembaran ini tidak boleh disentuh oleh tangan yang tidak suci.” Untuk beberapa saat Umar belum siap untuk mandi dan berwudhu. Tetapi kemudian Umar bersedia untuk melakukannya.
Setelah mandi dan berwudhu, Umar mengambil lembaran-lembaran tersebut dan membacanya. Ternyata di dalamnya terdapat surat Thaaha, ia terus membacanya sampai ayat:
اننى انا الله لا اله الا انا فاعبدنى واقم الصلوة لذكرى (طه)
Artinya” Aku Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Aku.Oleh karena itu sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”
Setelah selesai membaca ayat-ayat tersebut, keadaan Umar r.a langsung berubah dan ia berkata,” Sekarang antarkan aku kepada Muhammad saw. “ Mendengar perkataan itu, Khabbab r.a langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata,” Hai Umar,aku sampaikan kabar gembira untukmu. Kemaren pada malam Jum’at aku mendengar Rasulullah saw berdo’a, “ Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau Abu Jahal, Siapa saja yang lebih engkau sukai di antara keduanya. Umar dipertemukan pada shubuh hari Jum’at
Islamnya Umar r.a merupakan pukulan berat bagi kaum kafir Quresy. Meskipun demikian kaum muslimin barulah merupakah jama’ah yang sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kaum musyrkin di Makkah, apalagi bila dibandingkan dengan orang-orang kafir di seluruh Arab. Islamnya Umar r.a telah melahirkan semangat baru bagi kaum muslimin. Sedangkan kaum musyrikin semakin meningkatkan usaha mereka untuk menghentikannya. Berbagai macam cara telah mereka tempuh. Tetapi pada akhirnya kaum muslimin semakin bertambah keberaniannya sehingga mereka sudah berani shalat di Masjidil-Haram di Makkah.
Abdullah bin Mas’ud r.a menceritakan bahwa masuk Islamnya Umar merupakan suatu kemenangan bagi kaum muslimin, hijrahnya Umar adalah suatu pertolongan bagi kaum muslimin dan ke khalifahan Umar r.a adalah suatu rahmat bagi kaum muslimin. (Asadul ghabah)
Seorang sahabat namanya hingga kini sangat membuat bangga kaum muslimin adalah Umar bin Khaththab r.a. Nama itu pulalah yang menyebabkan adanya semangat keimanan yang tinggi, sehingga membuat gentar hati kaum kafirin selama seribu empat ratus yag lalu hingga kini. Pada hal mulanya sebelum ia sendiri masuk Islam, ia sering mengganggu dan memerangi orang-orang yang masuk Islam. Ia sering menentang Nabi saw, bahkan ia pernah hendak membunuhnya.
Pada suatu hari, orang-orag kafir sedang mengadakan musyawarah sesame mereka. Mereka memusyawarahkan apakah ada orang yang siap untuk membunuh Muhammad saw . Umar menyahut, “Saya yang akan membunhnya.” Orang-orang menanggapi, “Benar engkaulah yang dapat melakukannhya.” Umar langsung menghunus pedangnya dan meninggalkan tempatnya. Ia berjalan dengan pikiran untuk membunuh Rasulullah saw. Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan salah seorang sahabat dari kabilah Zuhrah yang bernama Sa’ad bin Abi Waqas. Ia bertanya kepada Umar, “Hai Umar, engkau mau kemana?” Umar Menjawab “ Saya mau membunuh Muhammad saw,” Na’uzdubillah min zalik “Sa,ad menjawab. “ Jika demikian maka banu Hasyim, Banu Zuhrah dan Banu Abdi Manaf tidak akan tenang dengan tindakan kamu. Mereka akan menuntut balas dengan cara membunuhmu.” Umar terkejut dan gelisah dengan ancaman itu. Kemudian ia berkata,” Wahai, jadi nampaknya engkau juga sudah tidak menganut agama nenek moyang lagi.” Kalau begitu, engkaulah yang akan aku bunuh terlebih dahulu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu Umar menarik pedangnya dan Sa’ad r.a pun menyahut,” Ya, saya telah memeluk Islam.” Iapun langsung menghunus pedangnya.
Sebulum keduanya memainkan pedang masing-masing, Sa’ad .r.a sempat berkata,” Hai Umar,dengarkanlah terlebih dahulu khabar dari rumahmu, Saudara perempuanmu dan adik iparmu telah masuk Islam.” Mendengar berita ini, Umar r.a sangat marah dan langsung pergi menuju rumah saudara perempuannya.
Pada saat itu disana sedang ada sahabat Khabbab r.a . Dengan meutup pintu dan jendela, suami isteri sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Umar r.a berteriak minta dibukakan pintu. Mendengar suara Umar, Khabbab r.a langsung berlari untuk sembunyi. Ia segera meninggalkan lembaran-lembaran yang didalamnya tertulis ayat-ayat Al-Qur’an. Isterinya membukakan pintu rumah. Dengan tangan kosong Umar memukul kepala saudaranya sehingga kepala wanita itu mengeluarkan darah segar. Umar berkata,” Kamu telah berkhianat terhadap dirimu sendiri, Kamu telah mengikuti agama yang jelek itu.” Kemudian Umar memasuki rumah tersebut dan bertanya kepada saudara perempuannya,” Apa yang sedang kamu lakukan, suara siapakah yang terdengar tadi?” Saudara perempuannya menjawab, “ Kami sedang mengobrol biasa.” Umar berkata” Apakah kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu dan masuk agama yang baru?” Saudara iparnya menjawab, “ Bagaimana jika agama baru itu ternyata lebih baik?” Mendengar jawaban ini, Umar langsung menarik janggutnya dan mendorong hingga saudara iparnya terjatuh ditanah, Umar memukulinya sejadinya. Saudara perempuannya berusaha melerai tetapi justeru mendapatkan tanparan keras dari Umar di mukanya sehingga keluar darah segar dari bibirnya. Pada hal ia adalah saudara perempuan Umar sendiri.
Kemudian saudara perempuannya berkata,” hai Umar, Kami telah dipukuli hanya karena kami telah memeluk Islam. Memang benar bahwa kami telah memeluk Islam. Apa yang akan kamu lakukan terhadap kami, lakukanlah!. Setelah itu, pandanga Umar r.a tertuju kepada lembaran-lembaran ayat-ayat Al-Qur’an yang terletak begitu saja karena tertinggal. Umar yang pulanya sangat marah, sekarang sudah sedikit mereda dan ia merasa malu atas perbuatannya terhadap saudara perempuannya yang telah menyebabkan darah menetes di wajahnya.
Umar r.a berkata,” bagus,sekarang katakan, apakah ini?” Saudara perempuannya menjawab, “ Kamu tidak suci, Lembaran ini tidak boleh disentuh oleh tangan yang tidak suci.” Untuk beberapa saat Umar belum siap untuk mandi dan berwudhu. Tetapi kemudian Umar bersedia untuk melakukannya.
Setelah mandi dan berwudhu, Umar mengambil lembaran-lembaran tersebut dan membacanya. Ternyata di dalamnya terdapat surat Thaaha, ia terus membacanya sampai ayat:
اننى انا الله لا اله الا انا فاعبدنى واقم الصلوة لذكرى (طه)
Artinya” Aku Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Aku.Oleh karena itu sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”
Setelah selesai membaca ayat-ayat tersebut, keadaan Umar r.a langsung berubah dan ia berkata,” Sekarang antarkan aku kepada Muhammad saw. “ Mendengar perkataan itu, Khabbab r.a langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata,” Hai Umar,aku sampaikan kabar gembira untukmu. Kemaren pada malam Jum’at aku mendengar Rasulullah saw berdo’a, “ Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau Abu Jahal, Siapa saja yang lebih engkau sukai di antara keduanya. Umar dipertemukan pada shubuh hari Jum’at
Islamnya Umar r.a merupakan pukulan berat bagi kaum kafir Quresy. Meskipun demikian kaum muslimin barulah merupakah jama’ah yang sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kaum musyrkin di Makkah, apalagi bila dibandingkan dengan orang-orang kafir di seluruh Arab. Islamnya Umar r.a telah melahirkan semangat baru bagi kaum muslimin. Sedangkan kaum musyrikin semakin meningkatkan usaha mereka untuk menghentikannya. Berbagai macam cara telah mereka tempuh. Tetapi pada akhirnya kaum muslimin semakin bertambah keberaniannya sehingga mereka sudah berani shalat di Masjidil-Haram di Makkah.
Abdullah bin Mas’ud r.a menceritakan bahwa masuk Islamnya Umar merupakan suatu kemenangan bagi kaum muslimin, hijrahnya Umar adalah suatu pertolongan bagi kaum muslimin dan ke khalifahan Umar r.a adalah suatu rahmat bagi kaum muslimin. (Asadul ghabah)
PEPERANGAN AQRABA DI YAMAMAH DAN KISAH TERBUNUHNYA MUSAILAMAH AL KADZDZAB
Posted by Bustamam Ismail on July 21, 2008
Banyak yang terjadi pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu’anhu, salah satunya adalah munculnya nabi palsu dan para pengikutnya. Mereka telah berbuat kerusakan di muka bumi ini. Mengatakan ada seorang rasul baru, seorang nabi baru, dan mengatakan bahwa ia telah menerima wahyu dari Allah. Sehingga banyaknya kaum murtad setelah wafatnya nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Setelah Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu’anhu memaafkan Kholid bin Walid atas perilakunya sebagai pemimpin yang terlalu cepat mencabut pedang. (lihat kisah pasukan Khalid yang diutus ke Bani Juzaimah dalam Shohih Al Bukhari, kitab Al Maghazi 8/57 dari Fathul Bari. Dan kita mighatul kalbi adalah tempat air yang diminum airnya langsung dengan memasukkan tempat tersebut ke dalam mulut untuk dijilat. Lihat Abu As Sa’adat Ibnu Atsir, an Nihayah fi Gharib Al Hadits 5/226), maka beliau mengutusnya untuk memerangi Bani Hanifah di Yamamah, dan melengkapinya dengan pasukan kaum muslimin.
Pimpinan kaum Anshar ketika itu adalah Tsabit bin Qais bin Syammas. Khalid mulai berjalan menuju Bani Hanifah. Tiap kali melewati kaum yang murtad, ia pasti menghabisinya. Ketika melewati pasukan berkuda milik Sajaah, Khalid menyerbu mereka hingga lari tercerai-berai dan akhirnya Khalid berhasil mengeluarkan mereka dari Jazirah Arab. Sementara itu Abu Bakar Ash Shiddiq menyertakan bala bantuan di belakang Khalid untuk menjaganya dari belakang. Sebelumnya Abu Bakar telah mengutus Ikrimah bin Abu Jahal dan Syarahbil bin Hasanah menuju Musailamah. Namun keduanya tidak mampu menghadapi Bani Hanifah disebabkan jumlah personil mereka yang amat banyak, yakni sekitar 40.000 personil. Ikrimah kembali sebelum kedatangan temannya, Syurahbil.
Tatkala mereka berpapasan di jalan, keduanya sepakat untuk berbalik. Adapun Musailamah, ketika mendengar kedatangan Khalid, dia menempatkan pasukannya di suatu tempat yang bernama Aqraba (Aqraba’ adalah salah satu tempat di bumi Yamamah yang posisinya berada di pinggir negeri itu, dan temrasuk ke dalam wilayah Al Aridh. (yaqut, 4/135)) di penghujung bumi Yamamah. Sementara perkampungan tepat di arah punggung mereka. Musailamah menggugah fanatisme kesukuan pasukannya. Bangkitlah fanatisme penduduk Yamamah memenuhi ajakannya. Musailamah menempatkan pada dua sayap pasukannya masing-masing Al Muhkam bin Thufail dan Ar Rajjal (Ibnu Atsir menyebutnya Ar Rahhal, namun Ar Rajjal yang lebih masyhur) bin Anfawah bin Nahsyal.
Sebelumnya Ar Rajjal adalah shahabat Musailamah yang pernah bresaksi bahwa dia pernah mendengar Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam menyatakan bahwa Musailamah telah mendapatkan wahyu seperti nabi. Akibat kesaksian palsunya itu-orang terlaknat ini-memiliki andil besar dalam menyesatkan penduduk Yamamah. Hingga akhirnya penduduk Yamamah mengikuti Musailamah, semoga Allah melaknat keduanya. Bahkan Ar Rajjal pernah datang menghadap rasululloh shallallahu’alaihi wa sllam dan sempat membaca surat Al Baqarah.
Pada waktu terjadi pemurtadan besar-besaran, Abu Bakar mengutusnya kepad apenduduk Yamamah untuk berdakwah menyeru mereka kepada Allah agar mereka tetap setia di atas Islam. Namun akhirnya ia turut murtad bersama Musailamah dan bersaksi bahwa Musailamah adalah nabi. Saif bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersama sekelompok orang. Di tengah kami hadir Ar Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gusinya di neraka lebih besar daripada gunung Uhud”. Kemudian aku perhatikan bahwa seluruh yang hadir telah wafat dan yang tinggal hanya aku dan Ar Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar Rajjal keluar mengikuti Musailamah dan menebarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. (Riwayat Ibnu Ishaq dianggap mursal disebabkan tidak diketahuinya (jahalah) perawi yang terdapat antara dirinya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dan riwayat yang ertama dihukumi lemah disebabkan Saif bin Umar At Tamimi dan gurunya).
Pasukan Khalid telah dekat, formasi pasukannya di depan dipimpin Syarhabil bin Hasanah, sementara di syap kiri dan kanan Zaid bin Abu Hudzaifah. Pasukan Islam yang terdepan yanglebih dahulu menemui musuh berjumlah sebanyak 40 prajurit -ada yang mengatakan 60 prajurit penunggang kuda- di malam hari di bawah pimpinan Majja’ah bin Murarah. Kali ini ia berangkat untuk membalas dendam terhadap Bani Tamim dan Bani Amir. Kemudian ketika kembali kepada kaumnya ia dan teman-temannya ditangkap oleh kaum muslimin dan dibawa kepada Khalid. Seluruhnya minta pengampunan Khalid, namun Khalid tidak percaya bahkan memerintahkan seluruhnya dibunuh kecuali Majja’ah. Ia dibiarkan hidup dalam keadaan terikat di sisi Khalid-karena keahliannya dalam siasat perang-. Apalagi ia merupakan pemipin yang dimuliakan dan dipatuhi oleh kaumnya.
Versi lain mengatakan bahwa keitka mereka dihadapkan pada Khalid, Khalid bertanya kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian Bani Hanifah?” Mereka serentak menjawab,”Dari kami seorang nabi dan dari kalian seorang nabi pula” Khalid membunuh mereka seluruhnya kecuali seseorang yang bernama Sariyah. Saryah berkata kepada Khalid, “Wahai bung, jika anda ingin berperang esok hari, bagaimanapun kondisi yang anda temui baik ataupun sebaliknya, naun biarkanlah satu orang ini hidup!”-yaitu Majja’ah bin Murarah-Oleh karena itulah Khalid membiarkannya hidup dalam keadaan terikat.
Ketika kedua pasukan bertemu, Musailamah berkata kepada kaumnya, “Hari ini adalah hari penentuan! Hari ini jika kalian kalah maka istri-istri kalian akan dinikahi orang lain dan ditawan, atau mereka akan dinikahi dengan paksa. Oleh karena itu berperanglah kalian untuk mempertahankan harga diri dan kaum wanita kalian”. Adapun kaum muslimin, mereka telah maju dan membuat pertahanan di perbatasan Yamamah. Di sana Khalid telah mendirikan tenda-tenda. Panji kaum Muhajirin dipegang oleh Salim Maula Abi Hudzaifah dan panji Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Orang-orang Arab juga membawa panji mereka, sementara Majja’ah terikat di dalam tenda.
Pertempuran antara kaum muslimin dan orang-orang kafir mulai berkobar, naun tiba-tiba terjadi serangan balik oleh pasukan Musailamah. Kaum muslimin terdesak hingga Bani Hanifah berhasil memasuki tenda Khalid bin Walid dan hampir membunuh Ummu Tamim, kalau tidak dilindungi oleh Majja’ah dan berkata, “Sesungguhnya wanita merdeka ini sangat mulia”. Pada waktu terjadinya serangan balik inilah Ar Rajjal bin ANfawah tewas terbunuh-semoga Allah melaknatnya-, ia dibunuh oleh Zaid bin Al Khaththab. Situasi semakin genting, sesama sahabat saling memberi semangat, Tsabit bin Qais bin Syammas berkata, “Alangkah jelek perbuatan kalian terhadap rekan-rekan kalian!” Ia mulai menyeru ke setiap penjuru, “Bantulah kami wahai Khalid!” sebagian dari kaum Muhajirin dan Anshar datang membantu. Disebutkan bahwa Al Barra bin Ma’rur jika melihat peperangan bergejolak semangatnya terbakar, maka dirinya akan bergetar hebat seoalh diserang al arwa(demam) ia segera duduk di atas punggung kendaraannya hingga terkencing-kencing dalam celana. Setelah itu ia menjerit laksana singa mengaum dan maju menyerang Bani Hanifah dengan penuh keberanian yang tidak ada tandingannya.
Para sahabat saling berwasiat satu sama lainnya dan saling berkata, “Wahai penghafal surat Al Baqarah hari ini sihir akan hancur!” Sementara Tsabit bin Qais telah menggali dua lubang dan mmebenamkan kedua kakinya ke dalamnya hingga sampai betisnya, dia mengenakan kain kafan lengkap dengan wangi-wangiannya sambil membawa panji Anshar dia tetap tegar di tempat itu hingga akhirnya terbunuh. Orang-orang Muhajirin berkata kepada Salim Maula Abu Hudzaifah, “Tidakkah engkau takut jika musuh berhasil menjebol pertahananmu?” ia berkata, “Kalau hal itu terjadi alangkah buruk diirku sebagai penghafal Al Qur’an”. Zaid bin Al Khaththab berkata, “Wahai saudara-saudara sekalian, gigit erat dengan geraham kalian dan bunuhlah musuh-musuh, majulah dan seranglah!” Ia juga berkata, “Demi Allah aku bersumpah tidak akan berbicara hingga Allah mengalahkan mereka atau aku bertemu denganNya dan akan aku sampaikan hujjahku!” Akhirnya ia terbunuh sebagai syahid. Abu Huzhaifah berkata, “Wahai Ahli Al Qur’an hiasilah Al Qur’an dengan perbuatan kalian!” Kemudian dia masuk menyerbu ke arah musuh hingga terbunuh.
Khalid bin Walid masuk menyerbu ke tempat musuh hingga melewati mereka, dia terus berjalan sambil mencari Musailamah, kemudian dia kembali dan berdiri di antara dua pasukan sambil menyeru untuk perang tanding, ia berteriak, “Aku adalah putera Al Walid AL Aud! Aku anak Ibnu Amir dan Zaid!” Kemudian ia memanggil dengan syiar kaum muslimin, yang ketika itu adalah Ya Muhammadah. Setiap kali ada yang maju melawannya pasti akan terbunuh olehnya, tidak ada yang mendekat kecuali psati akan dihabisinya. Waktu itu Khalid telah memisah-misahkan antara kaum Muhajirin, kaum Anshar, orang-orang Arab dan tiap tiap kabilah masing-masing membawa panji dan berperang di bawahnya. Dengan cara itu kelak akan diketahui dari mana musuh bisa memasuki pertahanan kaum muslimin. Pada paperangan ini tampak keuletan dan kesabaran para sahabat yang tiada tandingannya.
Mereka terus-menerus maju ke arah musuh hingga Allah menaklukkan musuh dan orang kafir lari tunggang-langgang. Kaum muslimin terus mengejar mereka sambil menebas leher-leher mereka, dan mengayunkan pedang ke arah mana saja yang mereka maui. Hingga akhirnya orang kafir terdesak sampai kepada kebun kematian, hadiqatul maut. Pemimpin Yamamah, Muhakkam bin Thufail-semoga Allah melaknatnya-telah memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam kebun, akhirnya seluruhnya masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat Musailamah Al Kadzdzab musuh Allah. Abdurrahman bin Abu Bakar berhasil mengejar Muhakkam bin Thufail dan berhasil membunuhnya dengan anak panah yang menghujam tepat di lehernya saat sedang berpidaot di depan kaumnya. Setelah seluruhnya masuk, Bani Hanifah mengunci pintu kebun tersebut, sementara di luar para sahabat telah mengepung mereka. Barra’ bin Malik kemudian berkata, “Wahai kaum Muslimin lemparkan aku ke dalam kebun!” Mereka membawanya di atas tameng besi dan mereka lempar beramai-ramai hingga melewati pagar kebun tersebut. Lantas Barra’ bin Malik terus bertempur hingga ia berhasil membuka pintunya. Akhirnya kaum muslimin berhasil masuk ke dalam kebun, baik dari pintunya maupun dari dindingnya, sambil membunuh orang-orang kafir penduduk Yamamah yang berada di dalamnya. Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat Musailamah yang terlaknat itu. Waktu itu dia sedang berdiri di salah satu pagar kebun yang bolong seolah-olah dia adalah seekor onta jantang yang gagah. Dia ingin bersandar dalam keadaan tidak tahu apa yang harus dilakukan karena kemarahannya memuncak.
Biasanya, jika setan datang maka dia akan mengeluarkan buih dari mulutnya. Wahsy bin Harb Maula Jubair bin Muth’im -pembunuh Hamzah- datang mendekatinya dengan cepat ia melemparkan tombaknya ke arah Musailamah tepat mengenainya hingga tembus ke sisi belakang. Dengan cepat ABu Dujanah SImak bin Kharasyah mendatanginya dan menebasnya dengan pedang hingga terjatuh.
Perempuan-perempuan dari dalam istana menjerit, “Aduhai malangnya nasib pemimpin kita, dia dibunuh oleh budak hitam” Jumlah yang terbunuh dari pihak musuh yang berada di dalam kebun maupun dalam pertempuran sebanyak 10.000 orang dan ada juga yang mengatakan sebanyak 21.000 orang. Adapun jumlah kaum muslimin yang terbunuh sebanyak 600 orang, ada yang mengatakan 500 orang. Wallahu’alam. Diantara yang terbunuh banyak terdapat shahabat Nabi yang senior.
Setelah itu Khalid memerintahkan pasukannya untku mengelilingi Yamamah sambil mengambil harta maupun tawanan yang berceceran. Khalid berkeinginan menyerbu benten musuh. Benteng itu telah punah kecuali kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang sudah tua. Hanya saja Khalid berhasil dikelabui oleh Majja’ah yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya benteng itu dipenuhi oleh para tentara! Lebih baik kita berdamai saja!” Khalid menerima tawaran itu, ia melihat pasukan kaum muslimin sudah letih dan bosan disebabkan peperangan yang terus-menerus.
Majja’ah berkata, “Biarkan aku masuk ke benteng agar mereka menyetujui kesepakatan damai yang aku buat”. Khalid berkata, “Pergilah!” Mjja’ah segera masuk benteng dan memerintahkan kaum wanita untuk memakai baju perang dan menampakkan kepala mereka dari atas benteng. Ketika itu Khalid melihat ke atas benteng, ia melihat seluruh benteng dipenuhi oleh kepala manusia yang sedang mengintip. Ia mengira mereka adalah pasukan perang sebagaimana yang dikatakan oleh Majja’ah, karena itulah ia memilih untuk berdamai. Setelah itu Khalid mengajak mereka masuk Islam, dan ternyata seluruhnya menerima tawaran tersebut. Akhirnya mereka kembali kepada kebenaran.
Bahkan Khalid mengembalikan kepada mereka sebagian dari harta rampasan dan tawanan perang. Selanjutnya sisanya dikirim kepada Abu Bakar Ash Shiddiq rahdiyallahu’anhu. Dalam peperangan ini Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu telah mengambil salah saeorang wanita mereka untuk diperisitri, yaitu Ibu dari anaknnya yang bernama Muhammad yang terkenal dengan nama Muhammad bin Hanafiyyah (lihat berita peperangan ini dalam Tarikh Ath Thabari 3/298, dan Tarikh Khalifah bin Khayyath hlmn 107-115). Tanggal dan terjadinya peristiwa ini: Khalifah bin Khayyat, Muhammad bin Jarir dan sebagian ulama salaf berkata, “Peristiwa peperangan Yamamah terjadi pada tahun 11 H, Ibnu Qani’ berkata, “Peperangan ini terjadi di penghujung tahun ini” Al Waqidi dan lain-lainnya berkata, “Peperangan ini terjadi pada tahun 12 H”. Cara menggabung kan dua riwayat ini, bahwa peprangan pada tahun 11 H dan baru selesai pada tahun 12 H.
(Al Bidayah Wan Nihayah, Al Hafizh Ibnu Katsir rahimulloh)
Banyak yang terjadi pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu’anhu, salah satunya adalah munculnya nabi palsu dan para pengikutnya. Mereka telah berbuat kerusakan di muka bumi ini. Mengatakan ada seorang rasul baru, seorang nabi baru, dan mengatakan bahwa ia telah menerima wahyu dari Allah. Sehingga banyaknya kaum murtad setelah wafatnya nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Setelah Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu’anhu memaafkan Kholid bin Walid atas perilakunya sebagai pemimpin yang terlalu cepat mencabut pedang. (lihat kisah pasukan Khalid yang diutus ke Bani Juzaimah dalam Shohih Al Bukhari, kitab Al Maghazi 8/57 dari Fathul Bari. Dan kita mighatul kalbi adalah tempat air yang diminum airnya langsung dengan memasukkan tempat tersebut ke dalam mulut untuk dijilat. Lihat Abu As Sa’adat Ibnu Atsir, an Nihayah fi Gharib Al Hadits 5/226), maka beliau mengutusnya untuk memerangi Bani Hanifah di Yamamah, dan melengkapinya dengan pasukan kaum muslimin.
Pimpinan kaum Anshar ketika itu adalah Tsabit bin Qais bin Syammas. Khalid mulai berjalan menuju Bani Hanifah. Tiap kali melewati kaum yang murtad, ia pasti menghabisinya. Ketika melewati pasukan berkuda milik Sajaah, Khalid menyerbu mereka hingga lari tercerai-berai dan akhirnya Khalid berhasil mengeluarkan mereka dari Jazirah Arab. Sementara itu Abu Bakar Ash Shiddiq menyertakan bala bantuan di belakang Khalid untuk menjaganya dari belakang. Sebelumnya Abu Bakar telah mengutus Ikrimah bin Abu Jahal dan Syarahbil bin Hasanah menuju Musailamah. Namun keduanya tidak mampu menghadapi Bani Hanifah disebabkan jumlah personil mereka yang amat banyak, yakni sekitar 40.000 personil. Ikrimah kembali sebelum kedatangan temannya, Syurahbil.
Tatkala mereka berpapasan di jalan, keduanya sepakat untuk berbalik. Adapun Musailamah, ketika mendengar kedatangan Khalid, dia menempatkan pasukannya di suatu tempat yang bernama Aqraba (Aqraba’ adalah salah satu tempat di bumi Yamamah yang posisinya berada di pinggir negeri itu, dan temrasuk ke dalam wilayah Al Aridh. (yaqut, 4/135)) di penghujung bumi Yamamah. Sementara perkampungan tepat di arah punggung mereka. Musailamah menggugah fanatisme kesukuan pasukannya. Bangkitlah fanatisme penduduk Yamamah memenuhi ajakannya. Musailamah menempatkan pada dua sayap pasukannya masing-masing Al Muhkam bin Thufail dan Ar Rajjal (Ibnu Atsir menyebutnya Ar Rahhal, namun Ar Rajjal yang lebih masyhur) bin Anfawah bin Nahsyal.
Sebelumnya Ar Rajjal adalah shahabat Musailamah yang pernah bresaksi bahwa dia pernah mendengar Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam menyatakan bahwa Musailamah telah mendapatkan wahyu seperti nabi. Akibat kesaksian palsunya itu-orang terlaknat ini-memiliki andil besar dalam menyesatkan penduduk Yamamah. Hingga akhirnya penduduk Yamamah mengikuti Musailamah, semoga Allah melaknat keduanya. Bahkan Ar Rajjal pernah datang menghadap rasululloh shallallahu’alaihi wa sllam dan sempat membaca surat Al Baqarah.
Pada waktu terjadi pemurtadan besar-besaran, Abu Bakar mengutusnya kepad apenduduk Yamamah untuk berdakwah menyeru mereka kepada Allah agar mereka tetap setia di atas Islam. Namun akhirnya ia turut murtad bersama Musailamah dan bersaksi bahwa Musailamah adalah nabi. Saif bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersama sekelompok orang. Di tengah kami hadir Ar Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda, “Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gusinya di neraka lebih besar daripada gunung Uhud”. Kemudian aku perhatikan bahwa seluruh yang hadir telah wafat dan yang tinggal hanya aku dan Ar Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar Rajjal keluar mengikuti Musailamah dan menebarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. (Riwayat Ibnu Ishaq dianggap mursal disebabkan tidak diketahuinya (jahalah) perawi yang terdapat antara dirinya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dan riwayat yang ertama dihukumi lemah disebabkan Saif bin Umar At Tamimi dan gurunya).
Pasukan Khalid telah dekat, formasi pasukannya di depan dipimpin Syarhabil bin Hasanah, sementara di syap kiri dan kanan Zaid bin Abu Hudzaifah. Pasukan Islam yang terdepan yanglebih dahulu menemui musuh berjumlah sebanyak 40 prajurit -ada yang mengatakan 60 prajurit penunggang kuda- di malam hari di bawah pimpinan Majja’ah bin Murarah. Kali ini ia berangkat untuk membalas dendam terhadap Bani Tamim dan Bani Amir. Kemudian ketika kembali kepada kaumnya ia dan teman-temannya ditangkap oleh kaum muslimin dan dibawa kepada Khalid. Seluruhnya minta pengampunan Khalid, namun Khalid tidak percaya bahkan memerintahkan seluruhnya dibunuh kecuali Majja’ah. Ia dibiarkan hidup dalam keadaan terikat di sisi Khalid-karena keahliannya dalam siasat perang-. Apalagi ia merupakan pemipin yang dimuliakan dan dipatuhi oleh kaumnya.
Versi lain mengatakan bahwa keitka mereka dihadapkan pada Khalid, Khalid bertanya kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian Bani Hanifah?” Mereka serentak menjawab,”Dari kami seorang nabi dan dari kalian seorang nabi pula” Khalid membunuh mereka seluruhnya kecuali seseorang yang bernama Sariyah. Saryah berkata kepada Khalid, “Wahai bung, jika anda ingin berperang esok hari, bagaimanapun kondisi yang anda temui baik ataupun sebaliknya, naun biarkanlah satu orang ini hidup!”-yaitu Majja’ah bin Murarah-Oleh karena itulah Khalid membiarkannya hidup dalam keadaan terikat.
Ketika kedua pasukan bertemu, Musailamah berkata kepada kaumnya, “Hari ini adalah hari penentuan! Hari ini jika kalian kalah maka istri-istri kalian akan dinikahi orang lain dan ditawan, atau mereka akan dinikahi dengan paksa. Oleh karena itu berperanglah kalian untuk mempertahankan harga diri dan kaum wanita kalian”. Adapun kaum muslimin, mereka telah maju dan membuat pertahanan di perbatasan Yamamah. Di sana Khalid telah mendirikan tenda-tenda. Panji kaum Muhajirin dipegang oleh Salim Maula Abi Hudzaifah dan panji Anshar dipegang oleh Tsabit bin Qais bin Syammas. Orang-orang Arab juga membawa panji mereka, sementara Majja’ah terikat di dalam tenda.
Pertempuran antara kaum muslimin dan orang-orang kafir mulai berkobar, naun tiba-tiba terjadi serangan balik oleh pasukan Musailamah. Kaum muslimin terdesak hingga Bani Hanifah berhasil memasuki tenda Khalid bin Walid dan hampir membunuh Ummu Tamim, kalau tidak dilindungi oleh Majja’ah dan berkata, “Sesungguhnya wanita merdeka ini sangat mulia”. Pada waktu terjadinya serangan balik inilah Ar Rajjal bin ANfawah tewas terbunuh-semoga Allah melaknatnya-, ia dibunuh oleh Zaid bin Al Khaththab. Situasi semakin genting, sesama sahabat saling memberi semangat, Tsabit bin Qais bin Syammas berkata, “Alangkah jelek perbuatan kalian terhadap rekan-rekan kalian!” Ia mulai menyeru ke setiap penjuru, “Bantulah kami wahai Khalid!” sebagian dari kaum Muhajirin dan Anshar datang membantu. Disebutkan bahwa Al Barra bin Ma’rur jika melihat peperangan bergejolak semangatnya terbakar, maka dirinya akan bergetar hebat seoalh diserang al arwa(demam) ia segera duduk di atas punggung kendaraannya hingga terkencing-kencing dalam celana. Setelah itu ia menjerit laksana singa mengaum dan maju menyerang Bani Hanifah dengan penuh keberanian yang tidak ada tandingannya.
Para sahabat saling berwasiat satu sama lainnya dan saling berkata, “Wahai penghafal surat Al Baqarah hari ini sihir akan hancur!” Sementara Tsabit bin Qais telah menggali dua lubang dan mmebenamkan kedua kakinya ke dalamnya hingga sampai betisnya, dia mengenakan kain kafan lengkap dengan wangi-wangiannya sambil membawa panji Anshar dia tetap tegar di tempat itu hingga akhirnya terbunuh. Orang-orang Muhajirin berkata kepada Salim Maula Abu Hudzaifah, “Tidakkah engkau takut jika musuh berhasil menjebol pertahananmu?” ia berkata, “Kalau hal itu terjadi alangkah buruk diirku sebagai penghafal Al Qur’an”. Zaid bin Al Khaththab berkata, “Wahai saudara-saudara sekalian, gigit erat dengan geraham kalian dan bunuhlah musuh-musuh, majulah dan seranglah!” Ia juga berkata, “Demi Allah aku bersumpah tidak akan berbicara hingga Allah mengalahkan mereka atau aku bertemu denganNya dan akan aku sampaikan hujjahku!” Akhirnya ia terbunuh sebagai syahid. Abu Huzhaifah berkata, “Wahai Ahli Al Qur’an hiasilah Al Qur’an dengan perbuatan kalian!” Kemudian dia masuk menyerbu ke arah musuh hingga terbunuh.
Khalid bin Walid masuk menyerbu ke tempat musuh hingga melewati mereka, dia terus berjalan sambil mencari Musailamah, kemudian dia kembali dan berdiri di antara dua pasukan sambil menyeru untuk perang tanding, ia berteriak, “Aku adalah putera Al Walid AL Aud! Aku anak Ibnu Amir dan Zaid!” Kemudian ia memanggil dengan syiar kaum muslimin, yang ketika itu adalah Ya Muhammadah. Setiap kali ada yang maju melawannya pasti akan terbunuh olehnya, tidak ada yang mendekat kecuali psati akan dihabisinya. Waktu itu Khalid telah memisah-misahkan antara kaum Muhajirin, kaum Anshar, orang-orang Arab dan tiap tiap kabilah masing-masing membawa panji dan berperang di bawahnya. Dengan cara itu kelak akan diketahui dari mana musuh bisa memasuki pertahanan kaum muslimin. Pada paperangan ini tampak keuletan dan kesabaran para sahabat yang tiada tandingannya.
Mereka terus-menerus maju ke arah musuh hingga Allah menaklukkan musuh dan orang kafir lari tunggang-langgang. Kaum muslimin terus mengejar mereka sambil menebas leher-leher mereka, dan mengayunkan pedang ke arah mana saja yang mereka maui. Hingga akhirnya orang kafir terdesak sampai kepada kebun kematian, hadiqatul maut. Pemimpin Yamamah, Muhakkam bin Thufail-semoga Allah melaknatnya-telah memberi isyarat agar mereka masuk ke dalam kebun, akhirnya seluruhnya masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat Musailamah Al Kadzdzab musuh Allah. Abdurrahman bin Abu Bakar berhasil mengejar Muhakkam bin Thufail dan berhasil membunuhnya dengan anak panah yang menghujam tepat di lehernya saat sedang berpidaot di depan kaumnya. Setelah seluruhnya masuk, Bani Hanifah mengunci pintu kebun tersebut, sementara di luar para sahabat telah mengepung mereka. Barra’ bin Malik kemudian berkata, “Wahai kaum Muslimin lemparkan aku ke dalam kebun!” Mereka membawanya di atas tameng besi dan mereka lempar beramai-ramai hingga melewati pagar kebun tersebut. Lantas Barra’ bin Malik terus bertempur hingga ia berhasil membuka pintunya. Akhirnya kaum muslimin berhasil masuk ke dalam kebun, baik dari pintunya maupun dari dindingnya, sambil membunuh orang-orang kafir penduduk Yamamah yang berada di dalamnya. Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat Musailamah yang terlaknat itu. Waktu itu dia sedang berdiri di salah satu pagar kebun yang bolong seolah-olah dia adalah seekor onta jantang yang gagah. Dia ingin bersandar dalam keadaan tidak tahu apa yang harus dilakukan karena kemarahannya memuncak.
Biasanya, jika setan datang maka dia akan mengeluarkan buih dari mulutnya. Wahsy bin Harb Maula Jubair bin Muth’im -pembunuh Hamzah- datang mendekatinya dengan cepat ia melemparkan tombaknya ke arah Musailamah tepat mengenainya hingga tembus ke sisi belakang. Dengan cepat ABu Dujanah SImak bin Kharasyah mendatanginya dan menebasnya dengan pedang hingga terjatuh.
Perempuan-perempuan dari dalam istana menjerit, “Aduhai malangnya nasib pemimpin kita, dia dibunuh oleh budak hitam” Jumlah yang terbunuh dari pihak musuh yang berada di dalam kebun maupun dalam pertempuran sebanyak 10.000 orang dan ada juga yang mengatakan sebanyak 21.000 orang. Adapun jumlah kaum muslimin yang terbunuh sebanyak 600 orang, ada yang mengatakan 500 orang. Wallahu’alam. Diantara yang terbunuh banyak terdapat shahabat Nabi yang senior.
Setelah itu Khalid memerintahkan pasukannya untku mengelilingi Yamamah sambil mengambil harta maupun tawanan yang berceceran. Khalid berkeinginan menyerbu benten musuh. Benteng itu telah punah kecuali kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang sudah tua. Hanya saja Khalid berhasil dikelabui oleh Majja’ah yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya benteng itu dipenuhi oleh para tentara! Lebih baik kita berdamai saja!” Khalid menerima tawaran itu, ia melihat pasukan kaum muslimin sudah letih dan bosan disebabkan peperangan yang terus-menerus.
Majja’ah berkata, “Biarkan aku masuk ke benteng agar mereka menyetujui kesepakatan damai yang aku buat”. Khalid berkata, “Pergilah!” Mjja’ah segera masuk benteng dan memerintahkan kaum wanita untuk memakai baju perang dan menampakkan kepala mereka dari atas benteng. Ketika itu Khalid melihat ke atas benteng, ia melihat seluruh benteng dipenuhi oleh kepala manusia yang sedang mengintip. Ia mengira mereka adalah pasukan perang sebagaimana yang dikatakan oleh Majja’ah, karena itulah ia memilih untuk berdamai. Setelah itu Khalid mengajak mereka masuk Islam, dan ternyata seluruhnya menerima tawaran tersebut. Akhirnya mereka kembali kepada kebenaran.
Bahkan Khalid mengembalikan kepada mereka sebagian dari harta rampasan dan tawanan perang. Selanjutnya sisanya dikirim kepada Abu Bakar Ash Shiddiq rahdiyallahu’anhu. Dalam peperangan ini Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu telah mengambil salah saeorang wanita mereka untuk diperisitri, yaitu Ibu dari anaknnya yang bernama Muhammad yang terkenal dengan nama Muhammad bin Hanafiyyah (lihat berita peperangan ini dalam Tarikh Ath Thabari 3/298, dan Tarikh Khalifah bin Khayyath hlmn 107-115). Tanggal dan terjadinya peristiwa ini: Khalifah bin Khayyat, Muhammad bin Jarir dan sebagian ulama salaf berkata, “Peristiwa peperangan Yamamah terjadi pada tahun 11 H, Ibnu Qani’ berkata, “Peperangan ini terjadi di penghujung tahun ini” Al Waqidi dan lain-lainnya berkata, “Peperangan ini terjadi pada tahun 12 H”. Cara menggabung kan dua riwayat ini, bahwa peprangan pada tahun 11 H dan baru selesai pada tahun 12 H.
(Al Bidayah Wan Nihayah, Al Hafizh Ibnu Katsir rahimulloh)
Kisah Juraij dan do’a ibunya.
Posted by Bustamam Ismail on December 24, 2009
Doa seorang ibu sungguh mustajab. Baik doa kebaikan ataupun doa buruk. Rosululloh pernah menyampaikan suatu kisah menarik berkaitan dengan doa ibu. Suatu kisah nyata yang terjadi pada masa sebelum Rosululloh yang patut diambil sebagai ibroh bagi orang-orang yang beriman.
Dahulu, ada tiga orang bayi yang bisa berbicara. Salah satunya adalah seorang bayi yang hidup pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah, dia memiliki sebuah tempat ibadah yang sekaligus jadi tempat tinggalnya.
Suatu ketika Juraij sedang melaksanakan sholat, tiba-tiba ibunya datang memanggilnya: “Wahai Juraij”. Dalam hatinya, Juraij bergumam: “Wahai Robbku, apakah yang harus aku dahulukan… meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?!”. Dalam kebimbangan, dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya sang ibu pulang.
Esok harinya, sang ibu datang lagi dan memanggil: “Wahai Juraij!”. Juraij yang saat itu pun sedang sholat bergumam dalam hatinya: “Wahai Robbku, apakah aku harus meneruskan
sholatku… Ataukah (memenuhi) panggilan ibuku?l”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya.
Sang ibu kembali pulang untuk-kedua kalinya. ketiga kalinya, ibunya datang lagi seraya memanggil: “Wahai Juraij!”. Lagi-lagi Juraij sedang menjalankan sholat. Dalam hatinya, ia bergumam: “Wahai Robbku, haruskah aku memilih meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya.
Akhirnya, dengan kecewa setelah tiga kali panggilannya tidak mendapat sahutan Bari anaknya, sang ibu berdoa: “Ya Alloh, janganlah engkau matikan Juraij hingga dia melihat wajah wanita pelacur”. Orang-orang Bani Israil (ketika itu) sering menyebut-nyebut nama Juraij serta ketekunan ibadahnya, sehingga ada seorang wanita pelacur berparas cantik jelita mengatakan: Jika kalian mau, aku akan menggodanya (Juraij). Wanita pelacur itupun kemudian merayu dan menawarkan diri kepada Juraij. Tetapi sedikitpun Juraij tak memperdulikannya. Namun apa yang kemudian dilakukan oleh wanita itu? Ia mendatangi seseorang yang tengah menggembala di sekitar tempat ibadah Juraij.
Lalu demi terlaksananya tipu muslihat, wanitu itu kemudian merayunya. Maka terjadilah perzinaan antara dia dengan penggembala itu. Hingga akhirnya wanita itu hamil. Dan manakala bayinya telah lahir, dia membuat pengakuan palsu dengan berkata kepada orang-orang: “Bayi ini adalah anak Juraij.” Mendengar hal itu, masyarakat percaya dan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah Juraij, memaksanya turun, merusak tempat ibadahnya dan memukulinya.
Juraij yang tidak tahu masalahnya bertanya dengan heran: “Ada apa dengan kalian?”. “Kamu telah berzina dengan wanita pelacur lalu dia sekarang melahirkan anakmu”, jawab mereka.
Maka, tahulah Juraij bahwa ini adalah makar wanita lacur itu. Lantas bertanya: “Dimana bayinya?”. Merekapun membawa bayinya. Juraij berkata: “Biarkan saya melakukan sholat dulu”,
kemudian dia berdiri sholat. Seusai menunaikan sholat, dia menghampiri si bayi lalu mencubit perutnya seraya bertanya: “Wahai bayi, siapakah ayahmu?”
Si bayi menjawab: “Ayahku adalah si fulan, seorang penggembala”.
Akhirnya, masyarakat bergegas menghampiri Juraij, mencium dan mengusapnya.Mereka minta maaf dan berkata: “Kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas”. Juraij mengatakan: “Tidak, bangun saja seperti semula yaitu dari tanah liat”. Lalu merekapun mengerjakannya.
Doa seorang ibu sungguh mustajab. Baik doa kebaikan ataupun doa buruk. Rosululloh pernah menyampaikan suatu kisah menarik berkaitan dengan doa ibu. Suatu kisah nyata yang terjadi pada masa sebelum Rosululloh yang patut diambil sebagai ibroh bagi orang-orang yang beriman.
Dahulu, ada tiga orang bayi yang bisa berbicara. Salah satunya adalah seorang bayi yang hidup pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah, dia memiliki sebuah tempat ibadah yang sekaligus jadi tempat tinggalnya.
Suatu ketika Juraij sedang melaksanakan sholat, tiba-tiba ibunya datang memanggilnya: “Wahai Juraij”. Dalam hatinya, Juraij bergumam: “Wahai Robbku, apakah yang harus aku dahulukan… meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?!”. Dalam kebimbangan, dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya sang ibu pulang.
Esok harinya, sang ibu datang lagi dan memanggil: “Wahai Juraij!”. Juraij yang saat itu pun sedang sholat bergumam dalam hatinya: “Wahai Robbku, apakah aku harus meneruskan
sholatku… Ataukah (memenuhi) panggilan ibuku?l”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya.
Sang ibu kembali pulang untuk-kedua kalinya. ketiga kalinya, ibunya datang lagi seraya memanggil: “Wahai Juraij!”. Lagi-lagi Juraij sedang menjalankan sholat. Dalam hatinya, ia bergumam: “Wahai Robbku, haruskah aku memilih meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya.
Akhirnya, dengan kecewa setelah tiga kali panggilannya tidak mendapat sahutan Bari anaknya, sang ibu berdoa: “Ya Alloh, janganlah engkau matikan Juraij hingga dia melihat wajah wanita pelacur”. Orang-orang Bani Israil (ketika itu) sering menyebut-nyebut nama Juraij serta ketekunan ibadahnya, sehingga ada seorang wanita pelacur berparas cantik jelita mengatakan: Jika kalian mau, aku akan menggodanya (Juraij). Wanita pelacur itupun kemudian merayu dan menawarkan diri kepada Juraij. Tetapi sedikitpun Juraij tak memperdulikannya. Namun apa yang kemudian dilakukan oleh wanita itu? Ia mendatangi seseorang yang tengah menggembala di sekitar tempat ibadah Juraij.
Lalu demi terlaksananya tipu muslihat, wanitu itu kemudian merayunya. Maka terjadilah perzinaan antara dia dengan penggembala itu. Hingga akhirnya wanita itu hamil. Dan manakala bayinya telah lahir, dia membuat pengakuan palsu dengan berkata kepada orang-orang: “Bayi ini adalah anak Juraij.” Mendengar hal itu, masyarakat percaya dan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah Juraij, memaksanya turun, merusak tempat ibadahnya dan memukulinya.
Juraij yang tidak tahu masalahnya bertanya dengan heran: “Ada apa dengan kalian?”. “Kamu telah berzina dengan wanita pelacur lalu dia sekarang melahirkan anakmu”, jawab mereka.
Maka, tahulah Juraij bahwa ini adalah makar wanita lacur itu. Lantas bertanya: “Dimana bayinya?”. Merekapun membawa bayinya. Juraij berkata: “Biarkan saya melakukan sholat dulu”,
kemudian dia berdiri sholat. Seusai menunaikan sholat, dia menghampiri si bayi lalu mencubit perutnya seraya bertanya: “Wahai bayi, siapakah ayahmu?”
Si bayi menjawab: “Ayahku adalah si fulan, seorang penggembala”.
Akhirnya, masyarakat bergegas menghampiri Juraij, mencium dan mengusapnya.Mereka minta maaf dan berkata: “Kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas”. Juraij mengatakan: “Tidak, bangun saja seperti semula yaitu dari tanah liat”. Lalu merekapun mengerjakannya.
UMAIR BIN SA’AD SAHABAT RASULULLAH saw….
Posted by Bustamam Ismail on May 21, 2008
“Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umar bin Sa’ad untuk membantu melola masyarakat kaum muslimin.” (Ucapan ’Umar bin Khatthab)
‘UMAIR BIN SA’AD AL ANSHARY, telah merasa hidup yatim dan miskin sejak ia masih kecil. Bapaknya meninggal dunia tanpa meninggalkan harta warisan yang mencukupi. Tetapi untunglah ibunya segera kawin kembali dengan seorang laki-laki kaya dari suku Aus, Al Julas bin Suwaid. Maka ‘Umair ditanggung oleh Julas dan dikumpulkannya ke dalam keluarganya.
Sejak itu ‘Umair menemukan jasa-jasa baik Julas, pemeliharaan yang bagus, keindahan belas-kasih, sehingga ‘Umair dapat melupakan bahwa ia telah yatim.
‘Umair menyayangi Julas sebagai layaknya sayang seorang anak kepada bapak. Begitu pula Julas, sangat menyintai ‘Umair sebagai lazimnya cinta bapak kepada anak. Setiap usia ‘Umair bertambah dan menjadi remaja, bertambah pula kasih sayang dan simpati Julas kepadanya, karena pembawaannya yang cerdas dan perbuatan mulia yang selalu diperlihatkannya, kehalusan budi pekerti, amanah dan jujur yang senantiasa diperagakannya.
‘Umair bin Sa’ad masuk Islam dalam usia yang sangat muda, kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit. Ketika itu Iman telah mantap dalam hatinya yang masih segar, lembut dan polos. Karena itu Iman melekat pada dirinya dengan kokoh. Dan Islam mendapatkan jiwanya yang bersih dan halus, bagaikan mendapatkan tanah subur. Dalam usia seperti itu ‘Umair tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ibunya senantiasa diliputi kegembiraan setiap melihat anaknya pergi atau pulang dari masjid, kadang-kadang bersama-sama suaminya dan kadang-kadang anaknya seorang diri.
Kehidupan ‘Umair bin Sa’ad di waktu kecil berjalan lancar, senang dan tenang, tidak ada yang mengeruhkan dan mengotori. Sehingga tiba masanya Allah menghendaki untuk mengembangkan jiwa anak kecil yang akan meningkat remaja ini dengan suatu latihan berat, dan mengujinya dengan ujian yang jarang dilalui anak-anak sebaya dia.
Tahun kesembilan hijriyah Rasulullah saw. mengumumkan hendak: memerangi tentara Rum di Tabuk (Tabuk, suatu tempat dalam wilayah pcmerintahan Syam. Di sana pernah terjadi peperangan yang sangat terkenal antara kaum muslimin dengan tentara Rum). Beliau memerintahkan kaum muslimin supaya bersiap-siap menghadapi peperangan tersebut. Biasanya bila Rasulullah hendak pergi berperang, beliau tidak pernah mengumumkan sasaran yang akan dituju, kecuali pada peperangan Tabuk. Rasulullah menjelaskan kepada kaum muslimin sasaran yang dituju, karena akan menempuh perjalanan jauh dan sulit, serta kekuatan musuh berlipat ganda, supaya kaum muslimin mengerti tugas mereka mempersiapkan diri menghadapi peperangan tersebut. Di samping itu musim panas telah mulai dengan suhu yang menyengat. Buah-buahan sudah berbuah dan mulai masak. Awan bagus. Setiap orang cenderung hendak berlambat-lambat
dan bermalas-malasan. Namun kaum muslimin yang setia dan patuh memperkenankan seruan Nabi mereka, mempersiapkan segala sesuatunya untuk perang dengan cepat dan cermat.
Lain lagi golongan munafik. Mereka sengaja mengulur-ulur waktu. Memandang enteng setiap hal yang penting-penting; membangkitkan keragu-raguan; bahkan mencela kebijaksanaan Rasulullah saw. dan mengucapkan kata-kata beracun di majelis-majelis khusus mereka, yang menimbulkan kekafiran.
Beberapa hari sebelum keberangkatan pasukan tentara muslimin ke medan perang Tabuk, Umair bin Sa’ad yang baru meningkat remaja pulang ke rumahnya sesudah shalat di masjid. Jiwanya sangat tergugah menyaksikan pengorbanan yang sangat gemilang, tulus dan ikhlas, dari sego-longan kaum muslimin, yang dilihat dan didengarnya dengan mata kepala dan telinganya sendiri. Dia menyaksikan para wanita muhajirat dan anshar, dengan spontan menyambut seruan Rasulullah. Mereka tanggalkan perhiasan mereka seketika itu juga, lalu diserahkannya kepada Rasulullah untuk biaya perang fi sabilillah. Dia menyaksikan dengan mata sendiri. ‘Utsman bin ‘Affan datang membawa pundi-pundi berisi ribuan dinar emas, lalu diserahkannya kepada Rasulullah. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf datang pula membawa dua ratus Uqiyah (1 Uqiyah = 1/2 tahil) emas dan diserahkannya kepada Nabi yang mulia. Bahkan dia melihat seorang laki-laki menjual tempat tidur untuk membeli sebuah pedang yang akan dibawa dan dipakainya berperang fi sabilillah.
Umair merasa bangga melihat kepatuhan dan pengorbanan yang amat mengesankannya itu. Sebaliknya dia amat heran melihat orang-orang yang bersikap acuh tak acuh melakukan persiapan untuk berangkat bersama-sama Rasulullah, dan mengundur-ngundur waktu menyerahkan sumbangan kepada beliau, padahal orang itu mampu dan cukup kaya melakukannya segerai mungkin. Karena itu jiwanya tergerak hendak membangkitkan semangat orang-orang yang lalai dan acuh tak acuh ini. Maka diceritakannya kepada mereka segala peristiwa yang dilihat dan di-dengarnya mengenai sumbangan dan pengorbanan golongan orang-orang mu’min yang patuh dan setia kepada Rasulullah, terutama cerita mengenai orang-orang yang datang kepada Rasulullah dengan beriba-iba memohon supaya mereka diterima menjadi anggota pasukan yang akan turut berperang. Tetapi Rasulullah menolak permohonan mereka, karena mereka tidak mempunyai kuda atau unta kendaraan sendiri. Lalu orang-orang itu pulang sambil menangis sedih, karena tidak mempunyai kendaraan untuk mencapai cita-cita mereka hendak turut berjihad dan membuktikan keinginannya memperoleh syahid.
Tetapi tatkala kaum munafik yang sengaja berlalai-lalai dan acuh tak acuh ini mendengar cerita ‘Umair yang dikiranya akan membangkitkan semangat juang dan pengorbanan mereka, malah sebaliknya ‘Umair menerima jawaban berupa kata-kata yang sungguh-sungguh membingungkan pemuda cilik yang mu’min ini. Mereka berkata, “Seandainya apa yang dikatakan Muhammad tentang kenabian itu benar adanya, tentulah kami lebih buruk daripada keledai.”
‘Umair sungguh bingung mendengar ucapan itu. Dia tidak menyangka sedikit juapun kata-kata seperti itu justru keluar dari mulut orang dewasa yang cerdas, Julas bin Suwaid, bapak tiri yang mengasuh dan membesarkannya selama ini; kata-kata yang nyata-nyata mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari Iman dan Islam, beralih menjadi kafir seketika itu juga, melalui pintu utama yang paling lebar.
Sementara kebingungan, anak itu juga memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya. Dia mengambil kesimpulan, bahwa Julas diam, tidak turut mengambil bagian dalam kegiatan persiapan perang, adalah suatu pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya; jelas membahayakan Islam, dan termasuk taktik kaum munafik yang ditiup-tiupkannya sesama mereka. Sedangkan melaporkan dan menyiarkan ucapan Julas, berarti mendurhakai orang yang selama ini telah dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri. Berarti pula membalas air susu dengan tuba. Demikian analisa ‘Umair.
Anak kecil itu merasa dia harus berani mengambil keputusan segera; melaporkan dan menyiarkan ucapan ayah tirinya atau diam seribu bahasa. Dia memilih melapor. Lalu dia berkata kepada Julas, “Demi Allah, hai Pak Julas! Tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih saya cintai selain dari Muhammad Rasulullah. Bahkan dia lebih saya cintai dari Bapak sendiri. Bapak memang sangat berjasa kepada saya, karena telah turun tangan membahagiakan saya. Tetapi Bapak telah mengucapkan kata-kata yang jika saya laporkan pasti akan memalukan Bapak. Sebaliknya jika saya diamkan berarti saya mengkhianati amanah yang akan mencelakakan diri serta agama saya. Sesungguhnya saya telah bertekad hendak melaporkan dan menyampaikan ucapan Bapak kepada Rasulullah, dan Bapak akan menjadi saksi nyata terhadap urusan Bapak sendiri.
‘Umair bin Sa’ad yang masih anak-anak pergi ke masjid, lalu dilaporkannya kepada Rasulullah kata-kata yang didengarnya sendiri dari bapak tirinya, Julas bin Suwaid. Rasulullah meminta ‘Umair supaya tinggal lebih dahulu dekat beliau. Sementara itu beliau menyuruh seorang sahabat memanggil Julas. Tidak berapa lama kemudian Julas pun datang. Rasulullah memanggilnya supaya duduk di hadapan beliau.
Beliau bertanya, “Betulkah Anda mengucapkan kata-kata seperti yang saya dengar dari ‘Umair bin Sa’ad?”
Jawab Julas, “Anak itu dusta, ya Rasulullah saya tidak pernah mengucapkan kata-kata demikian!”
Para sahabat memandang Julas dan ‘Umair bergantian, seolah-olah mereka ingin membaca di wajah keduanya apa sesungguhnya yang tersirat dalam hati mereka berdua. Lalu para sahabat berbisik-bisik sesama mereka, “Anak ini sungguh durhaka. Dia jahat terhadap orang yang telah berjasa besar mengasuh dan membesarkannya.”
Kata yang lain, “Tidak! Dia anak yang ta’at kepada Allah. Wajahnya cantik dan elok memancarkan cahaya iman, menunjukkan dia benar.”
Rasulullah menoleh kepada ‘Umair. Kelihatan oleh beliau wajah anak itu merah padam. Air matanya jatuh berderai di pipinya. Kata ‘Umair mendo’a, “Wahai Allah! Turunkanlah saksi kepada Nabi-Mu, bahwa aku benar.”
Kata Julas memperkuat pengakuannya, “Ya Rasululah sesungguhnya apa yang saya katakan kepada Anda tadi itulah yang benar. Jika Anda menghendaki, saya berani bersumpah di hadapan Anda. “Saya bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya saya tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti yang dilaporkan ‘Umair kepada Anda.”
Setelah Julas selesai mengucapkan sumpah, seluruh mata yang hadir memandang kepada ‘Umair bin Sa’ad, sehingga Rasulullah saw. diam sambil memicingkan mata, menunjukkan wahyu sedang turun. Para sahabat memaklumi hal itu. Mereka pun diam tidak berbunyi sedikit juapun. Tidak ada yang berkata-kata dan bergerak. Semua mata tertuju kepada Rasulullah saw.
Melihat Rasulullah kedatangan wahyu, Julas menjadi ketakutan. Dia menyesal dan menengok kepada ‘Umair. Situasi seperti itu berlangsung sampai wahyu selesai turun. Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat yang baru diterima beliau:
“Mereka bersumpah dengan (menyebut nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakannya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah memeluk Islam, dan mereka memutuskan apa yang tidak dapat. mereka jalankan (untuk membunuh Nabi saw., menghancurkan Islam dan kaum muslimin). Mereka mencela (Allah dan Rasul-Nya) tidak lain hanyalah karena Allah telah mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Tetapi jika mereka tobat, itulah yang paling baik bagi mereka, dan jika mereka membelakang, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan pembantu di muka bumi.”(Taubah,9:74)
Julas gemetar mendengar ayat yang sangat menakutkannya itu. Dia hampir tak dapat bicara karena terkejut. Kemudian dia berpaling kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “. Sayalah Saya tobat, ya Rasulullah . . . , saya tobat . . . ‘Umairlah yang benar, ya Rasulullah, sayalah yang dusta. Sudilah Anda memohonkan kepada Allah, semoga Dia menerima tobat saya. Saya bersedia menebus kesalahan saya, ya Rasulullah!”
Rasulullah menghadapkan mukanya kepada ‘Umair bin Sa’ad yang tiba-tiba bercucuran air mata gembira membasahi mukanya yang berseri oleh cahaya Iman. Lalu Rasulullah gembira mengulurkan tangannya yang mulia menarik telinga ‘Umair dengan lembut seraya berkata, “Telingamu cukup nyaring, nak! Allah membenarkan apa yang engkau dengar.”
Julas telah kembali ke dalam Islam dan menjadi muslim yang baik. Para sahabat telah sama mengetahui bagaimana besarnya jasa baik Julas mengasuh dan membesarkan ‘Umair selaku anak tiri. Dia bertanggung jawab penuh sebagai layaknya bapak kandung ‘Umair. Setiap kali orang menyebut nama ‘Umair di hadapannya, dia berkata dengan tulus, “Semoga Allah membalasi ‘Umair dengan segala kebajikan, karena dia telah membebaskan saya dari kekafiran dan dari api neraka.”
Kisah yang kita ceritakan ini, belum merupakan gambaran puncak dari kehidupan ‘Umair, melainkan baru merupakan gambaran kehidupannya waktu kecil. Marilah kita lihat gambaran kehidupannya yang lebih gemilang dan indah di waktu mudanya.
Barusan telah kita lihat dengan jelas bentuk kehidupan sahabat yang mulia, ‘Umair bin Sa’ad, waktu dia masih kanak-kanak. Sekarang marilah kita lihat bentuk kehidupannya yang cemerlang saat dia telah diewasa. Anda akan menyaksikan kehidupannya tahap kedua ini tidak kurang gemilangnya dari tahap pertama, agung dan megah.
JADI GUBERNUR HIMS
Penduduk Himsh sangat kritis terhadap para pembesar mereka, sehingga mereka sering mengadu kepada khalifah. Setiap pembesar yang baru datang memerintah, ada saja celanya bagi mereka. Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu, lalu dilaporkannya kepada khalifah, dan minta diganti dengan yang lebih baik.
Karena itu Khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat, dan yang namanya belum pernah rusak untuk menjadi Gubernur di sana. Lalu beliau sebar pembantu-pembantunya melihat-lihat orang yang paling tepat. Maka tidak diperolehnya orang yang lebih baik, selain dari Umair bin Sa’ad. Tetapi sayang, ‘Umair ketika itu sedang bertugas memimpin pasukannya berperang fi sabilillah di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil membebaskan beberapa kota, menghancurkan beberapa benteng, mendudukkan beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang dilaluinya.
Saat seperti itulah Amirul Mu’minin memanggilnya kembali ke Madinah, untuk memangku jabatan Gubernur di Himsh. khalifah ‘Umar memerintahkannya supaya segera berangkat ke Himsh. ‘Umair menerima perintah tersebut dengan hati enggan, karena baginya tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah.
Setibanya di Himsh, dipanggilnya orang banyak berkumpul ke masjid untuk shalat berjama’ah. Selesai shalat dia berpidato. Mula-mula dia memuji Allah dan mengucapkan salawat untuk Nabi. Kemudian dia berkata:
“Hai, manusia! Sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kokoh, dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan, dan pintunya ialah kebenaran (al haq). Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, maka pertahanan agama ini akan sirna. Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang hak.”
Selesai berpidato, dia langsung bertugas sesuai dengan khiththah yang telah digariskannya dalam pidatonya yang singkat itu.
‘Umair bin Sa’ad bertugas sebagai Gubernur di Himsh hanya setahun penuh. Selama itu tak sepucuk pun dia menulis surat kepada Amirul Mu’minin. Dan tidak satu dinar atau satu dirham pun dia menyetorkan pajak ke Baitul Maal Muslimin (Perbendaharaan Negara) di Madinah. Karena itu timbul curiga di hati Khalifah Umar. Dia sangat kuatir kalau-kalau pemerintahan yang dipimpin ‘Umair mengalami bencana (menyelewengkan uang negara) karena tidak ada orang yang ma’shum (terpilihara dari dosa) selain Rasulullah saw. Lalu beliau perintahkan sekretaris negara menulis surat kepada Gubernur ‘Umair.
Kata Khalifah Umar, “Tulis surat kepada ‘Umair, katakan kepadanya: “Bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkan Himsh dan segera datang menghadap Amirul Mu’minin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin!”
Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur ‘Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudhu’ dalam perjalanan. Lalu dia berangkat meninggalkan Himsh, para pembesar dan rakyat yang dipimpinnya. Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh.
‘Umair segera masuk menghadap Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab. Khalifah Umar terkejut melihat keadaan ‘Umair, lalu bertanya, “Bagaimana keadaan Anda, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Tidak kurang suatu apa. Saya sehat dan ‘afiat. Alhamdulillah! Saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya.”
Tanya Khalifah Umar, “Dunia manakah yang Anda bawa?” (Khalifah menduga, dia membawa uang setoran pajak untuk Baitul Maal).
Jawab ‘Umair, “Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudhu’, untuk membasahi kepala dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang Iain-lain tidak saya perlukan.”
Tanya Khalifah, “Apakah Anda datang berjalan kaki?”
Jawab, “Betul, ya Amirul Mu’minin!”
Tanya, “Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?”
Jawab, “Tidak! Mereka tidak memberi saya, dan saya tidak pula memintanya dari mereka.”
Tanya, “Mana setoran yang Anda bawa untuk Baitul Maal?”
Jawab, “Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Maal.”
Tanya, “Mengapa?”
Jawab, “Sejak saya mulai tiba di Himsh, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya, saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan, dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak.”
Khalifah ‘Umar berkata kepada jurutulis, ”Perpanjang masa jabatan ‘Umair sebagai Gubernur Hismh!”
Kata ‘Umair, “Ma’af, Khalifah! Saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai sa’at ini, saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah anda, ya Amirul Mu’minin.”
Kemudian ‘Umair minta izin untuk pergi ke sebuah di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Lalu Khalifah mengizinkannya.
Belum begitu lama ‘Umair tinggal di dusun tersebut, Khalifah ‘Umar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, bagaimana kehidupannya dan apa yang diusahakannya. Lalu diperintahkannya Al Harits, seorang kepercayaan Khalifah, “Pergilah engkau menemui ‘Umair, tinggallah di rumahnya selama tiga hari sebagai tamu. Bila engkau lihat keadaannya bahagia penuh ni’mat, kembalilah sebagaimana engkau datang. Dan jika engkau lihat keadaannya melarat, berikan uang ini kepadanya!”
Khalifah ‘Umar memberikan sebuah pundi berisi seratus dinar kepada Al Harits.
Al Harits pergi ke dusun tempat Umair tinggal. Dia bertanya-tanya ke sana-sini di mana rumah ‘Umair. Setelah bertemu, Al Harits mengucapkan salam, ”Assalamu’alaika wa rahmatullah.”
Jawab ‘Umair, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Anda datang dari mana?”
Jawab Harits, “Dari Madinah!”
Tanya ‘Umair, “Bagaimana keadaan kaum muslimin sepeninggal anda?”
Jawab Harits, “Baik-baik saja.”
Tanya, “Bagaimana kabar Amirul Mu’minin?”
Jawab, “Alhamdulillah, baik.”
Tanya, “Adakah ditegakkannya hukum?”
Jawab, “Tentu, malahan baru-baru ini dia menghukum dera anaknya sendiri sampai mati, karena bersalah melakukan perbuatan keji.”
Kata ‘Umair, “Wahai Allah, tolonglah ‘Umar. Saya tahu sungguh, dia sangat mencintai-Mu, wahai Allah!”
Al Harits menjadi tamu ‘Umair selama tiga malam. Tiap malam Harits hanya dijamu dengan sebuah roti terbuat dari gandum. Pada hari ketiga, seorang laki-laki kampung berkata kepada Harits, “Sesungguhnya Anda telah menyusahkan ‘Umair dan keluarganya. Mereka tidak punya apa-apa selain roti yang disuguhkannya kepada Anda. Mereka lebih mementingkan Anda, walaupun dia sekeluarga harus menahan lapar. Jika Anda tidak keberatan, sebaiknyalah Anda pindah ke rumah saya menjadi tamu saya.”
Al Harits mengeluarkan pundi-pundi uang dinar, lalu diberikannya kepada ‘Umair.
Tanya ‘Umair, “Apa ini?”
Jawab Harits, ”Amirul Mu’minin mengirimkannya untuk Anda!”
Kata ‘Umair, “Kembalikan saja uang itu kepada beliau. Sampaikan salamku, dan katakan kepada beliau bahwasanya aku tidak membutuhkan uang itu.”
Isteri ‘Umair yang mendengar percakapan suaminya dengan Harits berteriak, “Terima saja, hai ‘Umair! Jika engkau butuh sesuatu engkau dapat membelanjakannya.
Jika tidak, engkau pun dapat membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Di sini banyak orang-orang yang butuh.”
Mendengar ucapan isteri ‘Umair, Harits meletakkan uang itu di hadapan ‘Umair, kemudian dia pergi. ‘Umair memungut uang itu lalu dimasukkannya ke dalam beberapa pundi-pundi kecil. Dia tidak tidur sampai tengah malam sebelum uang itu habis dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sangat diutamakannya memberikan kepada ank-anak yatim yang orang tuanya tewas sebagai syuhada’ di medan perang fi sabilillah.
Al Harits kembali ke Madinah. Setibanya di Madinah, Khalifah ‘Umar bertanya, “Bagaimana keadaan ‘Umair?”
Jawab Harits, “Sangat menyedihkan, ya Amirul Mu minin.”
Tanya Khalifah, “Sudah engkau berikan uang itu kepadanya?”
Jawab, “Ya, sudah ku berikan.”
Tanya, “Apa yang dibuatnya dengan uang itu?”
Jawab, “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira, uang itu mungkin hanya tinggal satu dirham saja lagi untuknya.”
Khalifah ‘Umar menulis surat kepada ‘Umair, katanya, “Bila surat ini selesai Anda baca, maka janganlah Anda letakkan sebelum datang menghadap saya.”
‘Umair bin Sa’ad datang ke Madinah memenuhi panggilan khalifah. Sampai di Madinah dia Iangsung menghadap Amirul Mu’minin. Khalifah ‘Umar mengucapkan selamat datang dan memberikan alas duduk yang dipakainya kepada ‘Umair, sebagai penghormatan.
Tanya khalifah, “Apa yang Anda perbuat dengan uang itu, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Apa maksud Anda menanyakan, sesudah uang itu Anda berikan kepadaku?”
Jawab khalifah, “Saya hanya ingin tahu, barangkali Anda mau menceritakannya.”
Jawab ‘Umair, “Uang itu saya simpan untuk saya yang menonjol di universitas Muhammad bin ‘Abdullah sendiri, dan akan saya manfa’atkan nanti pada suatu hari, ketika harta dan anak-anak tidak bermanfa’at lagi, yaitu hari kiamat.”
Mendengar jawaban ‘Umair, Khalifah ‘Umar menangis sehingga air matanya jatuh bercucuran. Katanya, “Saya menjadi saksi, bahwa sesungguhnya Anda tergolong orang-orang yang mementingkan orang-orang lain sekalipun diri Anda sendiri melarat.”
Kemudian khalifah menyuruh seseorang mengambil satu wasq (Satu Wasq, kira-kira enam puluh sha’ (gantang), atau kira-kiia seberat beban seekor unta) pangan dan dua helai pakaian, lalu diberikan-nya kepada ‘Umair.
Kata ‘Umair, “Kami tidak membutuhkan makanan, ya Amirul Mu’minin. Saya ada meninggalkan dua sha’ gandum untuk keluarga saya. Mudah-mudahan itu cukup untuk makan kami sampai Allah Ta’ala memberi lagi rezki untuk kami. Tetapi pakaian ini saya terima untuk isteri saya, karena pakaiannya sudah terlalu usang, sehingga dia hampir telanjang.”
Tidak lama sesudah pertemuan ‘Umair dengan khalifah, maka Allah mengizinkan ‘Umair untuk bertemu dengan Nabi yang sangat dicintai dan dirindukannya, yaitu Muhammad bin ‘Abdullah, Rasulullah, ‘Umair pergi menempuh jalan akhirat, mempertaruhkan jiwa raganya dengan langkah-langkah yang senantiasa mantap. Dia tidak membawa beban berat di punggung, berupa kemewahan dunia. Tetapi dia pergi dengan cahaya Allah yang selalu membimbingnya, wara’ dan taqwa.
Ketika Khalifah ‘Umar mendengar kematian ‘Umair, bukan main main sedihnya, sehingga dia mengurut dada karena menyesal. Kata khalifah, “Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umair bin Sa’ad, untuk membantu saya melola masyarakat kaum muslimin.”
Semoga Allah meredhai ‘Umair bin Sa’ad, dan semoga dia senang dalam keredhaan-Nya. Dia telah menempuh cara yang diambilnya sendiri di antara sekian banyak orang. Dan dia adalah bekas mahasiswa …
“Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umar bin Sa’ad untuk membantu melola masyarakat kaum muslimin.” (Ucapan ’Umar bin Khatthab)
‘UMAIR BIN SA’AD AL ANSHARY, telah merasa hidup yatim dan miskin sejak ia masih kecil. Bapaknya meninggal dunia tanpa meninggalkan harta warisan yang mencukupi. Tetapi untunglah ibunya segera kawin kembali dengan seorang laki-laki kaya dari suku Aus, Al Julas bin Suwaid. Maka ‘Umair ditanggung oleh Julas dan dikumpulkannya ke dalam keluarganya.
Sejak itu ‘Umair menemukan jasa-jasa baik Julas, pemeliharaan yang bagus, keindahan belas-kasih, sehingga ‘Umair dapat melupakan bahwa ia telah yatim.
‘Umair menyayangi Julas sebagai layaknya sayang seorang anak kepada bapak. Begitu pula Julas, sangat menyintai ‘Umair sebagai lazimnya cinta bapak kepada anak. Setiap usia ‘Umair bertambah dan menjadi remaja, bertambah pula kasih sayang dan simpati Julas kepadanya, karena pembawaannya yang cerdas dan perbuatan mulia yang selalu diperlihatkannya, kehalusan budi pekerti, amanah dan jujur yang senantiasa diperagakannya.
‘Umair bin Sa’ad masuk Islam dalam usia yang sangat muda, kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit. Ketika itu Iman telah mantap dalam hatinya yang masih segar, lembut dan polos. Karena itu Iman melekat pada dirinya dengan kokoh. Dan Islam mendapatkan jiwanya yang bersih dan halus, bagaikan mendapatkan tanah subur. Dalam usia seperti itu ‘Umair tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ibunya senantiasa diliputi kegembiraan setiap melihat anaknya pergi atau pulang dari masjid, kadang-kadang bersama-sama suaminya dan kadang-kadang anaknya seorang diri.
Kehidupan ‘Umair bin Sa’ad di waktu kecil berjalan lancar, senang dan tenang, tidak ada yang mengeruhkan dan mengotori. Sehingga tiba masanya Allah menghendaki untuk mengembangkan jiwa anak kecil yang akan meningkat remaja ini dengan suatu latihan berat, dan mengujinya dengan ujian yang jarang dilalui anak-anak sebaya dia.
Tahun kesembilan hijriyah Rasulullah saw. mengumumkan hendak: memerangi tentara Rum di Tabuk (Tabuk, suatu tempat dalam wilayah pcmerintahan Syam. Di sana pernah terjadi peperangan yang sangat terkenal antara kaum muslimin dengan tentara Rum). Beliau memerintahkan kaum muslimin supaya bersiap-siap menghadapi peperangan tersebut. Biasanya bila Rasulullah hendak pergi berperang, beliau tidak pernah mengumumkan sasaran yang akan dituju, kecuali pada peperangan Tabuk. Rasulullah menjelaskan kepada kaum muslimin sasaran yang dituju, karena akan menempuh perjalanan jauh dan sulit, serta kekuatan musuh berlipat ganda, supaya kaum muslimin mengerti tugas mereka mempersiapkan diri menghadapi peperangan tersebut. Di samping itu musim panas telah mulai dengan suhu yang menyengat. Buah-buahan sudah berbuah dan mulai masak. Awan bagus. Setiap orang cenderung hendak berlambat-lambat
dan bermalas-malasan. Namun kaum muslimin yang setia dan patuh memperkenankan seruan Nabi mereka, mempersiapkan segala sesuatunya untuk perang dengan cepat dan cermat.
Lain lagi golongan munafik. Mereka sengaja mengulur-ulur waktu. Memandang enteng setiap hal yang penting-penting; membangkitkan keragu-raguan; bahkan mencela kebijaksanaan Rasulullah saw. dan mengucapkan kata-kata beracun di majelis-majelis khusus mereka, yang menimbulkan kekafiran.
Beberapa hari sebelum keberangkatan pasukan tentara muslimin ke medan perang Tabuk, Umair bin Sa’ad yang baru meningkat remaja pulang ke rumahnya sesudah shalat di masjid. Jiwanya sangat tergugah menyaksikan pengorbanan yang sangat gemilang, tulus dan ikhlas, dari sego-longan kaum muslimin, yang dilihat dan didengarnya dengan mata kepala dan telinganya sendiri. Dia menyaksikan para wanita muhajirat dan anshar, dengan spontan menyambut seruan Rasulullah. Mereka tanggalkan perhiasan mereka seketika itu juga, lalu diserahkannya kepada Rasulullah untuk biaya perang fi sabilillah. Dia menyaksikan dengan mata sendiri. ‘Utsman bin ‘Affan datang membawa pundi-pundi berisi ribuan dinar emas, lalu diserahkannya kepada Rasulullah. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf datang pula membawa dua ratus Uqiyah (1 Uqiyah = 1/2 tahil) emas dan diserahkannya kepada Nabi yang mulia. Bahkan dia melihat seorang laki-laki menjual tempat tidur untuk membeli sebuah pedang yang akan dibawa dan dipakainya berperang fi sabilillah.
Umair merasa bangga melihat kepatuhan dan pengorbanan yang amat mengesankannya itu. Sebaliknya dia amat heran melihat orang-orang yang bersikap acuh tak acuh melakukan persiapan untuk berangkat bersama-sama Rasulullah, dan mengundur-ngundur waktu menyerahkan sumbangan kepada beliau, padahal orang itu mampu dan cukup kaya melakukannya segerai mungkin. Karena itu jiwanya tergerak hendak membangkitkan semangat orang-orang yang lalai dan acuh tak acuh ini. Maka diceritakannya kepada mereka segala peristiwa yang dilihat dan di-dengarnya mengenai sumbangan dan pengorbanan golongan orang-orang mu’min yang patuh dan setia kepada Rasulullah, terutama cerita mengenai orang-orang yang datang kepada Rasulullah dengan beriba-iba memohon supaya mereka diterima menjadi anggota pasukan yang akan turut berperang. Tetapi Rasulullah menolak permohonan mereka, karena mereka tidak mempunyai kuda atau unta kendaraan sendiri. Lalu orang-orang itu pulang sambil menangis sedih, karena tidak mempunyai kendaraan untuk mencapai cita-cita mereka hendak turut berjihad dan membuktikan keinginannya memperoleh syahid.
Tetapi tatkala kaum munafik yang sengaja berlalai-lalai dan acuh tak acuh ini mendengar cerita ‘Umair yang dikiranya akan membangkitkan semangat juang dan pengorbanan mereka, malah sebaliknya ‘Umair menerima jawaban berupa kata-kata yang sungguh-sungguh membingungkan pemuda cilik yang mu’min ini. Mereka berkata, “Seandainya apa yang dikatakan Muhammad tentang kenabian itu benar adanya, tentulah kami lebih buruk daripada keledai.”
‘Umair sungguh bingung mendengar ucapan itu. Dia tidak menyangka sedikit juapun kata-kata seperti itu justru keluar dari mulut orang dewasa yang cerdas, Julas bin Suwaid, bapak tiri yang mengasuh dan membesarkannya selama ini; kata-kata yang nyata-nyata mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari Iman dan Islam, beralih menjadi kafir seketika itu juga, melalui pintu utama yang paling lebar.
Sementara kebingungan, anak itu juga memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya. Dia mengambil kesimpulan, bahwa Julas diam, tidak turut mengambil bagian dalam kegiatan persiapan perang, adalah suatu pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya; jelas membahayakan Islam, dan termasuk taktik kaum munafik yang ditiup-tiupkannya sesama mereka. Sedangkan melaporkan dan menyiarkan ucapan Julas, berarti mendurhakai orang yang selama ini telah dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri. Berarti pula membalas air susu dengan tuba. Demikian analisa ‘Umair.
Anak kecil itu merasa dia harus berani mengambil keputusan segera; melaporkan dan menyiarkan ucapan ayah tirinya atau diam seribu bahasa. Dia memilih melapor. Lalu dia berkata kepada Julas, “Demi Allah, hai Pak Julas! Tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih saya cintai selain dari Muhammad Rasulullah. Bahkan dia lebih saya cintai dari Bapak sendiri. Bapak memang sangat berjasa kepada saya, karena telah turun tangan membahagiakan saya. Tetapi Bapak telah mengucapkan kata-kata yang jika saya laporkan pasti akan memalukan Bapak. Sebaliknya jika saya diamkan berarti saya mengkhianati amanah yang akan mencelakakan diri serta agama saya. Sesungguhnya saya telah bertekad hendak melaporkan dan menyampaikan ucapan Bapak kepada Rasulullah, dan Bapak akan menjadi saksi nyata terhadap urusan Bapak sendiri.
‘Umair bin Sa’ad yang masih anak-anak pergi ke masjid, lalu dilaporkannya kepada Rasulullah kata-kata yang didengarnya sendiri dari bapak tirinya, Julas bin Suwaid. Rasulullah meminta ‘Umair supaya tinggal lebih dahulu dekat beliau. Sementara itu beliau menyuruh seorang sahabat memanggil Julas. Tidak berapa lama kemudian Julas pun datang. Rasulullah memanggilnya supaya duduk di hadapan beliau.
Beliau bertanya, “Betulkah Anda mengucapkan kata-kata seperti yang saya dengar dari ‘Umair bin Sa’ad?”
Jawab Julas, “Anak itu dusta, ya Rasulullah saya tidak pernah mengucapkan kata-kata demikian!”
Para sahabat memandang Julas dan ‘Umair bergantian, seolah-olah mereka ingin membaca di wajah keduanya apa sesungguhnya yang tersirat dalam hati mereka berdua. Lalu para sahabat berbisik-bisik sesama mereka, “Anak ini sungguh durhaka. Dia jahat terhadap orang yang telah berjasa besar mengasuh dan membesarkannya.”
Kata yang lain, “Tidak! Dia anak yang ta’at kepada Allah. Wajahnya cantik dan elok memancarkan cahaya iman, menunjukkan dia benar.”
Rasulullah menoleh kepada ‘Umair. Kelihatan oleh beliau wajah anak itu merah padam. Air matanya jatuh berderai di pipinya. Kata ‘Umair mendo’a, “Wahai Allah! Turunkanlah saksi kepada Nabi-Mu, bahwa aku benar.”
Kata Julas memperkuat pengakuannya, “Ya Rasululah sesungguhnya apa yang saya katakan kepada Anda tadi itulah yang benar. Jika Anda menghendaki, saya berani bersumpah di hadapan Anda. “Saya bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya saya tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti yang dilaporkan ‘Umair kepada Anda.”
Setelah Julas selesai mengucapkan sumpah, seluruh mata yang hadir memandang kepada ‘Umair bin Sa’ad, sehingga Rasulullah saw. diam sambil memicingkan mata, menunjukkan wahyu sedang turun. Para sahabat memaklumi hal itu. Mereka pun diam tidak berbunyi sedikit juapun. Tidak ada yang berkata-kata dan bergerak. Semua mata tertuju kepada Rasulullah saw.
Melihat Rasulullah kedatangan wahyu, Julas menjadi ketakutan. Dia menyesal dan menengok kepada ‘Umair. Situasi seperti itu berlangsung sampai wahyu selesai turun. Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat yang baru diterima beliau:
“Mereka bersumpah dengan (menyebut nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakannya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah memeluk Islam, dan mereka memutuskan apa yang tidak dapat. mereka jalankan (untuk membunuh Nabi saw., menghancurkan Islam dan kaum muslimin). Mereka mencela (Allah dan Rasul-Nya) tidak lain hanyalah karena Allah telah mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Tetapi jika mereka tobat, itulah yang paling baik bagi mereka, dan jika mereka membelakang, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan pembantu di muka bumi.”(Taubah,9:74)
Julas gemetar mendengar ayat yang sangat menakutkannya itu. Dia hampir tak dapat bicara karena terkejut. Kemudian dia berpaling kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “. Sayalah Saya tobat, ya Rasulullah . . . , saya tobat . . . ‘Umairlah yang benar, ya Rasulullah, sayalah yang dusta. Sudilah Anda memohonkan kepada Allah, semoga Dia menerima tobat saya. Saya bersedia menebus kesalahan saya, ya Rasulullah!”
Rasulullah menghadapkan mukanya kepada ‘Umair bin Sa’ad yang tiba-tiba bercucuran air mata gembira membasahi mukanya yang berseri oleh cahaya Iman. Lalu Rasulullah gembira mengulurkan tangannya yang mulia menarik telinga ‘Umair dengan lembut seraya berkata, “Telingamu cukup nyaring, nak! Allah membenarkan apa yang engkau dengar.”
Julas telah kembali ke dalam Islam dan menjadi muslim yang baik. Para sahabat telah sama mengetahui bagaimana besarnya jasa baik Julas mengasuh dan membesarkan ‘Umair selaku anak tiri. Dia bertanggung jawab penuh sebagai layaknya bapak kandung ‘Umair. Setiap kali orang menyebut nama ‘Umair di hadapannya, dia berkata dengan tulus, “Semoga Allah membalasi ‘Umair dengan segala kebajikan, karena dia telah membebaskan saya dari kekafiran dan dari api neraka.”
Kisah yang kita ceritakan ini, belum merupakan gambaran puncak dari kehidupan ‘Umair, melainkan baru merupakan gambaran kehidupannya waktu kecil. Marilah kita lihat gambaran kehidupannya yang lebih gemilang dan indah di waktu mudanya.
Barusan telah kita lihat dengan jelas bentuk kehidupan sahabat yang mulia, ‘Umair bin Sa’ad, waktu dia masih kanak-kanak. Sekarang marilah kita lihat bentuk kehidupannya yang cemerlang saat dia telah diewasa. Anda akan menyaksikan kehidupannya tahap kedua ini tidak kurang gemilangnya dari tahap pertama, agung dan megah.
JADI GUBERNUR HIMS
Penduduk Himsh sangat kritis terhadap para pembesar mereka, sehingga mereka sering mengadu kepada khalifah. Setiap pembesar yang baru datang memerintah, ada saja celanya bagi mereka. Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu, lalu dilaporkannya kepada khalifah, dan minta diganti dengan yang lebih baik.
Karena itu Khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat, dan yang namanya belum pernah rusak untuk menjadi Gubernur di sana. Lalu beliau sebar pembantu-pembantunya melihat-lihat orang yang paling tepat. Maka tidak diperolehnya orang yang lebih baik, selain dari Umair bin Sa’ad. Tetapi sayang, ‘Umair ketika itu sedang bertugas memimpin pasukannya berperang fi sabilillah di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil membebaskan beberapa kota, menghancurkan beberapa benteng, mendudukkan beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang dilaluinya.
Saat seperti itulah Amirul Mu’minin memanggilnya kembali ke Madinah, untuk memangku jabatan Gubernur di Himsh. khalifah ‘Umar memerintahkannya supaya segera berangkat ke Himsh. ‘Umair menerima perintah tersebut dengan hati enggan, karena baginya tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah.
Setibanya di Himsh, dipanggilnya orang banyak berkumpul ke masjid untuk shalat berjama’ah. Selesai shalat dia berpidato. Mula-mula dia memuji Allah dan mengucapkan salawat untuk Nabi. Kemudian dia berkata:
“Hai, manusia! Sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kokoh, dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan, dan pintunya ialah kebenaran (al haq). Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, maka pertahanan agama ini akan sirna. Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang hak.”
Selesai berpidato, dia langsung bertugas sesuai dengan khiththah yang telah digariskannya dalam pidatonya yang singkat itu.
‘Umair bin Sa’ad bertugas sebagai Gubernur di Himsh hanya setahun penuh. Selama itu tak sepucuk pun dia menulis surat kepada Amirul Mu’minin. Dan tidak satu dinar atau satu dirham pun dia menyetorkan pajak ke Baitul Maal Muslimin (Perbendaharaan Negara) di Madinah. Karena itu timbul curiga di hati Khalifah Umar. Dia sangat kuatir kalau-kalau pemerintahan yang dipimpin ‘Umair mengalami bencana (menyelewengkan uang negara) karena tidak ada orang yang ma’shum (terpilihara dari dosa) selain Rasulullah saw. Lalu beliau perintahkan sekretaris negara menulis surat kepada Gubernur ‘Umair.
Kata Khalifah Umar, “Tulis surat kepada ‘Umair, katakan kepadanya: “Bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkan Himsh dan segera datang menghadap Amirul Mu’minin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin!”
Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur ‘Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudhu’ dalam perjalanan. Lalu dia berangkat meninggalkan Himsh, para pembesar dan rakyat yang dipimpinnya. Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh.
‘Umair segera masuk menghadap Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab. Khalifah Umar terkejut melihat keadaan ‘Umair, lalu bertanya, “Bagaimana keadaan Anda, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Tidak kurang suatu apa. Saya sehat dan ‘afiat. Alhamdulillah! Saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya.”
Tanya Khalifah Umar, “Dunia manakah yang Anda bawa?” (Khalifah menduga, dia membawa uang setoran pajak untuk Baitul Maal).
Jawab ‘Umair, “Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudhu’, untuk membasahi kepala dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang Iain-lain tidak saya perlukan.”
Tanya Khalifah, “Apakah Anda datang berjalan kaki?”
Jawab, “Betul, ya Amirul Mu’minin!”
Tanya, “Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?”
Jawab, “Tidak! Mereka tidak memberi saya, dan saya tidak pula memintanya dari mereka.”
Tanya, “Mana setoran yang Anda bawa untuk Baitul Maal?”
Jawab, “Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Maal.”
Tanya, “Mengapa?”
Jawab, “Sejak saya mulai tiba di Himsh, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya, saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan, dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak.”
Khalifah ‘Umar berkata kepada jurutulis, ”Perpanjang masa jabatan ‘Umair sebagai Gubernur Hismh!”
Kata ‘Umair, “Ma’af, Khalifah! Saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai sa’at ini, saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah anda, ya Amirul Mu’minin.”
Kemudian ‘Umair minta izin untuk pergi ke sebuah di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Lalu Khalifah mengizinkannya.
Belum begitu lama ‘Umair tinggal di dusun tersebut, Khalifah ‘Umar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, bagaimana kehidupannya dan apa yang diusahakannya. Lalu diperintahkannya Al Harits, seorang kepercayaan Khalifah, “Pergilah engkau menemui ‘Umair, tinggallah di rumahnya selama tiga hari sebagai tamu. Bila engkau lihat keadaannya bahagia penuh ni’mat, kembalilah sebagaimana engkau datang. Dan jika engkau lihat keadaannya melarat, berikan uang ini kepadanya!”
Khalifah ‘Umar memberikan sebuah pundi berisi seratus dinar kepada Al Harits.
Al Harits pergi ke dusun tempat Umair tinggal. Dia bertanya-tanya ke sana-sini di mana rumah ‘Umair. Setelah bertemu, Al Harits mengucapkan salam, ”Assalamu’alaika wa rahmatullah.”
Jawab ‘Umair, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Anda datang dari mana?”
Jawab Harits, “Dari Madinah!”
Tanya ‘Umair, “Bagaimana keadaan kaum muslimin sepeninggal anda?”
Jawab Harits, “Baik-baik saja.”
Tanya, “Bagaimana kabar Amirul Mu’minin?”
Jawab, “Alhamdulillah, baik.”
Tanya, “Adakah ditegakkannya hukum?”
Jawab, “Tentu, malahan baru-baru ini dia menghukum dera anaknya sendiri sampai mati, karena bersalah melakukan perbuatan keji.”
Kata ‘Umair, “Wahai Allah, tolonglah ‘Umar. Saya tahu sungguh, dia sangat mencintai-Mu, wahai Allah!”
Al Harits menjadi tamu ‘Umair selama tiga malam. Tiap malam Harits hanya dijamu dengan sebuah roti terbuat dari gandum. Pada hari ketiga, seorang laki-laki kampung berkata kepada Harits, “Sesungguhnya Anda telah menyusahkan ‘Umair dan keluarganya. Mereka tidak punya apa-apa selain roti yang disuguhkannya kepada Anda. Mereka lebih mementingkan Anda, walaupun dia sekeluarga harus menahan lapar. Jika Anda tidak keberatan, sebaiknyalah Anda pindah ke rumah saya menjadi tamu saya.”
Al Harits mengeluarkan pundi-pundi uang dinar, lalu diberikannya kepada ‘Umair.
Tanya ‘Umair, “Apa ini?”
Jawab Harits, ”Amirul Mu’minin mengirimkannya untuk Anda!”
Kata ‘Umair, “Kembalikan saja uang itu kepada beliau. Sampaikan salamku, dan katakan kepada beliau bahwasanya aku tidak membutuhkan uang itu.”
Isteri ‘Umair yang mendengar percakapan suaminya dengan Harits berteriak, “Terima saja, hai ‘Umair! Jika engkau butuh sesuatu engkau dapat membelanjakannya.
Jika tidak, engkau pun dapat membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Di sini banyak orang-orang yang butuh.”
Mendengar ucapan isteri ‘Umair, Harits meletakkan uang itu di hadapan ‘Umair, kemudian dia pergi. ‘Umair memungut uang itu lalu dimasukkannya ke dalam beberapa pundi-pundi kecil. Dia tidak tidur sampai tengah malam sebelum uang itu habis dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sangat diutamakannya memberikan kepada ank-anak yatim yang orang tuanya tewas sebagai syuhada’ di medan perang fi sabilillah.
Al Harits kembali ke Madinah. Setibanya di Madinah, Khalifah ‘Umar bertanya, “Bagaimana keadaan ‘Umair?”
Jawab Harits, “Sangat menyedihkan, ya Amirul Mu minin.”
Tanya Khalifah, “Sudah engkau berikan uang itu kepadanya?”
Jawab, “Ya, sudah ku berikan.”
Tanya, “Apa yang dibuatnya dengan uang itu?”
Jawab, “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira, uang itu mungkin hanya tinggal satu dirham saja lagi untuknya.”
Khalifah ‘Umar menulis surat kepada ‘Umair, katanya, “Bila surat ini selesai Anda baca, maka janganlah Anda letakkan sebelum datang menghadap saya.”
‘Umair bin Sa’ad datang ke Madinah memenuhi panggilan khalifah. Sampai di Madinah dia Iangsung menghadap Amirul Mu’minin. Khalifah ‘Umar mengucapkan selamat datang dan memberikan alas duduk yang dipakainya kepada ‘Umair, sebagai penghormatan.
Tanya khalifah, “Apa yang Anda perbuat dengan uang itu, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Apa maksud Anda menanyakan, sesudah uang itu Anda berikan kepadaku?”
Jawab khalifah, “Saya hanya ingin tahu, barangkali Anda mau menceritakannya.”
Jawab ‘Umair, “Uang itu saya simpan untuk saya yang menonjol di universitas Muhammad bin ‘Abdullah sendiri, dan akan saya manfa’atkan nanti pada suatu hari, ketika harta dan anak-anak tidak bermanfa’at lagi, yaitu hari kiamat.”
Mendengar jawaban ‘Umair, Khalifah ‘Umar menangis sehingga air matanya jatuh bercucuran. Katanya, “Saya menjadi saksi, bahwa sesungguhnya Anda tergolong orang-orang yang mementingkan orang-orang lain sekalipun diri Anda sendiri melarat.”
Kemudian khalifah menyuruh seseorang mengambil satu wasq (Satu Wasq, kira-kira enam puluh sha’ (gantang), atau kira-kiia seberat beban seekor unta) pangan dan dua helai pakaian, lalu diberikan-nya kepada ‘Umair.
Kata ‘Umair, “Kami tidak membutuhkan makanan, ya Amirul Mu’minin. Saya ada meninggalkan dua sha’ gandum untuk keluarga saya. Mudah-mudahan itu cukup untuk makan kami sampai Allah Ta’ala memberi lagi rezki untuk kami. Tetapi pakaian ini saya terima untuk isteri saya, karena pakaiannya sudah terlalu usang, sehingga dia hampir telanjang.”
Tidak lama sesudah pertemuan ‘Umair dengan khalifah, maka Allah mengizinkan ‘Umair untuk bertemu dengan Nabi yang sangat dicintai dan dirindukannya, yaitu Muhammad bin ‘Abdullah, Rasulullah, ‘Umair pergi menempuh jalan akhirat, mempertaruhkan jiwa raganya dengan langkah-langkah yang senantiasa mantap. Dia tidak membawa beban berat di punggung, berupa kemewahan dunia. Tetapi dia pergi dengan cahaya Allah yang selalu membimbingnya, wara’ dan taqwa.
Ketika Khalifah ‘Umar mendengar kematian ‘Umair, bukan main main sedihnya, sehingga dia mengurut dada karena menyesal. Kata khalifah, “Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umair bin Sa’ad, untuk membantu saya melola masyarakat kaum muslimin.”
Semoga Allah meredhai ‘Umair bin Sa’ad, dan semoga dia senang dalam keredhaan-Nya. Dia telah menempuh cara yang diambilnya sendiri di antara sekian banyak orang. Dan dia adalah bekas mahasiswa …
Kisah Cinta Sang Pembunuh dibalik Wafat Ali Bin Abith Thalib Karromallu wajhah!!!.
Posted by Bustamam Ismail on July 22, 2008
Ia sang penakluk benteng Khaibar yang konon hanya bisa diangkat oleh 15 orang. Jika Rasulullah adalah kota ilmu, maka ia adalah pintu gerbangnya. Meski begitu, ia terkenal zuhud, yang ikhlas berbagi sepotong roti, sesuatu yang hanya dimilikinya untuk dimakan pada suatu pagi dengan seorang peminta yang datang ke rumahnya dengan perut kelaparan. Ia adalah Ali bin Abi Thalib, si pemilik Dzul Faqar, pedang bermata dua. Ia sepupu Rasulullah sekaligus mantunya, suami Fatimah dan ayah Hasan dan Husain.
Dengan segala keutamakan itu, sungguh tragis memang jika peristiwa kematiannya merupakan sejarah yang berlumur darah.
Tujuh Belas Ramadhan (TBR) merupakan jalinan rumit kisah cinta antara Qutham, Said, Khaulah, dan Abdurrahman bin Muljam. Qutham anak seorang Khawarij. Menuntut darah Ali bin Abi Thalib adalah cita-citanya semenjak ayah dan saudaranya terbunuh oleh tentara khalifah ke-4 itu pada peperangan Nahrawan di Sungai Dajlah (Tigris) dekat Baghdad. Sedang Said berdarah Umawy, yang juga menuntut darah Ali atas kasus terbunuhnya khalifah Usman bin Affan. Said memuja Qutham, seperti kumbang menemukan bunganya. Apalagi keduanya memiliki cita-cita yang sama. Pemuda itu kemudian membuat surat perjanjian untuk menikahi Qutham dengan darah Ali sebagai maharnya.
Khaulah anak seorang pembuat senjata di Mesir yang dekat dengan Amr bin Ash, ahli strategi Muawiyah dalam peristiwa Tahkim yang memenangkan anak Abu Sufyan itu secara politis atas Ali. Ayah Khaulah seorang khawarij pula, yang mendukung upaya pembunuhan atas mantu Rasulullah itu. Ia bahkan telah membuat pedang seribu dinar bertabur racun seribu dinar untuk Abdurrahman bin Muljam. Pemuda inilah yang akan melaksanakan tugas eksekusi itu. Khaulah sangat paham rahasia ini, karena sudah menjadi janji orangtuanya bahwa darah Ali akan menjadi mahar pernikahan Ibnu Muljam dengan dirinya. Padahal, Khaulah, berseberangan dengan Ayahnya. Ia berpihak pada Ali dan bertekad membantu menyelamatkannya.
Said berdiri di persimpangan jalan ketika dalam wasiatnya, Abu Rihab menyuruhnya menghapus dendam kesumat itu. Bahkan kakeknya itu meminta Said membantu menyelamatkan Ali dari pembunuhan oleh sekelompok orang. Ini bertentangan dengan perjanjian yang telah dibuatnya dengan Qutham. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengikuti wasiat kakeknya. Said menyampaikan perubahan drastis itu kepada Qutham dengan taruhan pernikahannya. Namun, di luar dugaannya, Qutham ternyata justru mendukungnya untuk menyelamatkan Ali dan bahkan cita-cita itu kini menjadi persyaratan mahar yang baru baginya. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan Said.
Maka meluncurlah dari mulut Said rencana jahat yang sempat didengarnya di Makkah menjelang kakeknya wafat. Sekelompok orang akan membunuh tiga orang sekaligus yang membuat carut-marut umat saat itu pada malam 17 Ramadan. Mereka adalah Ali di Kufah, Amr bin Ash di Fusthath, Mesir, dan Muawiyah di Syams.
Qutham kemudian meminta Said pergi ke Mesir untuk menemui kelompok penolong Ali dan mencari tahu siapa saja yang bakal melaksanakan eksekusi itu. Bersama Abdullah, saudaranya, Said pergi ke Fusthath, Mesir. Nahasnya, Abdullah tertangkap tentara Amr ketika bertemu dengan penolong-penolong Ali di sebuah tempat bernama Ain Syams. Mereka yang tertangkap ditenggelamkan di sebuah teluk untuk menghilangkan jejak.
Said berhasil lolos dari sergapan ini atas bantuan Khaulah. Sebaliknya, Khaulah berhasil lolos dari belenggu Ayahnya atas bantuan Said. Dari mulut Khaulah, Said tahu nama Ibnu Muljam yang tengah dalam perjalanan ke Kufah. Dan dari mulut Said, Khaulah tahu bahwa target pembunuhan 17 Ramadhan tidak hanya Ali, tetapi juga Amr dan Muawiyah.
Keduanya kemudian berbagi tugas. Khaulah meminta Said secepatnya kembali ke Kufah untuk memberitahukan rencana jahat itu pada Ali sebelum saatnya tiba. Sedangkan Khaulah akan berusaha memberitahu Amr dengan caranya. Maka berangkatlah Said ke Kufah untuk mengejar waktu.
Sesampai di Kufah, Ibnu Muljam dipertemukan dengan Qutham oleh pembantu setianya. Melihat kecantikan gadis itu dan cita-cita yang sama untuk menuntut darah Ali – yang ditutup rapat gadis itu dari Said, Ibnu Muljam meminang gadis itu. Ini tentu pinangan baru setelah Said. Dan tentu saja, darah Ali menjadi maharnya.
Maka lengkaplah sudah konspirasi itu.
Malam 17 Ramadhan pun tiba. Said sudah sampai di Kufah pada malam itu. Tanpa menunda-nunda lagi, ia bergegas ke rumah Ali. Sampai di masjid Ali, tidak ada seorang pun yang ia temui kecuali Qinbar, penjaga Ali yang tengah duduk di sana. Ketika tahu yang di hadapannya adalah Said, Qinbar langsung meringkus pemuda itu dengan bantuan penjaga Ali yang berada di dalam rumah. Said kaget mengetahui situasi itu, tetapi ia tidak berkutik ketika Qinbar memperlihatkan secarik surat perjanjian yang tidak lain perjanjian pernikahannya dengan Qutham untuk dengan mahar darah Ali. Surat perjanjian itu ternyata tidak pernah dilenyapkan Qutham, dan itulah yang menghambat Said untuk menyampaikan berita penting itu kepada Ali.
Maka pembunuhan itu pun terjadilah. Ali ditikam dengan pedang beracun oleh Ibnu Muljam tepat di kening ketika Subuh tiba. Khalifah itupun wafat. Sedangkan Ibnu Muljam dibunuh oleh sahabat dan penjaga-penjaga Ali. Said akhirnya dibebaskan dengan meninggalkan penyesalan pada setiap orang.
Adalah Abdurahman ibnu Muljam yang menikam Ali dengan pedang beracun pada suatu Subuh di masjid Kufah tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Pada saat yang sama dua orang kawan sekomplotannya melakukan upaya pembunuhan di tempat lain. Barak bin Abdullah ash-Shorimi membunuh Muawiyah bin Abi Sufyan di Syams dan Amr bin Bakr at-Tamimi membunuh Amr bin Ash di Mesir. Ketiga orang ini, Ali, Muawiyah dan Amr adalah para tokoh di balik pertikaian politik pasca kematian khalifah Usman yang juga berlumuran darah. Imam Ali terluka yang berujung pada kematiannya. Muawiyah hanya terluka dan kemudian sembuh. Sedangkan pembunuhan terhadap Amr salah sasaran. Ketiga pembunuh itu, Ibnu Muljam, Barak dan Amr bin Bakr adalah anggota kelompok Khawarij, yang pada mulanya pendukung Imam Ali untuk menjadi khalifah, tetapi pada akhirnya membencinya karena suami Fatimah itu menerima Tahkim setelah perang Shiffin.
Mungkin saya kuper dan kurang baca, tetapi demikianlah cerita yang pernah saya dengar atau baca tentang sejarah terbunuhnya khalifah Ali. Bahwa ia terbunuh dalam sebuah pertikaian politik, saya paham. Bahwa ia dibunuh oleh anggota kelompok Khawarij, saya mafhum dan demikianlah sejarah telah tertulis. Jika kemudian ia ternyata terbunuh karena dendam yang berkelindan dalam kemelut cinta segitiga, itu yang membuat saya seperti bangun dari mimpi buruk yang panjang. Dan George Zidan rupanya telah berhasil membuat saya penasaran. Buku setebal 2 jari telunjuk itu terasa teramat tipis untuk saya selesaikan dalam waktu singkat.
Zidan menggunakan angle cerita yang tak pernah saya bayangkan ada di balik peristiwa mengenaskan itu. Ini yang membuat “nilai jual” buku ini melambung tinggi, setidaknya di mata saya. Zidan barangkali sangat mengerti bahwa cerita berseting sejarah akan sangat menarik minat orang untuk membacanya ketika diceritakan ulang (retelling story), apalagi secara “berbeda” dari yang pernah ada (pakem). Beauty and the Beast, sekadar contoh, mengalami sekian kali retelling dengan penceritaan yang berbeda, bahkan dengan nama tokoh dan judul yang berbeda, tetapi tetap diminati orang dan dibaca atau ditonton filmnya hingga hari ini. Ini baru cerita pure fiksi, tak berseting sejarah sedikitpun. Api di Bukit Menoreh, Naga Sasra dan Sabuk Inten, Bende Mataram, Senopati Pamungkas yang semuanya berseting sejarah merupakan buku-buku yang masih bertebaran dan dibaca orang hingga kini.
Apakah TBR sebuah buku fiksi? Setidaknya ISBN memasukkan karya ini ke dalam kategori (1) Novel Sejarah Islam (2) Sastra (3) Fiksi. Namun demikian, Zidan banyak menukil potongan peristiwa dan para pelaku dari berbagai kitab rujukan semisal tarikh Ibnul Atsir, tarikh Khumais, Sirah Halabiyah, Asadul Ghabah, Al-Mas’udi, tarikh Al-Khamis, dan sebagainya. Qutham bin Syahnah misalnya, adalah seorang yang real sebagaimana tertulis pada tarikh karya Khumais Jilid 2. Saya bahkan sempat merasa seperti membaca sebuah kitab sejarah dibandingkan dengan sebuah novel. Apalagi George Zidan juga dikenal sebagai penulis sejarah disamping seorang novelis.
Barangkali hanya ada dua hal saja yang ingin saya catat. Pertama, dialog dan deskripsi yang cukup banyak bertebaran di sana-sini menjadikan cerita ini lamban dan terkesan bertele-tele, setidaknya menurut perasaan saya. Dan kedua, banyak peristiwa kebetulan di dalam cerita ini; setidaknya menurut saya. Bagaimana Said berjumpa Khaulah, bagaimana Bilal — pembantu Khaulah bertemu dengan Raihan — pembantu Qutham, bagaimana Bilal akhirnya berjumpa dan membunuh Qutham, dan sebagainya. Cerita yang baik adalah cerita yang minim unsur paksaan pengarang dalam cerita itu. Minim peristiwa yang terlihat seperti sebuah kebetulan. Saya menemukan “kelemahan” ini di TBR.
Mungkin hanya karena penasaran ingin mengetahui akhir cerita ini saja yang membuat saya tidak bergeming untuk mengunyah TBR hingga akhir.
Bagaimanapun, pembunuhan khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sejarah berlumur darah kaum muslimin. Kita saja yang hidup 14 abad kemudian sangat menyayangkan mengapa hal itu bisa terjadi, meski tidak bisa mengambil tindakan apa-apa. Bagaimana mungkin para sahabat, orang-orang yang pernah hidup bersama Rasulullah dan menerima pembinaan langsung dari beliau, bahkan sebagian dari mereka sudah dijamin masuk syurga, bisa bertikai berkubang darah seperti itu.
Namun, apapun yang terjadi dengan dan pada masa sahabat, kita umat yang mutaakhir ini selayaknya diam dan tidak perlu mencela mereka; karena bagaimanapun merekalah pembela Nabi dan penegak Islam di awal hingga tersebar ke seluruh dunia seperti sekarang ini. Yang menjadi penting barangkali adalah bagaimana kita bisa mengambil ibrah dari peristiwa itu.
Dan buku karya George Zidan ini – lepas dari klaim sebagian orang bahwa George Zidan (Jurji Zaidan) adalah seorang orientalis, penulis sejarah Islam yang non-muslim, dan seorang yang menulis sejarah Islam dengan banyak menghina para tokohnya — mungkin juga ditulis untuk tujuan tersebut.
Wa Allahu a’lam
Ia sang penakluk benteng Khaibar yang konon hanya bisa diangkat oleh 15 orang. Jika Rasulullah adalah kota ilmu, maka ia adalah pintu gerbangnya. Meski begitu, ia terkenal zuhud, yang ikhlas berbagi sepotong roti, sesuatu yang hanya dimilikinya untuk dimakan pada suatu pagi dengan seorang peminta yang datang ke rumahnya dengan perut kelaparan. Ia adalah Ali bin Abi Thalib, si pemilik Dzul Faqar, pedang bermata dua. Ia sepupu Rasulullah sekaligus mantunya, suami Fatimah dan ayah Hasan dan Husain.
Dengan segala keutamakan itu, sungguh tragis memang jika peristiwa kematiannya merupakan sejarah yang berlumur darah.
Tujuh Belas Ramadhan (TBR) merupakan jalinan rumit kisah cinta antara Qutham, Said, Khaulah, dan Abdurrahman bin Muljam. Qutham anak seorang Khawarij. Menuntut darah Ali bin Abi Thalib adalah cita-citanya semenjak ayah dan saudaranya terbunuh oleh tentara khalifah ke-4 itu pada peperangan Nahrawan di Sungai Dajlah (Tigris) dekat Baghdad. Sedang Said berdarah Umawy, yang juga menuntut darah Ali atas kasus terbunuhnya khalifah Usman bin Affan. Said memuja Qutham, seperti kumbang menemukan bunganya. Apalagi keduanya memiliki cita-cita yang sama. Pemuda itu kemudian membuat surat perjanjian untuk menikahi Qutham dengan darah Ali sebagai maharnya.
Khaulah anak seorang pembuat senjata di Mesir yang dekat dengan Amr bin Ash, ahli strategi Muawiyah dalam peristiwa Tahkim yang memenangkan anak Abu Sufyan itu secara politis atas Ali. Ayah Khaulah seorang khawarij pula, yang mendukung upaya pembunuhan atas mantu Rasulullah itu. Ia bahkan telah membuat pedang seribu dinar bertabur racun seribu dinar untuk Abdurrahman bin Muljam. Pemuda inilah yang akan melaksanakan tugas eksekusi itu. Khaulah sangat paham rahasia ini, karena sudah menjadi janji orangtuanya bahwa darah Ali akan menjadi mahar pernikahan Ibnu Muljam dengan dirinya. Padahal, Khaulah, berseberangan dengan Ayahnya. Ia berpihak pada Ali dan bertekad membantu menyelamatkannya.
Said berdiri di persimpangan jalan ketika dalam wasiatnya, Abu Rihab menyuruhnya menghapus dendam kesumat itu. Bahkan kakeknya itu meminta Said membantu menyelamatkan Ali dari pembunuhan oleh sekelompok orang. Ini bertentangan dengan perjanjian yang telah dibuatnya dengan Qutham. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengikuti wasiat kakeknya. Said menyampaikan perubahan drastis itu kepada Qutham dengan taruhan pernikahannya. Namun, di luar dugaannya, Qutham ternyata justru mendukungnya untuk menyelamatkan Ali dan bahkan cita-cita itu kini menjadi persyaratan mahar yang baru baginya. Tentu saja hal ini sangat menggembirakan Said.
Maka meluncurlah dari mulut Said rencana jahat yang sempat didengarnya di Makkah menjelang kakeknya wafat. Sekelompok orang akan membunuh tiga orang sekaligus yang membuat carut-marut umat saat itu pada malam 17 Ramadan. Mereka adalah Ali di Kufah, Amr bin Ash di Fusthath, Mesir, dan Muawiyah di Syams.
Qutham kemudian meminta Said pergi ke Mesir untuk menemui kelompok penolong Ali dan mencari tahu siapa saja yang bakal melaksanakan eksekusi itu. Bersama Abdullah, saudaranya, Said pergi ke Fusthath, Mesir. Nahasnya, Abdullah tertangkap tentara Amr ketika bertemu dengan penolong-penolong Ali di sebuah tempat bernama Ain Syams. Mereka yang tertangkap ditenggelamkan di sebuah teluk untuk menghilangkan jejak.
Said berhasil lolos dari sergapan ini atas bantuan Khaulah. Sebaliknya, Khaulah berhasil lolos dari belenggu Ayahnya atas bantuan Said. Dari mulut Khaulah, Said tahu nama Ibnu Muljam yang tengah dalam perjalanan ke Kufah. Dan dari mulut Said, Khaulah tahu bahwa target pembunuhan 17 Ramadhan tidak hanya Ali, tetapi juga Amr dan Muawiyah.
Keduanya kemudian berbagi tugas. Khaulah meminta Said secepatnya kembali ke Kufah untuk memberitahukan rencana jahat itu pada Ali sebelum saatnya tiba. Sedangkan Khaulah akan berusaha memberitahu Amr dengan caranya. Maka berangkatlah Said ke Kufah untuk mengejar waktu.
Sesampai di Kufah, Ibnu Muljam dipertemukan dengan Qutham oleh pembantu setianya. Melihat kecantikan gadis itu dan cita-cita yang sama untuk menuntut darah Ali – yang ditutup rapat gadis itu dari Said, Ibnu Muljam meminang gadis itu. Ini tentu pinangan baru setelah Said. Dan tentu saja, darah Ali menjadi maharnya.
Maka lengkaplah sudah konspirasi itu.
Malam 17 Ramadhan pun tiba. Said sudah sampai di Kufah pada malam itu. Tanpa menunda-nunda lagi, ia bergegas ke rumah Ali. Sampai di masjid Ali, tidak ada seorang pun yang ia temui kecuali Qinbar, penjaga Ali yang tengah duduk di sana. Ketika tahu yang di hadapannya adalah Said, Qinbar langsung meringkus pemuda itu dengan bantuan penjaga Ali yang berada di dalam rumah. Said kaget mengetahui situasi itu, tetapi ia tidak berkutik ketika Qinbar memperlihatkan secarik surat perjanjian yang tidak lain perjanjian pernikahannya dengan Qutham untuk dengan mahar darah Ali. Surat perjanjian itu ternyata tidak pernah dilenyapkan Qutham, dan itulah yang menghambat Said untuk menyampaikan berita penting itu kepada Ali.
Maka pembunuhan itu pun terjadilah. Ali ditikam dengan pedang beracun oleh Ibnu Muljam tepat di kening ketika Subuh tiba. Khalifah itupun wafat. Sedangkan Ibnu Muljam dibunuh oleh sahabat dan penjaga-penjaga Ali. Said akhirnya dibebaskan dengan meninggalkan penyesalan pada setiap orang.
Adalah Abdurahman ibnu Muljam yang menikam Ali dengan pedang beracun pada suatu Subuh di masjid Kufah tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Pada saat yang sama dua orang kawan sekomplotannya melakukan upaya pembunuhan di tempat lain. Barak bin Abdullah ash-Shorimi membunuh Muawiyah bin Abi Sufyan di Syams dan Amr bin Bakr at-Tamimi membunuh Amr bin Ash di Mesir. Ketiga orang ini, Ali, Muawiyah dan Amr adalah para tokoh di balik pertikaian politik pasca kematian khalifah Usman yang juga berlumuran darah. Imam Ali terluka yang berujung pada kematiannya. Muawiyah hanya terluka dan kemudian sembuh. Sedangkan pembunuhan terhadap Amr salah sasaran. Ketiga pembunuh itu, Ibnu Muljam, Barak dan Amr bin Bakr adalah anggota kelompok Khawarij, yang pada mulanya pendukung Imam Ali untuk menjadi khalifah, tetapi pada akhirnya membencinya karena suami Fatimah itu menerima Tahkim setelah perang Shiffin.
Mungkin saya kuper dan kurang baca, tetapi demikianlah cerita yang pernah saya dengar atau baca tentang sejarah terbunuhnya khalifah Ali. Bahwa ia terbunuh dalam sebuah pertikaian politik, saya paham. Bahwa ia dibunuh oleh anggota kelompok Khawarij, saya mafhum dan demikianlah sejarah telah tertulis. Jika kemudian ia ternyata terbunuh karena dendam yang berkelindan dalam kemelut cinta segitiga, itu yang membuat saya seperti bangun dari mimpi buruk yang panjang. Dan George Zidan rupanya telah berhasil membuat saya penasaran. Buku setebal 2 jari telunjuk itu terasa teramat tipis untuk saya selesaikan dalam waktu singkat.
Zidan menggunakan angle cerita yang tak pernah saya bayangkan ada di balik peristiwa mengenaskan itu. Ini yang membuat “nilai jual” buku ini melambung tinggi, setidaknya di mata saya. Zidan barangkali sangat mengerti bahwa cerita berseting sejarah akan sangat menarik minat orang untuk membacanya ketika diceritakan ulang (retelling story), apalagi secara “berbeda” dari yang pernah ada (pakem). Beauty and the Beast, sekadar contoh, mengalami sekian kali retelling dengan penceritaan yang berbeda, bahkan dengan nama tokoh dan judul yang berbeda, tetapi tetap diminati orang dan dibaca atau ditonton filmnya hingga hari ini. Ini baru cerita pure fiksi, tak berseting sejarah sedikitpun. Api di Bukit Menoreh, Naga Sasra dan Sabuk Inten, Bende Mataram, Senopati Pamungkas yang semuanya berseting sejarah merupakan buku-buku yang masih bertebaran dan dibaca orang hingga kini.
Apakah TBR sebuah buku fiksi? Setidaknya ISBN memasukkan karya ini ke dalam kategori (1) Novel Sejarah Islam (2) Sastra (3) Fiksi. Namun demikian, Zidan banyak menukil potongan peristiwa dan para pelaku dari berbagai kitab rujukan semisal tarikh Ibnul Atsir, tarikh Khumais, Sirah Halabiyah, Asadul Ghabah, Al-Mas’udi, tarikh Al-Khamis, dan sebagainya. Qutham bin Syahnah misalnya, adalah seorang yang real sebagaimana tertulis pada tarikh karya Khumais Jilid 2. Saya bahkan sempat merasa seperti membaca sebuah kitab sejarah dibandingkan dengan sebuah novel. Apalagi George Zidan juga dikenal sebagai penulis sejarah disamping seorang novelis.
Barangkali hanya ada dua hal saja yang ingin saya catat. Pertama, dialog dan deskripsi yang cukup banyak bertebaran di sana-sini menjadikan cerita ini lamban dan terkesan bertele-tele, setidaknya menurut perasaan saya. Dan kedua, banyak peristiwa kebetulan di dalam cerita ini; setidaknya menurut saya. Bagaimana Said berjumpa Khaulah, bagaimana Bilal — pembantu Khaulah bertemu dengan Raihan — pembantu Qutham, bagaimana Bilal akhirnya berjumpa dan membunuh Qutham, dan sebagainya. Cerita yang baik adalah cerita yang minim unsur paksaan pengarang dalam cerita itu. Minim peristiwa yang terlihat seperti sebuah kebetulan. Saya menemukan “kelemahan” ini di TBR.
Mungkin hanya karena penasaran ingin mengetahui akhir cerita ini saja yang membuat saya tidak bergeming untuk mengunyah TBR hingga akhir.
Bagaimanapun, pembunuhan khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sejarah berlumur darah kaum muslimin. Kita saja yang hidup 14 abad kemudian sangat menyayangkan mengapa hal itu bisa terjadi, meski tidak bisa mengambil tindakan apa-apa. Bagaimana mungkin para sahabat, orang-orang yang pernah hidup bersama Rasulullah dan menerima pembinaan langsung dari beliau, bahkan sebagian dari mereka sudah dijamin masuk syurga, bisa bertikai berkubang darah seperti itu.
Namun, apapun yang terjadi dengan dan pada masa sahabat, kita umat yang mutaakhir ini selayaknya diam dan tidak perlu mencela mereka; karena bagaimanapun merekalah pembela Nabi dan penegak Islam di awal hingga tersebar ke seluruh dunia seperti sekarang ini. Yang menjadi penting barangkali adalah bagaimana kita bisa mengambil ibrah dari peristiwa itu.
Dan buku karya George Zidan ini – lepas dari klaim sebagian orang bahwa George Zidan (Jurji Zaidan) adalah seorang orientalis, penulis sejarah Islam yang non-muslim, dan seorang yang menulis sejarah Islam dengan banyak menghina para tokohnya — mungkin juga ditulis untuk tujuan tersebut.
Wa Allahu a’lam
SA’ID BIN ZAID Shahabat Rasulullah
Posted by Bustamam Ismail on May 21, 2008
“Wahai Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku Sa’id diharamkan pula daripadanya.” (Do’a Zaid untuk anaknya Sa’id)
ZAID BIN ‘AMR BIN NUFAIL,(ayahada Said) berdiri dari orang banyak yang berdesak-desak menyaksikan kaum Quraisy berpesta merayakan salah satu hari besar mereka.
Kaum pria memakai serban Sundusi yang mahal, yang kelihatan seperti kerudung Yaman yang lebih mahal. Kaum wanita dan anak-anak berpakaian bagus warna manyala, dan mengenakan perhiasan indah-indah. Hewan-hewan ternak pun dipakaikan bermacam-macam perhiasan ditarik orang untuk disembelih di hadapan patung-patung yang mereka sembah.
Zaid bersandar ke dinding Ka’bah seraya berkata, “Hai kaum Quraisy! Hewan itu diciptakan oleh Allah. Dialah yang menurunkan hujan dari langit supaya hewan-hewan itu minum sepuas-puasnya. Dialah yang menumbuhkan rumput-rumputan, supaya hewan-hewan itu makan sekenyang-kenyangnya. Kemudian kalian sembelih hewan-hewan itu tanpa menyebut nama-Nya. Sungguh bodoh dan sesat kalian!”
Al Khatthab, ayah ‘Umar bin Khatthab berdiri menghampiri Zaid, lalu ditamparnya Zaid. Kata Al Khatthab, “Kurang ajar kau! Kami sudah sering mendengar kata-katamu yang kotor itu. Namun kami biarkan saja. Kini kesabaran kami sudah habis!” Kemudian dihasutnya orang-orang bodoh supaya menyakiti Zaid. Zaid benar-benar disakiti mereka dengan sungguh-sungguh sehingga dia terpaksa menyingkir dari kota Makkah ke bukit Hira’.
Al Khatthab menyerahkan urusan Zaid kepada sekelompok pemuda Quraisy untuk menghalang-halanginya masuk kota. Karena itu Zaid terpaksa pulang dengan sembunyi-sembunyi.
Kemudian Zaid bin ‘Amr bin Nufail berkumpul — ketika orang-orang Quraisy lengah — bersama-sama dengan Waraqah bin Naufal, ‘Abdullah bin Jahsy, ‘Utsman bin Harits, dan Umaimah binti ‘Abdul Muthalib bibi Nabi Muhammad Saw. Mereka berbicara mengenai kepercayaan masyarakat ‘Arab yang sudah jauh tersesat. Kata Zaid, “Demi Allah! Sesungguhnya saudara-saudara sudah maklum bangsa kita sudah tidak mempunyai agama. Mereka sudah sesat dan menyeleweng dari agama Ibrahim yang lurus. Karena itu marilah kita pelajari suatu agama yang dapat kita pegang jika saudara-saudara ingin beruntung.”
Keempat orang itu pergi menemui pendeta-pendeta Yahudi, Nasrani, dan pemimpin-pemimpin agama lain untuk menyelidiki dan mempelajari agama Ibrahim yang murni. Waraqah bin Naufal meyakini agama Nasrani. ‘Abdullah bin Jahsy dan ‘Utsman bin Harits tidak menemukan apa-apa. Sedangkan Zaid bin ‘Amr bin Nufail mengalami kisah tersendiri. Marilah kita dengar ceritanya.
Kata Zaid, “Saya pelajari agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi keduanya saya tinggalkan karena saya tidak memperoleh sesuatu yang dapat menenteramkan hati saya dalam kedua agama tersebut. Lalu saya berkelana ke seluruh pelosok mencari agama Ibrahim. Ketika saya sampai ke negeri Syam, saya diberitahu tentang seorang Rahib yang mengerti Ilmu Kitab. Maka saya datangi Rahib tersebut, lalu saya ceritakan kepadanya pengalaman saya belajar agama.
Kata Rahib tersebut, “Saya tahu anda sedang mencari agama Ibrahim, hai putera Makkah.”
Jawabku, “Betul, itulah yang saya inginkan!”
Kata Rahib, “Anda mencari agama yang dewasa ini sudah tak mungkin lagi ditemukan. Tetapi pulanglah Anda ke negeri Anda. Allah akan membangkitkan seorang Nabi di tengah-tengah bangsa Anda untuk menyempurnakan agama Ibrahim. Bila Anda bertemu dengan dia, tetaplah Anda bersamanya.”
Zaid berhenti berkelana. Dia kembali ke Makkah menunggu Nabi yang dijanjikan. Ketika Zaid sedang dalam perjalanan pulang, Allah mengutus Muhammad menjadi Rasul dengan agama yang hak. Tetapi Zaid belum sempat bertemu dengan beliau, dia dihadang perompak-perompak Badui di tengah jalan, dan terbunuh sebelum ia sampai kembali ke Makkah. Waktu dia akan menghembuskan nafas yang terakhir, Zaid menengadah ke langit dan berkata, “Wahai Allah! Jika Engkau mengharamkanku dari agama lurus ini, maka janganlah anakku Sa ‘id diharamkan pula daripadanya.”
SA’ID BIN ZAID
Allah memperkenankan do’a Zaid. Serentak Rasulullah mengajak orang banyak masuk Islam, Sa’id segera memenuhi panggilan beliau, menjadi pelopor orang-orang yang beriman dengan Allah dan membenarkan kerasulan Nabi-Nya, Muhammad saw.
Tidak mengherankan kalau Sa’id secepat itu memperkenankan seruan Muhammad. Sa’id lahir dan dibesarkan dalam rumah tangga yang mencela dan mengingkari kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy yang sesat itu. Sa’id dididik dalam kamar seorang ayah yang sepanjang hidupnya giat mencari agama yang hak. Bahkan dia mati ketika sedang berlari kepayahan mengejar agama yang hak.
Sa’id masuk Islam tidak seorang diri. Dia Islam bersama-sama isterinya, Fathimah binti Al Khatthab, adik perempuan ‘Umar bin Khatthab. Karena pemuda Quraisy ini masuk Islam, dia disakiti dan diani’aya, dipaksa oleh kaumnya supaya kembali kepada agama mereka. Tetapi jangankan orang Quraisy berhasil mengembalikan Sa’id suami isteri kepada kepercayaan nenek moyang mereka, sebaliknya Sa’id dan isterinya sanggup menarik seorang laki-laki Quraisy yang paling berbobot baik pisik maupun intelektualnya masuk ke dalam Islam. Mereka berdualah yang telah menyebabkan ‘Umar bin Khatthab masuk Islam.
Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail membaktikan segenap daya dan tenaganya yang muda untuk berkhidmat kepada Islam. Ketika dia masuk Islam umurnya belum lebih dari dua puluh tahun. Dia turut berperang bersama-sama Rasulullah dalam setiap peperangan, selain peperangan Badar. Ketika itu dia sedang melaksanakan suatu tugas penting lainnya yang ditugaskan Rasulullah kepadanya. Dia turut mengambil bagian bersama-sama kaum muslimin mencabut singgasana Kisra Persia dan menggulingkan ke Kaisaran Rum. Dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin dia selalu memperlihatkan penampilan dengan reputasi terpuji. Agakanya yang paling mengejutkan ialah reputasinya yang tercatat dalam peperangan Yarmuk. Marilah kita dengarkan sedikit kisahnya pada hari itu.
Berkata Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail, “Ketika terjadi perang Yarmuk, pasukan kami semuanya berjumlah 24.000 orang tentara. Sedangkan tentara Rum yang kami hadapi berjumlah 120.000 tentara. Musuh bergerak ke arah kami dengan langkah-langkah yang mantap bagaikan sebuah bukit yang digerakkan tangan-tangan tersembunyi. Di muka sekali berbaris Pendeta-pendeta, Perwira-perwira tinggi/panglima-panglima, dan Paderi-paderi yang membawa kayu salib sambil mengeraskan suara membaca do’a. Do’a itu diulang-ulang oleh tentara yang berbaris di belakang mereka dengan suaru mengguntur.
Tatkala tentara kaum muslimin melihat musuh mereka seperti itu, kebanyakan mereka terkejut, lalu timbul takut di hati mereka. Abu ‘Ubaidah bangkit mengobarkan semangat jihad kepada mereka. Kata Abu ‘Ubaidah dalam pidatonya antara lain, “Wahai hamba-hamba Allah! Menangkan agama Allah! Pasti Allah akan menolong kamu, dan memberikan kekuatan kepada kamu!
“Wahai hamba-hamba Allah! Tabahkan hati kalian! Karena ketabahan adalah jalan lepas dari kekafiran; jalan mencapai keridhaan Allah, dan menolak kehinaan.
“Siapkan lembing dan perisai! Tetaplah tenang dan diam! Kecuali dzikrullah (mengingat Allah) dalam hati kalian masing-masing.
“Tunggu perintah saya selanjutnya! Insya Allah!”
Kemudian Sa’id melanjutkan ceritanya. Tiba-tiba seorang prajurit muslim keluar dari barisan dan berkata kepada Abu ‘Ubaidah, “Saya ingin syahid sekarang. Adakah pesan-pesan Anda kepada Rasulullah?”
Jawab Abu ‘Ubaidah, “Ya, ada! Sampaikan salam saya dan salam kaum muslimin kepada beliau. Katakan kepada beliau, sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan kami benar-benar terbukti!”
Sesudah dia mengucapkan kata-katanya itu, saya lihat dia menghunus pedang dan terus maju menyerang musuh-musuh Allah. Saya membanting diri ke tanah, dan berdiri di atas lutut saya. Saya bidikkan lembing saya, lalu saya tikam seorang melompat menghadang musuh. Tanpa terasa, perasaan takut lenyap dengan sendirinya di hati saya. Tentara muslimin bangkit menyerbu tentara Rum. Perang berkecamuk segera berkobar dengan hebat. Akhirnya Allah memenangkan kaum muslimin.
Sa’id bin menjadi wali kota Damsyiq
Sesudah itu Sa’id bin Zaid turut berperang menaklukkan Damsyiq. Setelah kaum muslimin memperlihatkan kepatuhan, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah mengangkat Sa’id menjadi Wali di sana. Dialah Wali Kota pertama dari kaum muslimin setelah kota itu dikuasai.
Di masa pemerintahan Bani Umaiyah, Sa’id bin Zaid dituduh merampas tanahnya yang saling berbatasan. Tuduhan tersebut digunjingkannya kepada kaum muslimin. Kemudian dia mengadu kepada Marwan bin Hakam Wali Kota Madinah ketika itu.
Marwan mengirim beberapa petugas menanyakan kepada Sa’id tentang tuduhan wanita tersebut. Sahabat Rasulullah ini merasa prihatin atas tuduhan yang dituduhkan kepadanya. Kata Sa’id, “Dia menuduh saya menzaliminya (merampas tanahnya yang berbatas dengan tanah saya). Bagaimana mungkin saya menzaliminya, padahal saya telah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Siapa yang mengambil tanah orang lain walaupun sejengkal, nanti di hari kiamat Allah akan memikulkan tujuh lapis bumi kepadanya.’ Wahai Allah! Dia menuduh saya menzaliminya. Seandainya tuduhannya itu palsu, butakanlah matanya dan ceburkan dia ke sumur yang dipersengketakannya dengan saya. Buktikanlah kepada kaum muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hak saya dan bahwa saya tidak pernah menzaliminya.”
Tidak berapa lama kemudian, terjadi banjir yang belum pernah terjadi seperti itu sebelumnya. Maka terbukalah tanda batas tanah Sa’id dan tanah Arwa yang mereka perselisihkan. Kaum muslimin memperoleh bukti, Sa’idlah yang benar, sedangkan tuduhan wanita itu palsu. Hanya sebulan antaranya sesudah itu, wanita tersebut menjadi buta. Ketika dia berjalan meraba-raba di tanah yang dipersengketakannya, dia pun jatuh ke dalam sumur.
Kata ‘Abdullah bin Umar, “Memang, ketika kami masih kanak-kanak, kami mendengar orang berkata bila mengutuk orang lain, ‘Dibutakan Allah kamu seperti Arwa.”
Peristiwa itu sesungguhnya tidak begitu mengherankan. Karena Rasulullah pernah bersabda: “Takutilah do’a orang teraniaya. Karena antara dia dengan Allah tidak ada batas.”
Maka apa pulakah lagi kalau yang teraniaya itu salah seorang dari sepuluh sahabat Rasulullah yang telah dijamin beliau masuk surga; Sa’id bin Zaid.
“Wahai Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku Sa’id diharamkan pula daripadanya.” (Do’a Zaid untuk anaknya Sa’id)
ZAID BIN ‘AMR BIN NUFAIL,(ayahada Said) berdiri dari orang banyak yang berdesak-desak menyaksikan kaum Quraisy berpesta merayakan salah satu hari besar mereka.
Kaum pria memakai serban Sundusi yang mahal, yang kelihatan seperti kerudung Yaman yang lebih mahal. Kaum wanita dan anak-anak berpakaian bagus warna manyala, dan mengenakan perhiasan indah-indah. Hewan-hewan ternak pun dipakaikan bermacam-macam perhiasan ditarik orang untuk disembelih di hadapan patung-patung yang mereka sembah.
Zaid bersandar ke dinding Ka’bah seraya berkata, “Hai kaum Quraisy! Hewan itu diciptakan oleh Allah. Dialah yang menurunkan hujan dari langit supaya hewan-hewan itu minum sepuas-puasnya. Dialah yang menumbuhkan rumput-rumputan, supaya hewan-hewan itu makan sekenyang-kenyangnya. Kemudian kalian sembelih hewan-hewan itu tanpa menyebut nama-Nya. Sungguh bodoh dan sesat kalian!”
Al Khatthab, ayah ‘Umar bin Khatthab berdiri menghampiri Zaid, lalu ditamparnya Zaid. Kata Al Khatthab, “Kurang ajar kau! Kami sudah sering mendengar kata-katamu yang kotor itu. Namun kami biarkan saja. Kini kesabaran kami sudah habis!” Kemudian dihasutnya orang-orang bodoh supaya menyakiti Zaid. Zaid benar-benar disakiti mereka dengan sungguh-sungguh sehingga dia terpaksa menyingkir dari kota Makkah ke bukit Hira’.
Al Khatthab menyerahkan urusan Zaid kepada sekelompok pemuda Quraisy untuk menghalang-halanginya masuk kota. Karena itu Zaid terpaksa pulang dengan sembunyi-sembunyi.
Kemudian Zaid bin ‘Amr bin Nufail berkumpul — ketika orang-orang Quraisy lengah — bersama-sama dengan Waraqah bin Naufal, ‘Abdullah bin Jahsy, ‘Utsman bin Harits, dan Umaimah binti ‘Abdul Muthalib bibi Nabi Muhammad Saw. Mereka berbicara mengenai kepercayaan masyarakat ‘Arab yang sudah jauh tersesat. Kata Zaid, “Demi Allah! Sesungguhnya saudara-saudara sudah maklum bangsa kita sudah tidak mempunyai agama. Mereka sudah sesat dan menyeleweng dari agama Ibrahim yang lurus. Karena itu marilah kita pelajari suatu agama yang dapat kita pegang jika saudara-saudara ingin beruntung.”
Keempat orang itu pergi menemui pendeta-pendeta Yahudi, Nasrani, dan pemimpin-pemimpin agama lain untuk menyelidiki dan mempelajari agama Ibrahim yang murni. Waraqah bin Naufal meyakini agama Nasrani. ‘Abdullah bin Jahsy dan ‘Utsman bin Harits tidak menemukan apa-apa. Sedangkan Zaid bin ‘Amr bin Nufail mengalami kisah tersendiri. Marilah kita dengar ceritanya.
Kata Zaid, “Saya pelajari agama Yahudi dan Nasrani. Tetapi keduanya saya tinggalkan karena saya tidak memperoleh sesuatu yang dapat menenteramkan hati saya dalam kedua agama tersebut. Lalu saya berkelana ke seluruh pelosok mencari agama Ibrahim. Ketika saya sampai ke negeri Syam, saya diberitahu tentang seorang Rahib yang mengerti Ilmu Kitab. Maka saya datangi Rahib tersebut, lalu saya ceritakan kepadanya pengalaman saya belajar agama.
Kata Rahib tersebut, “Saya tahu anda sedang mencari agama Ibrahim, hai putera Makkah.”
Jawabku, “Betul, itulah yang saya inginkan!”
Kata Rahib, “Anda mencari agama yang dewasa ini sudah tak mungkin lagi ditemukan. Tetapi pulanglah Anda ke negeri Anda. Allah akan membangkitkan seorang Nabi di tengah-tengah bangsa Anda untuk menyempurnakan agama Ibrahim. Bila Anda bertemu dengan dia, tetaplah Anda bersamanya.”
Zaid berhenti berkelana. Dia kembali ke Makkah menunggu Nabi yang dijanjikan. Ketika Zaid sedang dalam perjalanan pulang, Allah mengutus Muhammad menjadi Rasul dengan agama yang hak. Tetapi Zaid belum sempat bertemu dengan beliau, dia dihadang perompak-perompak Badui di tengah jalan, dan terbunuh sebelum ia sampai kembali ke Makkah. Waktu dia akan menghembuskan nafas yang terakhir, Zaid menengadah ke langit dan berkata, “Wahai Allah! Jika Engkau mengharamkanku dari agama lurus ini, maka janganlah anakku Sa ‘id diharamkan pula daripadanya.”
SA’ID BIN ZAID
Allah memperkenankan do’a Zaid. Serentak Rasulullah mengajak orang banyak masuk Islam, Sa’id segera memenuhi panggilan beliau, menjadi pelopor orang-orang yang beriman dengan Allah dan membenarkan kerasulan Nabi-Nya, Muhammad saw.
Tidak mengherankan kalau Sa’id secepat itu memperkenankan seruan Muhammad. Sa’id lahir dan dibesarkan dalam rumah tangga yang mencela dan mengingkari kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy yang sesat itu. Sa’id dididik dalam kamar seorang ayah yang sepanjang hidupnya giat mencari agama yang hak. Bahkan dia mati ketika sedang berlari kepayahan mengejar agama yang hak.
Sa’id masuk Islam tidak seorang diri. Dia Islam bersama-sama isterinya, Fathimah binti Al Khatthab, adik perempuan ‘Umar bin Khatthab. Karena pemuda Quraisy ini masuk Islam, dia disakiti dan diani’aya, dipaksa oleh kaumnya supaya kembali kepada agama mereka. Tetapi jangankan orang Quraisy berhasil mengembalikan Sa’id suami isteri kepada kepercayaan nenek moyang mereka, sebaliknya Sa’id dan isterinya sanggup menarik seorang laki-laki Quraisy yang paling berbobot baik pisik maupun intelektualnya masuk ke dalam Islam. Mereka berdualah yang telah menyebabkan ‘Umar bin Khatthab masuk Islam.
Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail membaktikan segenap daya dan tenaganya yang muda untuk berkhidmat kepada Islam. Ketika dia masuk Islam umurnya belum lebih dari dua puluh tahun. Dia turut berperang bersama-sama Rasulullah dalam setiap peperangan, selain peperangan Badar. Ketika itu dia sedang melaksanakan suatu tugas penting lainnya yang ditugaskan Rasulullah kepadanya. Dia turut mengambil bagian bersama-sama kaum muslimin mencabut singgasana Kisra Persia dan menggulingkan ke Kaisaran Rum. Dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin dia selalu memperlihatkan penampilan dengan reputasi terpuji. Agakanya yang paling mengejutkan ialah reputasinya yang tercatat dalam peperangan Yarmuk. Marilah kita dengarkan sedikit kisahnya pada hari itu.
Berkata Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail, “Ketika terjadi perang Yarmuk, pasukan kami semuanya berjumlah 24.000 orang tentara. Sedangkan tentara Rum yang kami hadapi berjumlah 120.000 tentara. Musuh bergerak ke arah kami dengan langkah-langkah yang mantap bagaikan sebuah bukit yang digerakkan tangan-tangan tersembunyi. Di muka sekali berbaris Pendeta-pendeta, Perwira-perwira tinggi/panglima-panglima, dan Paderi-paderi yang membawa kayu salib sambil mengeraskan suara membaca do’a. Do’a itu diulang-ulang oleh tentara yang berbaris di belakang mereka dengan suaru mengguntur.
Tatkala tentara kaum muslimin melihat musuh mereka seperti itu, kebanyakan mereka terkejut, lalu timbul takut di hati mereka. Abu ‘Ubaidah bangkit mengobarkan semangat jihad kepada mereka. Kata Abu ‘Ubaidah dalam pidatonya antara lain, “Wahai hamba-hamba Allah! Menangkan agama Allah! Pasti Allah akan menolong kamu, dan memberikan kekuatan kepada kamu!
“Wahai hamba-hamba Allah! Tabahkan hati kalian! Karena ketabahan adalah jalan lepas dari kekafiran; jalan mencapai keridhaan Allah, dan menolak kehinaan.
“Siapkan lembing dan perisai! Tetaplah tenang dan diam! Kecuali dzikrullah (mengingat Allah) dalam hati kalian masing-masing.
“Tunggu perintah saya selanjutnya! Insya Allah!”
Kemudian Sa’id melanjutkan ceritanya. Tiba-tiba seorang prajurit muslim keluar dari barisan dan berkata kepada Abu ‘Ubaidah, “Saya ingin syahid sekarang. Adakah pesan-pesan Anda kepada Rasulullah?”
Jawab Abu ‘Ubaidah, “Ya, ada! Sampaikan salam saya dan salam kaum muslimin kepada beliau. Katakan kepada beliau, sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan kami benar-benar terbukti!”
Sesudah dia mengucapkan kata-katanya itu, saya lihat dia menghunus pedang dan terus maju menyerang musuh-musuh Allah. Saya membanting diri ke tanah, dan berdiri di atas lutut saya. Saya bidikkan lembing saya, lalu saya tikam seorang melompat menghadang musuh. Tanpa terasa, perasaan takut lenyap dengan sendirinya di hati saya. Tentara muslimin bangkit menyerbu tentara Rum. Perang berkecamuk segera berkobar dengan hebat. Akhirnya Allah memenangkan kaum muslimin.
Sa’id bin menjadi wali kota Damsyiq
Sesudah itu Sa’id bin Zaid turut berperang menaklukkan Damsyiq. Setelah kaum muslimin memperlihatkan kepatuhan, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah mengangkat Sa’id menjadi Wali di sana. Dialah Wali Kota pertama dari kaum muslimin setelah kota itu dikuasai.
Di masa pemerintahan Bani Umaiyah, Sa’id bin Zaid dituduh merampas tanahnya yang saling berbatasan. Tuduhan tersebut digunjingkannya kepada kaum muslimin. Kemudian dia mengadu kepada Marwan bin Hakam Wali Kota Madinah ketika itu.
Marwan mengirim beberapa petugas menanyakan kepada Sa’id tentang tuduhan wanita tersebut. Sahabat Rasulullah ini merasa prihatin atas tuduhan yang dituduhkan kepadanya. Kata Sa’id, “Dia menuduh saya menzaliminya (merampas tanahnya yang berbatas dengan tanah saya). Bagaimana mungkin saya menzaliminya, padahal saya telah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Siapa yang mengambil tanah orang lain walaupun sejengkal, nanti di hari kiamat Allah akan memikulkan tujuh lapis bumi kepadanya.’ Wahai Allah! Dia menuduh saya menzaliminya. Seandainya tuduhannya itu palsu, butakanlah matanya dan ceburkan dia ke sumur yang dipersengketakannya dengan saya. Buktikanlah kepada kaum muslimin sejelas-jelasnya bahwa tanah itu adalah hak saya dan bahwa saya tidak pernah menzaliminya.”
Tidak berapa lama kemudian, terjadi banjir yang belum pernah terjadi seperti itu sebelumnya. Maka terbukalah tanda batas tanah Sa’id dan tanah Arwa yang mereka perselisihkan. Kaum muslimin memperoleh bukti, Sa’idlah yang benar, sedangkan tuduhan wanita itu palsu. Hanya sebulan antaranya sesudah itu, wanita tersebut menjadi buta. Ketika dia berjalan meraba-raba di tanah yang dipersengketakannya, dia pun jatuh ke dalam sumur.
Kata ‘Abdullah bin Umar, “Memang, ketika kami masih kanak-kanak, kami mendengar orang berkata bila mengutuk orang lain, ‘Dibutakan Allah kamu seperti Arwa.”
Peristiwa itu sesungguhnya tidak begitu mengherankan. Karena Rasulullah pernah bersabda: “Takutilah do’a orang teraniaya. Karena antara dia dengan Allah tidak ada batas.”
Maka apa pulakah lagi kalau yang teraniaya itu salah seorang dari sepuluh sahabat Rasulullah yang telah dijamin beliau masuk surga; Sa’id bin Zaid.
UMAIR BIN SA’AD SAHABAT RASULULLAH saw….
Posted by Bustamam Ismail on May 21, 2008
“Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umar bin Sa’ad untuk membantu melola masyarakat kaum muslimin.” (Ucapan ’Umar bin Khatthab)
‘UMAIR BIN SA’AD AL ANSHARY, telah merasa hidup yatim dan miskin sejak ia masih kecil. Bapaknya meninggal dunia tanpa meninggalkan harta warisan yang mencukupi. Tetapi untunglah ibunya segera kawin kembali dengan seorang laki-laki kaya dari suku Aus, Al Julas bin Suwaid. Maka ‘Umair ditanggung oleh Julas dan dikumpulkannya ke dalam keluarganya.
Sejak itu ‘Umair menemukan jasa-jasa baik Julas, pemeliharaan yang bagus, keindahan belas-kasih, sehingga ‘Umair dapat melupakan bahwa ia telah yatim.
‘Umair menyayangi Julas sebagai layaknya sayang seorang anak kepada bapak. Begitu pula Julas, sangat menyintai ‘Umair sebagai lazimnya cinta bapak kepada anak. Setiap usia ‘Umair bertambah dan menjadi remaja, bertambah pula kasih sayang dan simpati Julas kepadanya, karena pembawaannya yang cerdas dan perbuatan mulia yang selalu diperlihatkannya, kehalusan budi pekerti, amanah dan jujur yang senantiasa diperagakannya.
‘Umair bin Sa’ad masuk Islam dalam usia yang sangat muda, kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit. Ketika itu Iman telah mantap dalam hatinya yang masih segar, lembut dan polos. Karena itu Iman melekat pada dirinya dengan kokoh. Dan Islam mendapatkan jiwanya yang bersih dan halus, bagaikan mendapatkan tanah subur. Dalam usia seperti itu ‘Umair tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ibunya senantiasa diliputi kegembiraan setiap melihat anaknya pergi atau pulang dari masjid, kadang-kadang bersama-sama suaminya dan kadang-kadang anaknya seorang diri.
Kehidupan ‘Umair bin Sa’ad di waktu kecil berjalan lancar, senang dan tenang, tidak ada yang mengeruhkan dan mengotori. Sehingga tiba masanya Allah menghendaki untuk mengembangkan jiwa anak kecil yang akan meningkat remaja ini dengan suatu latihan berat, dan mengujinya dengan ujian yang jarang dilalui anak-anak sebaya dia.
Tahun kesembilan hijriyah Rasulullah saw. mengumumkan hendak: memerangi tentara Rum di Tabuk (Tabuk, suatu tempat dalam wilayah pcmerintahan Syam. Di sana pernah terjadi peperangan yang sangat terkenal antara kaum muslimin dengan tentara Rum). Beliau memerintahkan kaum muslimin supaya bersiap-siap menghadapi peperangan tersebut. Biasanya bila Rasulullah hendak pergi berperang, beliau tidak pernah mengumumkan sasaran yang akan dituju, kecuali pada peperangan Tabuk. Rasulullah menjelaskan kepada kaum muslimin sasaran yang dituju, karena akan menempuh perjalanan jauh dan sulit, serta kekuatan musuh berlipat ganda, supaya kaum muslimin mengerti tugas mereka mempersiapkan diri menghadapi peperangan tersebut. Di samping itu musim panas telah mulai dengan suhu yang menyengat. Buah-buahan sudah berbuah dan mulai masak. Awan bagus. Setiap orang cenderung hendak berlambat-lambat
dan bermalas-malasan. Namun kaum muslimin yang setia dan patuh memperkenankan seruan Nabi mereka, mempersiapkan segala sesuatunya untuk perang dengan cepat dan cermat.
Lain lagi golongan munafik. Mereka sengaja mengulur-ulur waktu. Memandang enteng setiap hal yang penting-penting; membangkitkan keragu-raguan; bahkan mencela kebijaksanaan Rasulullah saw. dan mengucapkan kata-kata beracun di majelis-majelis khusus mereka, yang menimbulkan kekafiran.
Beberapa hari sebelum keberangkatan pasukan tentara muslimin ke medan perang Tabuk, Umair bin Sa’ad yang baru meningkat remaja pulang ke rumahnya sesudah shalat di masjid. Jiwanya sangat tergugah menyaksikan pengorbanan yang sangat gemilang, tulus dan ikhlas, dari sego-longan kaum muslimin, yang dilihat dan didengarnya dengan mata kepala dan telinganya sendiri. Dia menyaksikan para wanita muhajirat dan anshar, dengan spontan menyambut seruan Rasulullah. Mereka tanggalkan perhiasan mereka seketika itu juga, lalu diserahkannya kepada Rasulullah untuk biaya perang fi sabilillah. Dia menyaksikan dengan mata sendiri. ‘Utsman bin ‘Affan datang membawa pundi-pundi berisi ribuan dinar emas, lalu diserahkannya kepada Rasulullah. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf datang pula membawa dua ratus Uqiyah (1 Uqiyah = 1/2 tahil) emas dan diserahkannya kepada Nabi yang mulia. Bahkan dia melihat seorang laki-laki menjual tempat tidur untuk membeli sebuah pedang yang akan dibawa dan dipakainya berperang fi sabilillah.
Umair merasa bangga melihat kepatuhan dan pengorbanan yang amat mengesankannya itu. Sebaliknya dia amat heran melihat orang-orang yang bersikap acuh tak acuh melakukan persiapan untuk berangkat bersama-sama Rasulullah, dan mengundur-ngundur waktu menyerahkan sumbangan kepada beliau, padahal orang itu mampu dan cukup kaya melakukannya segerai mungkin. Karena itu jiwanya tergerak hendak membangkitkan semangat orang-orang yang lalai dan acuh tak acuh ini. Maka diceritakannya kepada mereka segala peristiwa yang dilihat dan di-dengarnya mengenai sumbangan dan pengorbanan golongan orang-orang mu’min yang patuh dan setia kepada Rasulullah, terutama cerita mengenai orang-orang yang datang kepada Rasulullah dengan beriba-iba memohon supaya mereka diterima menjadi anggota pasukan yang akan turut berperang. Tetapi Rasulullah menolak permohonan mereka, karena mereka tidak mempunyai kuda atau unta kendaraan sendiri. Lalu orang-orang itu pulang sambil menangis sedih, karena tidak mempunyai kendaraan untuk mencapai cita-cita mereka hendak turut berjihad dan membuktikan keinginannya memperoleh syahid.
Tetapi tatkala kaum munafik yang sengaja berlalai-lalai dan acuh tak acuh ini mendengar cerita ‘Umair yang dikiranya akan membangkitkan semangat juang dan pengorbanan mereka, malah sebaliknya ‘Umair menerima jawaban berupa kata-kata yang sungguh-sungguh membingungkan pemuda cilik yang mu’min ini. Mereka berkata, “Seandainya apa yang dikatakan Muhammad tentang kenabian itu benar adanya, tentulah kami lebih buruk daripada keledai.”
‘Umair sungguh bingung mendengar ucapan itu. Dia tidak menyangka sedikit juapun kata-kata seperti itu justru keluar dari mulut orang dewasa yang cerdas, Julas bin Suwaid, bapak tiri yang mengasuh dan membesarkannya selama ini; kata-kata yang nyata-nyata mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari Iman dan Islam, beralih menjadi kafir seketika itu juga, melalui pintu utama yang paling lebar.
Sementara kebingungan, anak itu juga memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya. Dia mengambil kesimpulan, bahwa Julas diam, tidak turut mengambil bagian dalam kegiatan persiapan perang, adalah suatu pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya; jelas membahayakan Islam, dan termasuk taktik kaum munafik yang ditiup-tiupkannya sesama mereka. Sedangkan melaporkan dan menyiarkan ucapan Julas, berarti mendurhakai orang yang selama ini telah dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri. Berarti pula membalas air susu dengan tuba. Demikian analisa ‘Umair.
Anak kecil itu merasa dia harus berani mengambil keputusan segera; melaporkan dan menyiarkan ucapan ayah tirinya atau diam seribu bahasa. Dia memilih melapor. Lalu dia berkata kepada Julas, “Demi Allah, hai Pak Julas! Tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih saya cintai selain dari Muhammad Rasulullah. Bahkan dia lebih saya cintai dari Bapak sendiri. Bapak memang sangat berjasa kepada saya, karena telah turun tangan membahagiakan saya. Tetapi Bapak telah mengucapkan kata-kata yang jika saya laporkan pasti akan memalukan Bapak. Sebaliknya jika saya diamkan berarti saya mengkhianati amanah yang akan mencelakakan diri serta agama saya. Sesungguhnya saya telah bertekad hendak melaporkan dan menyampaikan ucapan Bapak kepada Rasulullah, dan Bapak akan menjadi saksi nyata terhadap urusan Bapak sendiri.
‘Umair bin Sa’ad yang masih anak-anak pergi ke masjid, lalu dilaporkannya kepada Rasulullah kata-kata yang didengarnya sendiri dari bapak tirinya, Julas bin Suwaid. Rasulullah meminta ‘Umair supaya tinggal lebih dahulu dekat beliau. Sementara itu beliau menyuruh seorang sahabat memanggil Julas. Tidak berapa lama kemudian Julas pun datang. Rasulullah memanggilnya supaya duduk di hadapan beliau.
Beliau bertanya, “Betulkah Anda mengucapkan kata-kata seperti yang saya dengar dari ‘Umair bin Sa’ad?”
Jawab Julas, “Anak itu dusta, ya Rasulullah saya tidak pernah mengucapkan kata-kata demikian!”
Para sahabat memandang Julas dan ‘Umair bergantian, seolah-olah mereka ingin membaca di wajah keduanya apa sesungguhnya yang tersirat dalam hati mereka berdua. Lalu para sahabat berbisik-bisik sesama mereka, “Anak ini sungguh durhaka. Dia jahat terhadap orang yang telah berjasa besar mengasuh dan membesarkannya.”
Kata yang lain, “Tidak! Dia anak yang ta’at kepada Allah. Wajahnya cantik dan elok memancarkan cahaya iman, menunjukkan dia benar.”
Rasulullah menoleh kepada ‘Umair. Kelihatan oleh beliau wajah anak itu merah padam. Air matanya jatuh berderai di pipinya. Kata ‘Umair mendo’a, “Wahai Allah! Turunkanlah saksi kepada Nabi-Mu, bahwa aku benar.”
Kata Julas memperkuat pengakuannya, “Ya Rasululah sesungguhnya apa yang saya katakan kepada Anda tadi itulah yang benar. Jika Anda menghendaki, saya berani bersumpah di hadapan Anda. “Saya bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya saya tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti yang dilaporkan ‘Umair kepada Anda.”
Setelah Julas selesai mengucapkan sumpah, seluruh mata yang hadir memandang kepada ‘Umair bin Sa’ad, sehingga Rasulullah saw. diam sambil memicingkan mata, menunjukkan wahyu sedang turun. Para sahabat memaklumi hal itu. Mereka pun diam tidak berbunyi sedikit juapun. Tidak ada yang berkata-kata dan bergerak. Semua mata tertuju kepada Rasulullah saw.
Melihat Rasulullah kedatangan wahyu, Julas menjadi ketakutan. Dia menyesal dan menengok kepada ‘Umair. Situasi seperti itu berlangsung sampai wahyu selesai turun. Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat yang baru diterima beliau:
“Mereka bersumpah dengan (menyebut nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakannya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah memeluk Islam, dan mereka memutuskan apa yang tidak dapat. mereka jalankan (untuk membunuh Nabi saw., menghancurkan Islam dan kaum muslimin). Mereka mencela (Allah dan Rasul-Nya) tidak lain hanyalah karena Allah telah mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Tetapi jika mereka tobat, itulah yang paling baik bagi mereka, dan jika mereka membelakang, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan pembantu di muka bumi.”(Taubah,9:74)
Julas gemetar mendengar ayat yang sangat menakutkannya itu. Dia hampir tak dapat bicara karena terkejut. Kemudian dia berpaling kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “. Sayalah Saya tobat, ya Rasulullah . . . , saya tobat . . . ‘Umairlah yang benar, ya Rasulullah, sayalah yang dusta. Sudilah Anda memohonkan kepada Allah, semoga Dia menerima tobat saya. Saya bersedia menebus kesalahan saya, ya Rasulullah!”
Rasulullah menghadapkan mukanya kepada ‘Umair bin Sa’ad yang tiba-tiba bercucuran air mata gembira membasahi mukanya yang berseri oleh cahaya Iman. Lalu Rasulullah gembira mengulurkan tangannya yang mulia menarik telinga ‘Umair dengan lembut seraya berkata, “Telingamu cukup nyaring, nak! Allah membenarkan apa yang engkau dengar.”
Julas telah kembali ke dalam Islam dan menjadi muslim yang baik. Para sahabat telah sama mengetahui bagaimana besarnya jasa baik Julas mengasuh dan membesarkan ‘Umair selaku anak tiri. Dia bertanggung jawab penuh sebagai layaknya bapak kandung ‘Umair. Setiap kali orang menyebut nama ‘Umair di hadapannya, dia berkata dengan tulus, “Semoga Allah membalasi ‘Umair dengan segala kebajikan, karena dia telah membebaskan saya dari kekafiran dan dari api neraka.”
Kisah yang kita ceritakan ini, belum merupakan gambaran puncak dari kehidupan ‘Umair, melainkan baru merupakan gambaran kehidupannya waktu kecil. Marilah kita lihat gambaran kehidupannya yang lebih gemilang dan indah di waktu mudanya.
Barusan telah kita lihat dengan jelas bentuk kehidupan sahabat yang mulia, ‘Umair bin Sa’ad, waktu dia masih kanak-kanak. Sekarang marilah kita lihat bentuk kehidupannya yang cemerlang saat dia telah diewasa. Anda akan menyaksikan kehidupannya tahap kedua ini tidak kurang gemilangnya dari tahap pertama, agung dan megah.
JADI GUBERNUR HIMS
Penduduk Himsh sangat kritis terhadap para pembesar mereka, sehingga mereka sering mengadu kepada khalifah. Setiap pembesar yang baru datang memerintah, ada saja celanya bagi mereka. Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu, lalu dilaporkannya kepada khalifah, dan minta diganti dengan yang lebih baik.
Karena itu Khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat, dan yang namanya belum pernah rusak untuk menjadi Gubernur di sana. Lalu beliau sebar pembantu-pembantunya melihat-lihat orang yang paling tepat. Maka tidak diperolehnya orang yang lebih baik, selain dari Umair bin Sa’ad. Tetapi sayang, ‘Umair ketika itu sedang bertugas memimpin pasukannya berperang fi sabilillah di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil membebaskan beberapa kota, menghancurkan beberapa benteng, mendudukkan beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang dilaluinya.
Saat seperti itulah Amirul Mu’minin memanggilnya kembali ke Madinah, untuk memangku jabatan Gubernur di Himsh. khalifah ‘Umar memerintahkannya supaya segera berangkat ke Himsh. ‘Umair menerima perintah tersebut dengan hati enggan, karena baginya tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah.
Setibanya di Himsh, dipanggilnya orang banyak berkumpul ke masjid untuk shalat berjama’ah. Selesai shalat dia berpidato. Mula-mula dia memuji Allah dan mengucapkan salawat untuk Nabi. Kemudian dia berkata:
“Hai, manusia! Sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kokoh, dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan, dan pintunya ialah kebenaran (al haq). Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, maka pertahanan agama ini akan sirna. Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang hak.”
Selesai berpidato, dia langsung bertugas sesuai dengan khiththah yang telah digariskannya dalam pidatonya yang singkat itu.
‘Umair bin Sa’ad bertugas sebagai Gubernur di Himsh hanya setahun penuh. Selama itu tak sepucuk pun dia menulis surat kepada Amirul Mu’minin. Dan tidak satu dinar atau satu dirham pun dia menyetorkan pajak ke Baitul Maal Muslimin (Perbendaharaan Negara) di Madinah. Karena itu timbul curiga di hati Khalifah Umar. Dia sangat kuatir kalau-kalau pemerintahan yang dipimpin ‘Umair mengalami bencana (menyelewengkan uang negara) karena tidak ada orang yang ma’shum (terpilihara dari dosa) selain Rasulullah saw. Lalu beliau perintahkan sekretaris negara menulis surat kepada Gubernur ‘Umair.
Kata Khalifah Umar, “Tulis surat kepada ‘Umair, katakan kepadanya: “Bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkan Himsh dan segera datang menghadap Amirul Mu’minin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin!”
Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur ‘Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudhu’ dalam perjalanan. Lalu dia berangkat meninggalkan Himsh, para pembesar dan rakyat yang dipimpinnya. Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh.
‘Umair segera masuk menghadap Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab. Khalifah Umar terkejut melihat keadaan ‘Umair, lalu bertanya, “Bagaimana keadaan Anda, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Tidak kurang suatu apa. Saya sehat dan ‘afiat. Alhamdulillah! Saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya.”
Tanya Khalifah Umar, “Dunia manakah yang Anda bawa?” (Khalifah menduga, dia membawa uang setoran pajak untuk Baitul Maal).
Jawab ‘Umair, “Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudhu’, untuk membasahi kepala dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang Iain-lain tidak saya perlukan.”
Tanya Khalifah, “Apakah Anda datang berjalan kaki?”
Jawab, “Betul, ya Amirul Mu’minin!”
Tanya, “Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?”
Jawab, “Tidak! Mereka tidak memberi saya, dan saya tidak pula memintanya dari mereka.”
Tanya, “Mana setoran yang Anda bawa untuk Baitul Maal?”
Jawab, “Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Maal.”
Tanya, “Mengapa?”
Jawab, “Sejak saya mulai tiba di Himsh, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya, saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan, dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak.”
Khalifah ‘Umar berkata kepada jurutulis, ”Perpanjang masa jabatan ‘Umair sebagai Gubernur Hismh!”
Kata ‘Umair, “Ma’af, Khalifah! Saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai sa’at ini, saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah anda, ya Amirul Mu’minin.”
Kemudian ‘Umair minta izin untuk pergi ke sebuah di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Lalu Khalifah mengizinkannya.
Belum begitu lama ‘Umair tinggal di dusun tersebut, Khalifah ‘Umar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, bagaimana kehidupannya dan apa yang diusahakannya. Lalu diperintahkannya Al Harits, seorang kepercayaan Khalifah, “Pergilah engkau menemui ‘Umair, tinggallah di rumahnya selama tiga hari sebagai tamu. Bila engkau lihat keadaannya bahagia penuh ni’mat, kembalilah sebagaimana engkau datang. Dan jika engkau lihat keadaannya melarat, berikan uang ini kepadanya!”
Khalifah ‘Umar memberikan sebuah pundi berisi seratus dinar kepada Al Harits.
Al Harits pergi ke dusun tempat Umair tinggal. Dia bertanya-tanya ke sana-sini di mana rumah ‘Umair. Setelah bertemu, Al Harits mengucapkan salam, ”Assalamu’alaika wa rahmatullah.”
Jawab ‘Umair, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Anda datang dari mana?”
Jawab Harits, “Dari Madinah!”
Tanya ‘Umair, “Bagaimana keadaan kaum muslimin sepeninggal anda?”
Jawab Harits, “Baik-baik saja.”
Tanya, “Bagaimana kabar Amirul Mu’minin?”
Jawab, “Alhamdulillah, baik.”
Tanya, “Adakah ditegakkannya hukum?”
Jawab, “Tentu, malahan baru-baru ini dia menghukum dera anaknya sendiri sampai mati, karena bersalah melakukan perbuatan keji.”
Kata ‘Umair, “Wahai Allah, tolonglah ‘Umar. Saya tahu sungguh, dia sangat mencintai-Mu, wahai Allah!”
Al Harits menjadi tamu ‘Umair selama tiga malam. Tiap malam Harits hanya dijamu dengan sebuah roti terbuat dari gandum. Pada hari ketiga, seorang laki-laki kampung berkata kepada Harits, “Sesungguhnya Anda telah menyusahkan ‘Umair dan keluarganya. Mereka tidak punya apa-apa selain roti yang disuguhkannya kepada Anda. Mereka lebih mementingkan Anda, walaupun dia sekeluarga harus menahan lapar. Jika Anda tidak keberatan, sebaiknyalah Anda pindah ke rumah saya menjadi tamu saya.”
Al Harits mengeluarkan pundi-pundi uang dinar, lalu diberikannya kepada ‘Umair.
Tanya ‘Umair, “Apa ini?”
Jawab Harits, ”Amirul Mu’minin mengirimkannya untuk Anda!”
Kata ‘Umair, “Kembalikan saja uang itu kepada beliau. Sampaikan salamku, dan katakan kepada beliau bahwasanya aku tidak membutuhkan uang itu.”
Isteri ‘Umair yang mendengar percakapan suaminya dengan Harits berteriak, “Terima saja, hai ‘Umair! Jika engkau butuh sesuatu engkau dapat membelanjakannya.
Jika tidak, engkau pun dapat membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Di sini banyak orang-orang yang butuh.”
Mendengar ucapan isteri ‘Umair, Harits meletakkan uang itu di hadapan ‘Umair, kemudian dia pergi. ‘Umair memungut uang itu lalu dimasukkannya ke dalam beberapa pundi-pundi kecil. Dia tidak tidur sampai tengah malam sebelum uang itu habis dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sangat diutamakannya memberikan kepada ank-anak yatim yang orang tuanya tewas sebagai syuhada’ di medan perang fi sabilillah.
Al Harits kembali ke Madinah. Setibanya di Madinah, Khalifah ‘Umar bertanya, “Bagaimana keadaan ‘Umair?”
Jawab Harits, “Sangat menyedihkan, ya Amirul Mu minin.”
Tanya Khalifah, “Sudah engkau berikan uang itu kepadanya?”
Jawab, “Ya, sudah ku berikan.”
Tanya, “Apa yang dibuatnya dengan uang itu?”
Jawab, “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira, uang itu mungkin hanya tinggal satu dirham saja lagi untuknya.”
Khalifah ‘Umar menulis surat kepada ‘Umair, katanya, “Bila surat ini selesai Anda baca, maka janganlah Anda letakkan sebelum datang menghadap saya.”
‘Umair bin Sa’ad datang ke Madinah memenuhi panggilan khalifah. Sampai di Madinah dia Iangsung menghadap Amirul Mu’minin. Khalifah ‘Umar mengucapkan selamat datang dan memberikan alas duduk yang dipakainya kepada ‘Umair, sebagai penghormatan.
Tanya khalifah, “Apa yang Anda perbuat dengan uang itu, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Apa maksud Anda menanyakan, sesudah uang itu Anda berikan kepadaku?”
Jawab khalifah, “Saya hanya ingin tahu, barangkali Anda mau menceritakannya.”
Jawab ‘Umair, “Uang itu saya simpan untuk saya yang menonjol di universitas Muhammad bin ‘Abdullah sendiri, dan akan saya manfa’atkan nanti pada suatu hari, ketika harta dan anak-anak tidak bermanfa’at lagi, yaitu hari kiamat.”
Mendengar jawaban ‘Umair, Khalifah ‘Umar menangis sehingga air matanya jatuh bercucuran. Katanya, “Saya menjadi saksi, bahwa sesungguhnya Anda tergolong orang-orang yang mementingkan orang-orang lain sekalipun diri Anda sendiri melarat.”
Kemudian khalifah menyuruh seseorang mengambil satu wasq (Satu Wasq, kira-kira enam puluh sha’ (gantang), atau kira-kiia seberat beban seekor unta) pangan dan dua helai pakaian, lalu diberikan-nya kepada ‘Umair.
Kata ‘Umair, “Kami tidak membutuhkan makanan, ya Amirul Mu’minin. Saya ada meninggalkan dua sha’ gandum untuk keluarga saya. Mudah-mudahan itu cukup untuk makan kami sampai Allah Ta’ala memberi lagi rezki untuk kami. Tetapi pakaian ini saya terima untuk isteri saya, karena pakaiannya sudah terlalu usang, sehingga dia hampir telanjang.”
Tidak lama sesudah pertemuan ‘Umair dengan khalifah, maka Allah mengizinkan ‘Umair untuk bertemu dengan Nabi yang sangat dicintai dan dirindukannya, yaitu Muhammad bin ‘Abdullah, Rasulullah, ‘Umair pergi menempuh jalan akhirat, mempertaruhkan jiwa raganya dengan langkah-langkah yang senantiasa mantap. Dia tidak membawa beban berat di punggung, berupa kemewahan dunia. Tetapi dia pergi dengan cahaya Allah yang selalu membimbingnya, wara’ dan taqwa.
Ketika Khalifah ‘Umar mendengar kematian ‘Umair, bukan main main sedihnya, sehingga dia mengurut dada karena menyesal. Kata khalifah, “Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umair bin Sa’ad, untuk membantu saya melola masyarakat kaum muslimin.”
Semoga Allah meredhai ‘Umair bin Sa’ad, dan semoga dia senang dalam keredhaan-Nya. Dia telah menempuh cara yang diambilnya sendiri di antara sekian banyak orang. Dan dia adalah bekas mahasiswa …
“Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umar bin Sa’ad untuk membantu melola masyarakat kaum muslimin.” (Ucapan ’Umar bin Khatthab)
‘UMAIR BIN SA’AD AL ANSHARY, telah merasa hidup yatim dan miskin sejak ia masih kecil. Bapaknya meninggal dunia tanpa meninggalkan harta warisan yang mencukupi. Tetapi untunglah ibunya segera kawin kembali dengan seorang laki-laki kaya dari suku Aus, Al Julas bin Suwaid. Maka ‘Umair ditanggung oleh Julas dan dikumpulkannya ke dalam keluarganya.
Sejak itu ‘Umair menemukan jasa-jasa baik Julas, pemeliharaan yang bagus, keindahan belas-kasih, sehingga ‘Umair dapat melupakan bahwa ia telah yatim.
‘Umair menyayangi Julas sebagai layaknya sayang seorang anak kepada bapak. Begitu pula Julas, sangat menyintai ‘Umair sebagai lazimnya cinta bapak kepada anak. Setiap usia ‘Umair bertambah dan menjadi remaja, bertambah pula kasih sayang dan simpati Julas kepadanya, karena pembawaannya yang cerdas dan perbuatan mulia yang selalu diperlihatkannya, kehalusan budi pekerti, amanah dan jujur yang senantiasa diperagakannya.
‘Umair bin Sa’ad masuk Islam dalam usia yang sangat muda, kira-kira sepuluh tahun lebih sedikit. Ketika itu Iman telah mantap dalam hatinya yang masih segar, lembut dan polos. Karena itu Iman melekat pada dirinya dengan kokoh. Dan Islam mendapatkan jiwanya yang bersih dan halus, bagaikan mendapatkan tanah subur. Dalam usia seperti itu ‘Umair tidak pernah ketinggalan shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ibunya senantiasa diliputi kegembiraan setiap melihat anaknya pergi atau pulang dari masjid, kadang-kadang bersama-sama suaminya dan kadang-kadang anaknya seorang diri.
Kehidupan ‘Umair bin Sa’ad di waktu kecil berjalan lancar, senang dan tenang, tidak ada yang mengeruhkan dan mengotori. Sehingga tiba masanya Allah menghendaki untuk mengembangkan jiwa anak kecil yang akan meningkat remaja ini dengan suatu latihan berat, dan mengujinya dengan ujian yang jarang dilalui anak-anak sebaya dia.
Tahun kesembilan hijriyah Rasulullah saw. mengumumkan hendak: memerangi tentara Rum di Tabuk (Tabuk, suatu tempat dalam wilayah pcmerintahan Syam. Di sana pernah terjadi peperangan yang sangat terkenal antara kaum muslimin dengan tentara Rum). Beliau memerintahkan kaum muslimin supaya bersiap-siap menghadapi peperangan tersebut. Biasanya bila Rasulullah hendak pergi berperang, beliau tidak pernah mengumumkan sasaran yang akan dituju, kecuali pada peperangan Tabuk. Rasulullah menjelaskan kepada kaum muslimin sasaran yang dituju, karena akan menempuh perjalanan jauh dan sulit, serta kekuatan musuh berlipat ganda, supaya kaum muslimin mengerti tugas mereka mempersiapkan diri menghadapi peperangan tersebut. Di samping itu musim panas telah mulai dengan suhu yang menyengat. Buah-buahan sudah berbuah dan mulai masak. Awan bagus. Setiap orang cenderung hendak berlambat-lambat
dan bermalas-malasan. Namun kaum muslimin yang setia dan patuh memperkenankan seruan Nabi mereka, mempersiapkan segala sesuatunya untuk perang dengan cepat dan cermat.
Lain lagi golongan munafik. Mereka sengaja mengulur-ulur waktu. Memandang enteng setiap hal yang penting-penting; membangkitkan keragu-raguan; bahkan mencela kebijaksanaan Rasulullah saw. dan mengucapkan kata-kata beracun di majelis-majelis khusus mereka, yang menimbulkan kekafiran.
Beberapa hari sebelum keberangkatan pasukan tentara muslimin ke medan perang Tabuk, Umair bin Sa’ad yang baru meningkat remaja pulang ke rumahnya sesudah shalat di masjid. Jiwanya sangat tergugah menyaksikan pengorbanan yang sangat gemilang, tulus dan ikhlas, dari sego-longan kaum muslimin, yang dilihat dan didengarnya dengan mata kepala dan telinganya sendiri. Dia menyaksikan para wanita muhajirat dan anshar, dengan spontan menyambut seruan Rasulullah. Mereka tanggalkan perhiasan mereka seketika itu juga, lalu diserahkannya kepada Rasulullah untuk biaya perang fi sabilillah. Dia menyaksikan dengan mata sendiri. ‘Utsman bin ‘Affan datang membawa pundi-pundi berisi ribuan dinar emas, lalu diserahkannya kepada Rasulullah. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf datang pula membawa dua ratus Uqiyah (1 Uqiyah = 1/2 tahil) emas dan diserahkannya kepada Nabi yang mulia. Bahkan dia melihat seorang laki-laki menjual tempat tidur untuk membeli sebuah pedang yang akan dibawa dan dipakainya berperang fi sabilillah.
Umair merasa bangga melihat kepatuhan dan pengorbanan yang amat mengesankannya itu. Sebaliknya dia amat heran melihat orang-orang yang bersikap acuh tak acuh melakukan persiapan untuk berangkat bersama-sama Rasulullah, dan mengundur-ngundur waktu menyerahkan sumbangan kepada beliau, padahal orang itu mampu dan cukup kaya melakukannya segerai mungkin. Karena itu jiwanya tergerak hendak membangkitkan semangat orang-orang yang lalai dan acuh tak acuh ini. Maka diceritakannya kepada mereka segala peristiwa yang dilihat dan di-dengarnya mengenai sumbangan dan pengorbanan golongan orang-orang mu’min yang patuh dan setia kepada Rasulullah, terutama cerita mengenai orang-orang yang datang kepada Rasulullah dengan beriba-iba memohon supaya mereka diterima menjadi anggota pasukan yang akan turut berperang. Tetapi Rasulullah menolak permohonan mereka, karena mereka tidak mempunyai kuda atau unta kendaraan sendiri. Lalu orang-orang itu pulang sambil menangis sedih, karena tidak mempunyai kendaraan untuk mencapai cita-cita mereka hendak turut berjihad dan membuktikan keinginannya memperoleh syahid.
Tetapi tatkala kaum munafik yang sengaja berlalai-lalai dan acuh tak acuh ini mendengar cerita ‘Umair yang dikiranya akan membangkitkan semangat juang dan pengorbanan mereka, malah sebaliknya ‘Umair menerima jawaban berupa kata-kata yang sungguh-sungguh membingungkan pemuda cilik yang mu’min ini. Mereka berkata, “Seandainya apa yang dikatakan Muhammad tentang kenabian itu benar adanya, tentulah kami lebih buruk daripada keledai.”
‘Umair sungguh bingung mendengar ucapan itu. Dia tidak menyangka sedikit juapun kata-kata seperti itu justru keluar dari mulut orang dewasa yang cerdas, Julas bin Suwaid, bapak tiri yang mengasuh dan membesarkannya selama ini; kata-kata yang nyata-nyata mengeluarkan orang yang mengucapkannya dari Iman dan Islam, beralih menjadi kafir seketika itu juga, melalui pintu utama yang paling lebar.
Sementara kebingungan, anak itu juga memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya. Dia mengambil kesimpulan, bahwa Julas diam, tidak turut mengambil bagian dalam kegiatan persiapan perang, adalah suatu pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya; jelas membahayakan Islam, dan termasuk taktik kaum munafik yang ditiup-tiupkannya sesama mereka. Sedangkan melaporkan dan menyiarkan ucapan Julas, berarti mendurhakai orang yang selama ini telah dianggapnya sebagai bapak kandungnya sendiri. Berarti pula membalas air susu dengan tuba. Demikian analisa ‘Umair.
Anak kecil itu merasa dia harus berani mengambil keputusan segera; melaporkan dan menyiarkan ucapan ayah tirinya atau diam seribu bahasa. Dia memilih melapor. Lalu dia berkata kepada Julas, “Demi Allah, hai Pak Julas! Tidak ada di muka bumi ini orang yang lebih saya cintai selain dari Muhammad Rasulullah. Bahkan dia lebih saya cintai dari Bapak sendiri. Bapak memang sangat berjasa kepada saya, karena telah turun tangan membahagiakan saya. Tetapi Bapak telah mengucapkan kata-kata yang jika saya laporkan pasti akan memalukan Bapak. Sebaliknya jika saya diamkan berarti saya mengkhianati amanah yang akan mencelakakan diri serta agama saya. Sesungguhnya saya telah bertekad hendak melaporkan dan menyampaikan ucapan Bapak kepada Rasulullah, dan Bapak akan menjadi saksi nyata terhadap urusan Bapak sendiri.
‘Umair bin Sa’ad yang masih anak-anak pergi ke masjid, lalu dilaporkannya kepada Rasulullah kata-kata yang didengarnya sendiri dari bapak tirinya, Julas bin Suwaid. Rasulullah meminta ‘Umair supaya tinggal lebih dahulu dekat beliau. Sementara itu beliau menyuruh seorang sahabat memanggil Julas. Tidak berapa lama kemudian Julas pun datang. Rasulullah memanggilnya supaya duduk di hadapan beliau.
Beliau bertanya, “Betulkah Anda mengucapkan kata-kata seperti yang saya dengar dari ‘Umair bin Sa’ad?”
Jawab Julas, “Anak itu dusta, ya Rasulullah saya tidak pernah mengucapkan kata-kata demikian!”
Para sahabat memandang Julas dan ‘Umair bergantian, seolah-olah mereka ingin membaca di wajah keduanya apa sesungguhnya yang tersirat dalam hati mereka berdua. Lalu para sahabat berbisik-bisik sesama mereka, “Anak ini sungguh durhaka. Dia jahat terhadap orang yang telah berjasa besar mengasuh dan membesarkannya.”
Kata yang lain, “Tidak! Dia anak yang ta’at kepada Allah. Wajahnya cantik dan elok memancarkan cahaya iman, menunjukkan dia benar.”
Rasulullah menoleh kepada ‘Umair. Kelihatan oleh beliau wajah anak itu merah padam. Air matanya jatuh berderai di pipinya. Kata ‘Umair mendo’a, “Wahai Allah! Turunkanlah saksi kepada Nabi-Mu, bahwa aku benar.”
Kata Julas memperkuat pengakuannya, “Ya Rasululah sesungguhnya apa yang saya katakan kepada Anda tadi itulah yang benar. Jika Anda menghendaki, saya berani bersumpah di hadapan Anda. “Saya bersumpah dengan nama Allah, bahwa sesungguhnya saya tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti yang dilaporkan ‘Umair kepada Anda.”
Setelah Julas selesai mengucapkan sumpah, seluruh mata yang hadir memandang kepada ‘Umair bin Sa’ad, sehingga Rasulullah saw. diam sambil memicingkan mata, menunjukkan wahyu sedang turun. Para sahabat memaklumi hal itu. Mereka pun diam tidak berbunyi sedikit juapun. Tidak ada yang berkata-kata dan bergerak. Semua mata tertuju kepada Rasulullah saw.
Melihat Rasulullah kedatangan wahyu, Julas menjadi ketakutan. Dia menyesal dan menengok kepada ‘Umair. Situasi seperti itu berlangsung sampai wahyu selesai turun. Lalu Rasulullah saw. membacakan ayat yang baru diterima beliau:
“Mereka bersumpah dengan (menyebut nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakannya. Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah memeluk Islam, dan mereka memutuskan apa yang tidak dapat. mereka jalankan (untuk membunuh Nabi saw., menghancurkan Islam dan kaum muslimin). Mereka mencela (Allah dan Rasul-Nya) tidak lain hanyalah karena Allah telah mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Tetapi jika mereka tobat, itulah yang paling baik bagi mereka, dan jika mereka membelakang, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat, dan mereka tidak mempunyai pelindung dan pembantu di muka bumi.”(Taubah,9:74)
Julas gemetar mendengar ayat yang sangat menakutkannya itu. Dia hampir tak dapat bicara karena terkejut. Kemudian dia berpaling kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “. Sayalah Saya tobat, ya Rasulullah . . . , saya tobat . . . ‘Umairlah yang benar, ya Rasulullah, sayalah yang dusta. Sudilah Anda memohonkan kepada Allah, semoga Dia menerima tobat saya. Saya bersedia menebus kesalahan saya, ya Rasulullah!”
Rasulullah menghadapkan mukanya kepada ‘Umair bin Sa’ad yang tiba-tiba bercucuran air mata gembira membasahi mukanya yang berseri oleh cahaya Iman. Lalu Rasulullah gembira mengulurkan tangannya yang mulia menarik telinga ‘Umair dengan lembut seraya berkata, “Telingamu cukup nyaring, nak! Allah membenarkan apa yang engkau dengar.”
Julas telah kembali ke dalam Islam dan menjadi muslim yang baik. Para sahabat telah sama mengetahui bagaimana besarnya jasa baik Julas mengasuh dan membesarkan ‘Umair selaku anak tiri. Dia bertanggung jawab penuh sebagai layaknya bapak kandung ‘Umair. Setiap kali orang menyebut nama ‘Umair di hadapannya, dia berkata dengan tulus, “Semoga Allah membalasi ‘Umair dengan segala kebajikan, karena dia telah membebaskan saya dari kekafiran dan dari api neraka.”
Kisah yang kita ceritakan ini, belum merupakan gambaran puncak dari kehidupan ‘Umair, melainkan baru merupakan gambaran kehidupannya waktu kecil. Marilah kita lihat gambaran kehidupannya yang lebih gemilang dan indah di waktu mudanya.
Barusan telah kita lihat dengan jelas bentuk kehidupan sahabat yang mulia, ‘Umair bin Sa’ad, waktu dia masih kanak-kanak. Sekarang marilah kita lihat bentuk kehidupannya yang cemerlang saat dia telah diewasa. Anda akan menyaksikan kehidupannya tahap kedua ini tidak kurang gemilangnya dari tahap pertama, agung dan megah.
JADI GUBERNUR HIMS
Penduduk Himsh sangat kritis terhadap para pembesar mereka, sehingga mereka sering mengadu kepada khalifah. Setiap pembesar yang baru datang memerintah, ada saja celanya bagi mereka. Dicatatnya segala kesalahan pembesar itu, lalu dilaporkannya kepada khalifah, dan minta diganti dengan yang lebih baik.
Karena itu Khalifah Umar mencari seorang yang tidak bercacat, dan yang namanya belum pernah rusak untuk menjadi Gubernur di sana. Lalu beliau sebar pembantu-pembantunya melihat-lihat orang yang paling tepat. Maka tidak diperolehnya orang yang lebih baik, selain dari Umair bin Sa’ad. Tetapi sayang, ‘Umair ketika itu sedang bertugas memimpin pasukannya berperang fi sabilillah di wilayah Syam. Dalam tugas itu dia berhasil membebaskan beberapa kota, menghancurkan beberapa benteng, mendudukkan beberapa kabilah, dan membangun masjid di setiap negeri yang dilaluinya.
Saat seperti itulah Amirul Mu’minin memanggilnya kembali ke Madinah, untuk memangku jabatan Gubernur di Himsh. khalifah ‘Umar memerintahkannya supaya segera berangkat ke Himsh. ‘Umair menerima perintah tersebut dengan hati enggan, karena baginya tidak ada yang lebih utama selain perang fi sabilillah.
Setibanya di Himsh, dipanggilnya orang banyak berkumpul ke masjid untuk shalat berjama’ah. Selesai shalat dia berpidato. Mula-mula dia memuji Allah dan mengucapkan salawat untuk Nabi. Kemudian dia berkata:
“Hai, manusia! Sesungguhnya Islam adalah benteng pertahanan yang kokoh, dan pintu yang kuat. Benteng Islam itu ialah keadilan, dan pintunya ialah kebenaran (al haq). Apabila benteng itu ambruk dan pintunya roboh, maka pertahanan agama ini akan sirna. Islam akan senantiasa kuat selama kekuasaan tegak dengan kokoh. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan cemeti dan tidak pula dengan pedang, melainkan dengan menegakkan keadilan dan melaksanakan yang hak.”
Selesai berpidato, dia langsung bertugas sesuai dengan khiththah yang telah digariskannya dalam pidatonya yang singkat itu.
‘Umair bin Sa’ad bertugas sebagai Gubernur di Himsh hanya setahun penuh. Selama itu tak sepucuk pun dia menulis surat kepada Amirul Mu’minin. Dan tidak satu dinar atau satu dirham pun dia menyetorkan pajak ke Baitul Maal Muslimin (Perbendaharaan Negara) di Madinah. Karena itu timbul curiga di hati Khalifah Umar. Dia sangat kuatir kalau-kalau pemerintahan yang dipimpin ‘Umair mengalami bencana (menyelewengkan uang negara) karena tidak ada orang yang ma’shum (terpilihara dari dosa) selain Rasulullah saw. Lalu beliau perintahkan sekretaris negara menulis surat kepada Gubernur ‘Umair.
Kata Khalifah Umar, “Tulis surat kepada ‘Umair, katakan kepadanya: “Bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkan Himsh dan segera datang menghadap Amirul Mu’minin. Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin!”
Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur ‘Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudhu’ dalam perjalanan. Lalu dia berangkat meninggalkan Himsh, para pembesar dan rakyat yang dipimpinnya. Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki. Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh.
‘Umair segera masuk menghadap Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab. Khalifah Umar terkejut melihat keadaan ‘Umair, lalu bertanya, “Bagaimana keadaan Anda, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Tidak kurang suatu apa. Saya sehat dan ‘afiat. Alhamdulillah! Saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya.”
Tanya Khalifah Umar, “Dunia manakah yang Anda bawa?” (Khalifah menduga, dia membawa uang setoran pajak untuk Baitul Maal).
Jawab ‘Umair, “Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudhu’, untuk membasahi kepala dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang Iain-lain tidak saya perlukan.”
Tanya Khalifah, “Apakah Anda datang berjalan kaki?”
Jawab, “Betul, ya Amirul Mu’minin!”
Tanya, “Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?”
Jawab, “Tidak! Mereka tidak memberi saya, dan saya tidak pula memintanya dari mereka.”
Tanya, “Mana setoran yang Anda bawa untuk Baitul Maal?”
Jawab, “Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Maal.”
Tanya, “Mengapa?”
Jawab, “Sejak saya mulai tiba di Himsh, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak. Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya, saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan, dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak.”
Khalifah ‘Umar berkata kepada jurutulis, ”Perpanjang masa jabatan ‘Umair sebagai Gubernur Hismh!”
Kata ‘Umair, “Ma’af, Khalifah! Saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai sa’at ini, saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah anda, ya Amirul Mu’minin.”
Kemudian ‘Umair minta izin untuk pergi ke sebuah di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya. Lalu Khalifah mengizinkannya.
Belum begitu lama ‘Umair tinggal di dusun tersebut, Khalifah ‘Umar ingin mengetahui keadaan sahabatnya itu, bagaimana kehidupannya dan apa yang diusahakannya. Lalu diperintahkannya Al Harits, seorang kepercayaan Khalifah, “Pergilah engkau menemui ‘Umair, tinggallah di rumahnya selama tiga hari sebagai tamu. Bila engkau lihat keadaannya bahagia penuh ni’mat, kembalilah sebagaimana engkau datang. Dan jika engkau lihat keadaannya melarat, berikan uang ini kepadanya!”
Khalifah ‘Umar memberikan sebuah pundi berisi seratus dinar kepada Al Harits.
Al Harits pergi ke dusun tempat Umair tinggal. Dia bertanya-tanya ke sana-sini di mana rumah ‘Umair. Setelah bertemu, Al Harits mengucapkan salam, ”Assalamu’alaika wa rahmatullah.”
Jawab ‘Umair, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Anda datang dari mana?”
Jawab Harits, “Dari Madinah!”
Tanya ‘Umair, “Bagaimana keadaan kaum muslimin sepeninggal anda?”
Jawab Harits, “Baik-baik saja.”
Tanya, “Bagaimana kabar Amirul Mu’minin?”
Jawab, “Alhamdulillah, baik.”
Tanya, “Adakah ditegakkannya hukum?”
Jawab, “Tentu, malahan baru-baru ini dia menghukum dera anaknya sendiri sampai mati, karena bersalah melakukan perbuatan keji.”
Kata ‘Umair, “Wahai Allah, tolonglah ‘Umar. Saya tahu sungguh, dia sangat mencintai-Mu, wahai Allah!”
Al Harits menjadi tamu ‘Umair selama tiga malam. Tiap malam Harits hanya dijamu dengan sebuah roti terbuat dari gandum. Pada hari ketiga, seorang laki-laki kampung berkata kepada Harits, “Sesungguhnya Anda telah menyusahkan ‘Umair dan keluarganya. Mereka tidak punya apa-apa selain roti yang disuguhkannya kepada Anda. Mereka lebih mementingkan Anda, walaupun dia sekeluarga harus menahan lapar. Jika Anda tidak keberatan, sebaiknyalah Anda pindah ke rumah saya menjadi tamu saya.”
Al Harits mengeluarkan pundi-pundi uang dinar, lalu diberikannya kepada ‘Umair.
Tanya ‘Umair, “Apa ini?”
Jawab Harits, ”Amirul Mu’minin mengirimkannya untuk Anda!”
Kata ‘Umair, “Kembalikan saja uang itu kepada beliau. Sampaikan salamku, dan katakan kepada beliau bahwasanya aku tidak membutuhkan uang itu.”
Isteri ‘Umair yang mendengar percakapan suaminya dengan Harits berteriak, “Terima saja, hai ‘Umair! Jika engkau butuh sesuatu engkau dapat membelanjakannya.
Jika tidak, engkau pun dapat membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Di sini banyak orang-orang yang butuh.”
Mendengar ucapan isteri ‘Umair, Harits meletakkan uang itu di hadapan ‘Umair, kemudian dia pergi. ‘Umair memungut uang itu lalu dimasukkannya ke dalam beberapa pundi-pundi kecil. Dia tidak tidur sampai tengah malam sebelum uang itu habis dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Sangat diutamakannya memberikan kepada ank-anak yatim yang orang tuanya tewas sebagai syuhada’ di medan perang fi sabilillah.
Al Harits kembali ke Madinah. Setibanya di Madinah, Khalifah ‘Umar bertanya, “Bagaimana keadaan ‘Umair?”
Jawab Harits, “Sangat menyedihkan, ya Amirul Mu minin.”
Tanya Khalifah, “Sudah engkau berikan uang itu kepadanya?”
Jawab, “Ya, sudah ku berikan.”
Tanya, “Apa yang dibuatnya dengan uang itu?”
Jawab, “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira, uang itu mungkin hanya tinggal satu dirham saja lagi untuknya.”
Khalifah ‘Umar menulis surat kepada ‘Umair, katanya, “Bila surat ini selesai Anda baca, maka janganlah Anda letakkan sebelum datang menghadap saya.”
‘Umair bin Sa’ad datang ke Madinah memenuhi panggilan khalifah. Sampai di Madinah dia Iangsung menghadap Amirul Mu’minin. Khalifah ‘Umar mengucapkan selamat datang dan memberikan alas duduk yang dipakainya kepada ‘Umair, sebagai penghormatan.
Tanya khalifah, “Apa yang Anda perbuat dengan uang itu, hai ‘Umair?”
Jawab ‘Umair, “Apa maksud Anda menanyakan, sesudah uang itu Anda berikan kepadaku?”
Jawab khalifah, “Saya hanya ingin tahu, barangkali Anda mau menceritakannya.”
Jawab ‘Umair, “Uang itu saya simpan untuk saya yang menonjol di universitas Muhammad bin ‘Abdullah sendiri, dan akan saya manfa’atkan nanti pada suatu hari, ketika harta dan anak-anak tidak bermanfa’at lagi, yaitu hari kiamat.”
Mendengar jawaban ‘Umair, Khalifah ‘Umar menangis sehingga air matanya jatuh bercucuran. Katanya, “Saya menjadi saksi, bahwa sesungguhnya Anda tergolong orang-orang yang mementingkan orang-orang lain sekalipun diri Anda sendiri melarat.”
Kemudian khalifah menyuruh seseorang mengambil satu wasq (Satu Wasq, kira-kira enam puluh sha’ (gantang), atau kira-kiia seberat beban seekor unta) pangan dan dua helai pakaian, lalu diberikan-nya kepada ‘Umair.
Kata ‘Umair, “Kami tidak membutuhkan makanan, ya Amirul Mu’minin. Saya ada meninggalkan dua sha’ gandum untuk keluarga saya. Mudah-mudahan itu cukup untuk makan kami sampai Allah Ta’ala memberi lagi rezki untuk kami. Tetapi pakaian ini saya terima untuk isteri saya, karena pakaiannya sudah terlalu usang, sehingga dia hampir telanjang.”
Tidak lama sesudah pertemuan ‘Umair dengan khalifah, maka Allah mengizinkan ‘Umair untuk bertemu dengan Nabi yang sangat dicintai dan dirindukannya, yaitu Muhammad bin ‘Abdullah, Rasulullah, ‘Umair pergi menempuh jalan akhirat, mempertaruhkan jiwa raganya dengan langkah-langkah yang senantiasa mantap. Dia tidak membawa beban berat di punggung, berupa kemewahan dunia. Tetapi dia pergi dengan cahaya Allah yang selalu membimbingnya, wara’ dan taqwa.
Ketika Khalifah ‘Umar mendengar kematian ‘Umair, bukan main main sedihnya, sehingga dia mengurut dada karena menyesal. Kata khalifah, “Saya membutuhkan orang-orang seperti ‘Umair bin Sa’ad, untuk membantu saya melola masyarakat kaum muslimin.”
Semoga Allah meredhai ‘Umair bin Sa’ad, dan semoga dia senang dalam keredhaan-Nya. Dia telah menempuh cara yang diambilnya sendiri di antara sekian banyak orang. Dan dia adalah bekas mahasiswa …
Langganan:
Postingan (Atom)