Pertanyaan
Di dalam situs ini saya banyak belajar dan berkenalan dengan beragam ulama. Pertanyaannya, apakah di antara para ulama itu ada jenjang atau struktur kesenioran atau semacam tingkatan?
Aggress Santosa
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kalau ada tingkatan atau level di kalangan ahli syariah, sebenarnya bukan derajat keimanan atau ketaqwaan, melainkan tingkat keahlian dan profesionalitas. Ibarat dunia kedokteran, ada dokter umum dan ada dokter spesialis. Tapi semua itu bukan jaminan bahwa dokter tidak akan terserang penyakit atau tidak bisa mati.
Syeikh Abu Zahrah, ulama besar Mesir mencoba membuat klasifikasi para ahli ijtihad menjadi beberapa klasifikasi, misalnya mujtahid mutlaq (mustaqil), mujtahid muntasib, mujtahid fil mazhab dan mujtahid fi at-tarjih.
1. Mujtahid mutlaq (mustaqil)
Ini adalah level mujtahid yang paling tinggi. Untuk sampai ke level ini, awalnya seseorang harus memenuhi dulu standar dasar yang harus dimiliki seorang mujtahid. Kemudian tambahannya adalah dia harus bisa membuat metologi ijtihad (ushul fiqih) sendiri tanpa meniru atau mengadaptasi dari orang lain. Dari hasil konsepnya itu, dia melakukan ijtihad pada semua sisi kehidupan mulai dari urusan thaharah sampai urusan kenegaraan, yang kemudian disusun menjadi kumpulan hasil ijtihad yang murni hasil dari
kesungguhan dirinya. Bukan kutipan juga bukan contekan dari mujtahid lain. Kecuali kalau kebetulan hasilnya sama.
Contoh mujtahid mutlak adalah 4 imam mazhab yang kita kenal:
* Al-Imam Abu Hanifah (80-150 H)
* Al-Imam Malik (93-179H)
* Al-Imam Asy-Syafi'i (150-204 H)
* Al-Imam Ahmad bin Hanbal
Mereka yang merumuskan metodologi istimbath hukum dan sistem pengerjaannya, selain mereka juga menggunakannya untuk berijtihad, di mana sistem dan hasil ijtihadnya kemudian dijadikan rujukan oleh mujtahid di level bawahnya. Kalau kita ibaratkan ilmu matematika, mereka ini kira-kira seperti orang yang menemukan rumus segi tiga siku-siku Phitagoras, a kuadrat sama dengan b kuadrat kali c kuadrat. Atau yang menemukan rumus luas lingkaran. Siapa pun orang yang datang kemudian, kalau mau mengukur segi tiga siku-siku atau mengukur luas lingkaran, pasti tidak akan bisa lepas dari rumus dasar itu.
2.Mujtahid Muntasib
Pada level kedua, kita bertemu dengan para mujtahid yang disebut muntasib. Sesuai namanya, muntasib adalah orang yang melakukan instisab, yaitu berafiliasi kepada suatu mazhab tertentu. Jadi mereka tidak menciptakan mazhab sendiri dalam arti tidak merumuskan sistem ijtihad dan istimbath. Mereka adalah orang yang datang belajar sistem itu hingga betul-betul menguasai sepenuhnya, setelah itu merekamenjadi pengguna langsung untuk melakukan berbagai ijtihad dalam masalah syariah.
Namun dari segi kemampuan, sesungguhnya mereka sudah bisa melakukan perumusan sistem ijtihad sendiri. Tapi biasanya mereka tidak melakukannya, karena apa yang sudah dirintis oleh guru mereka sudah lebih baik dan lebih maju.
Bahkan mereka malah menjadi tonggak yang ikut menguatkan suatu mazhab yang sudah ada, karena mereka menjadi pembela sekaligus berjasa mempopulerkannya kepada khalayak. Kalau kita ibaratkan kira-kira mereka adalah para programer yang
ikut pada OS Open Source semacam komunitas Linux. Walau pun mereka bisa bikin sendiri tapi umumnya mereka lebih banyak menjadi pengguna, meski sesekali ikut menyumbangkan karya. Di tangan mereka inilahOS Open Sourcebisa tetap eksis.
Menurut Ibnu Abidin, sebagaimana dikutip oleh Abu Zahrah, pada tiap-tiap mazhab dari keempat mazhab itu ada mujtahid dengan level muntasib.
2.1. Muntasib Mazhab Hanafi
Yang termasuk ke dalam kategori ini adalah Muhammad bin Hasan As-Syaibani (131-189H) dari mazhab Abu Hanifah. Beliau adalah murid langsung Imam Mazhab dan menjadi muntasib pada mazhab yang beliau rintis, sekaligus menjadi pilar yang menguatkan mazhab ini. Selain itu juga ada Al-Qadhi Abu Yusuf (113-182H) yang amat terkenal itu. Mereka berdua adalah pasangan ulama yang tidak bisa dilepaskan dari nama besar mazhab Abu Hanifah, biasa disebut singkat: Abu Yusuf
dan Muhammad.
2.2. Muntasib Mazhab Maliki
Di dalam yang didirikan oleh Al-Imam Malik rahimahullah, kita mengenal ulama besar seperti Abdurrahman bin Al-Qasim (132-191H). Beliau ini levelnya sebenarnya mujtahid mutlak, karena sudah bisa membuat sistem mazhab sendiri.
Namun sebagai murid langsung Al-Imam Malik selama 20 tahun, lebih lebih senang menyempurnakan mazhab gurunya. Termasuk di antara jasa beliau adalah menyempurnakan kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra, kitab induk dalam mazhab ini.
2.3. Muntasib Mazhab Asy-Syafi'i
Nama yang bisa disebut untuk muntasib mazhab ini adalah Al-Muzani. Lengkapnya adalah Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al-Muzani (175-264H). Sang guru, Al-Imam Asy-Syafi'i sampai berkomentar begini, "Al-Muzani adalah pembela mazhabku."
Beliau memang berkarya besar untuk mazhab gurunya, di antaranya adalah kitab Al-Mabsuth (Al-Mukhtashar Kabir) dan Al-Mukhtashar Shaghir. Murid Al-Muzani tersebar di seantero khilafah Islamiyah sehingga mazhab gurunya ini dikenal dari ujung barat sampai ujung timur dunia. Selain itu juga ada Al-Buwaithi (w.231 H) yang oleh As-Syafi'i diwariskan halaqoh di Baghdad dan menulis banyak tentang mazhab ini.
3. Mujtahid fil mazhab
Mereka ini adalah mujtahid yang tidak membuat sistem sendiri, juga tidak berijtihad sendiri. Mereka menggunaka sistem dari mazhab masing-masing dan mengikuti hasil ijtihadnya juga. Mereka hanya berijtihad manakala di dalam mazhab mereka belum ada hasil ijtihad. Karena persolaan hukum akan terus ada dan tidak pernah berhenti. Maka pada saat tidak hasil ijtihad dari mazhabnya yang sekiranya cocok dan bisa dijadikan jawaban, mereka barulah berupaya untuk berijtihad.
Dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah, yang termasuk ulama mujtahid fil mazhab adalah Abul Hasan Al-Karkhi (260-340H) dan Hasan bin Az-Ziyad (w. 204H). Dari kalangan Maliki adalah Muhammad bin Abdullah Al-Abhari (89-375H). Dari kalangan mazhab Syafi'i adalah Ibnu Abi Hamid Al-Asfraini (344-406H).
4. Mujtahid fi at-tarjih
Pada level paling bawah, ada mujtahid fit tarjih. Peran mereka bukan membuat sistem, juga tidak berijtihad sendiri, juga tidak melakukan ijtihad yangbelum ada ijtihad sebelumya. Mereka 100% mengikuti sistem dan ijtihad dari para seniornya. Dan
karena sudah banyak hasil ijtihad dari para senior dan terkadang hasilnya agak berbeda, maka peran mereka adalah melakukan tarjih. Namun tarjih yang mereka lakukan bukan dalam arti mementahkan hasil ijtihad, melainkan mencoba melakukan studi komparasi antara semua hasil ijtihad dari keempat mazhab itu, lalu melakukan penelitian ulang atas dalil-dail yang digunakan serta analisa tentang keunggulan dari masing-masing mazhab.
Mengapa masih harus ada tarjih?
Salah satu sebabnya adalah perubahan zaman yang sangat dinamis serta kondisi tiap negeri yang selalu berbeda. Sehingga ada ijtihad yang cocok diterapkan di suatu negeri tapi barangkali kurang tepat kalau diterapkan di negeri yang lain. Juga ada mazhab yang bisa diterapkan pada zaman tertentu dan kurang tepat untuk masa yang lain. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Syariah dan Kehidupan bersama Ahmad Sarwat, Lc
Diambil dari milist Majelis Rasululloh
Selasa, 16 Juni 2009
Senin, 01 Juni 2009
Pentingnya ber Madzab
1. Bebas Mazhab bid`ah yang paling bahaya yang meruntuhkan Syariat Islam
Sejarah telah membuktikan bahawa taqlid dan thoriqah tidak sekali-kali menyebabkan umat menjadi jumud dan beku. Sebaliknya, seruan ijtihad dan bebas dari bertaqlid kepada mazhab tertentu yang diserukan oleh kaum mutassallif abad kita ini, amatlah meragukan dan sehingga kini yang dihasilkannya adalah perpecahan dan kehinaan yang berpanjangan kepada umat ini. Seruan tersebut masih tidak membuahkan apa-apa hasil dan natijah yang boleh dibanggakan. Seruan agar umat berijtihad tanpa mengira samada mereka itu berkelayakan atau tidak, adalah satu seruan yang merbahaya dan boleh meruntuhkan agama serta memecahkan perpaduan umat. Kalaupun nak berijtihad, maka biarlah ianya dilakukan oleh ulama yang mencapai darjat mujtahid. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi telah mengarang satu buku yang amat baik menjelaskan tentang bahaya fahaman al-la madzhabiyyah (bebas mazhab). Karyanya tersebut berjodol “al-La Madzhabiyyah akhtharu bid`atin tuhaddidusy Syarii`atal Islamiyyah” (Bebas Mazhab bid`ah yang paling bahaya yang meruntuhkan Syariat Islam). Eloklah sesiapa yang ingin mengetahui berhubung bahaya ini membaca dan mentelaah karya ulama Syria ini dengan hati yang bersih dan ikhlas untuk mencari kebenaran. Rasanya telah ada pun terjemahannya dalam Bahasa Melayu, tapi kepada yang nak jadi mujtahid kenalah baca yang asal dalam Bahasa `Arab. Cam ne nak jadi mujtahid kalau masih bertaqlid dengan terjemahan orang lain!!!!!
Realiti dari sejarah telah membuktikan bahawa Islam dahulunya berkembang dan gemilang di bawah tangan mereka – mereka yang bermazhab dan sufi. Seruan agar pintu ijtihad dibuka luas hatta kepada golongan awam yang fatihah pun lintang-pukang adalah seruan yang diterbitkan oleh musuh-musuh Islam untuk memusnahkan perpaduan umat. Jelas kesannya, umat mula berpecah belah sesama sendiri, sehingga mereka bergaduh isu remeh temeh, dan meninggalkan pembangunan dalam bidang-bidang lain. Apa tidaknya, bila ahli ekonomi dan perbankan sibuk membicarakan hukum-hukum khilaf mazhab dan meninggalkan bidang ekonomi dan perbankan yang sepatutnya mereka bangun. Sayang sekali “ijtihad” mereka digunakan dalam perkara-perkara yang telah diijtihadkan oleh para ulama mujtahidin yang terdahulu. Sungguh ijtihad para juhala` itu lebih berbahaya dari taqlidnya mereka kepada ulama yang mujtahid. Marilah kita merenungi sepotong hadits yang diriwayatkan oleh Imam ad-Dailami dalam “Musnad al-Firdaus” yang walaupun dinilai sebagai dhoif oleh para muhadditsin tetapi ianya memiliki makna yang shohih yang tidak bercanggah dengan roh syariat Islam. Tambahan pula ianya turut dinukil oleh para muhadits lain dalam karya-karya mereka seperti oleh Imam as-Sayuthi dalam “al-Jami`ush Shoghir fi ahaaditsil Basyirin Nadzir” iaitu hadits yang ke – 11. Tidaklah kita pedulikan penilaian al-Albani yang memaudhu`kan hadits ini, kerana jika dia yang memaudhu`kannya, maka ada ulama lain yang tidak mengeluarkannya dari senarai hadits walaupun dinilaikan sebagai dhoif. Jika al-Albani berhak untuk berijtihad bahawa hadits tersebut maudhu`, maka apa pula yang menegah para muhaddits terdahulu berijtihad untuk tidak memaudhu`kan riwayat tersebut. Berbalik kepada sabdaan tersebut, maka Junjungan Nabi s.a.w. diriwayatkan sebagai bersabda:-
Penyakit / Kebinasaan bagi agama itu ada tiga: (i) faqih yang fajir; (ii) pemimpin yang jahat; dan (iii) mujtahid yang jahil.
Tanpa memperhatikan kepada sanad hadits di atas, adakah kita tidak setuju bahawa mujtahid yang jahil itu membinasakan agama? Bukankah yang dinyatakan itu adalah satu kebenaran yang tidak boleh ditolak. Semoga Allah merahmati semua mujtahid yang benar-benar layak berijtihad dan dibersihkanNya umat ini dari segala fitnah yang timbul daripada mujtahid-mujtahid gadungan. Pahlawan agama yang bermazhab dan berjasa mendaulatkan Islam
2. Bermazhab dengan mazhab al-Salafiyyah (Salafy/shahabat) adalah DILARANG
Penjelasan Imam al-Nawawi dipetik dari kitab Majmu’ Sharh al-Muhazzab
Bab Adab Berfatwa, Mufti dan Orang Yang Bertanya Fatwa
Bab Adab Berfatwa, Mufti dan Orang Yang Bertanya Fatwa
Terjemahan
“Dan tidak boleh bagi si awam itu bermazhab dengan mazhab salah seorang daripada imam-imam di kalangan para sahabat r.anhum dan selain daripada mereka daripada generasi-generasi yang terawal, walaupun mereka lebih alim dan lebih tinggi darjatnya berbanding dengan (ulama’) selepas mereka;
ini adalah kerena mereka tidak meluangkan masa sepenuhnya untuk mengarang ilmu dan meletakkan prinsip-prinsip asas dan furu’nya. Maka tidak ada bagi salah seorang daripada mereka sebuah mazhab yang telah dihalusi, dianalisis dan diperakui.
Hanyasanya, (ulama’2) yang datang selepas mereka yang merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien lah yang melakukan usaha meletakkan hukum-hukum sebelum berlakunya perkara tersebut; yang bangkit menerangkan prinsip-prinsip asas dan furu’ mereka seperti (Imam) Malik dan (Imam) Abu Hanifah dan selain dari mereka berdua.”
[Kemudian Imam al-Nawawi menjelaskan kelebihan mazhab Imam al-Shafie dari pandangan beliau dan dengan secara tersiratnya menerangkan mengapa beliau bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie]
“Dan oleh kerana Imam al-Shafie adalah merupakan imam yang terkemudian dari sudut masa, maka beliau telah melihat mazhab-mazhab mereka seperti mana mereka melihat mazhab-mazhab ulama’ sebelum mereka. Maka beliau menperhalusinya, mengujinya dan mengkritiknya dan memilih yang paling rajih (kuat) dan beliau mendapat hasil daripada usaha ulama’2 sebelum beliau yang telah meletakkan gambaran dan pengasasan, maka beliau telah meluangkan masa untuk memilih dan mentarjih dan menyempurnakan dan meminda, dengan pengetahuan beliau dan kebijaksanaan beliau dalam pelbagai bidang ilmu.
Dan dengan perkara ini beliau mendapat kedudukan yang lebih kuat dan rajih, kemudian tidak ada selepas beliau, (alim) yang mencapai kedudukan seperti beliau dalam perkara ini.
Maka dengan ini, mazhab beliau adalah mazhab yang paling utama untuk diikuti dan bertaqlid dengannya – dan ini dengan jelasnya bahawa kita mestilah berlaku adil dan tidak ada meletakkan sebarang sikap memandang rendah pada salah seorang daripada para imam.
Hal ini, apabila diteliti oleh si awam akan memandunya kepada memilih mazhab Imam al-Shafie dan bermazhab dengannya.”
Sedikit Ulasan
Mengikut mazhab yang empat pada hakikatnya mengikut mazhab para sahabat dan tabien kerana ulama’ mazhab empat merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien yang mengikut sunnnah Rasulullah SAW.
Terdapat beberapa Imam dalam mazhab al-Shafie yang menerangkan sebab kenapa mereka bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie seperti Imam al-Nawawi, Imam al-Bayhaqi dan Imam al-Suyuthi. Jelaslah mereka bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie bukan kerana taqlid semata-mata.
Kalau andadapat cari sebab-sebab yang dikemukan oleh para imam tersebut, Insya Allah, akan bertambah kuat pegangan anda dengan mazhab yang muktabar seperti mazhab Imam al-Shafie .
Ada saper2 nak bantah kata2 Imam al-Nawawi ini?!
Pelik sungguh bila melihat orang ramai sanggup mengikut pendapat golongan Wahhabi yang tidak mempunyai latar belakang pengajian agama yang kukuh, bahkan sebahagian besar mereka adalah daripada golongan professional [pilot pun ader, pegawai syarikat komunikasi pun ader, pegawai bank pun ader] yang tidak mahir berbahasa arab dan meninggalkan ulama’ mazhab yang empat seperti Imam al-Nawawi .
Fikir-fikirkanlah .
3. Bermazhab dengan mazhab al-Salafiyyah adalah bid’ah yang tidak pernah berlaku sebelum ini.
Alim besar Syria yang tidak perlu diperkenalkan lagi, al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouthi menerangkan dengan panjang lebar sebuah ajaran baru yang dinamakan “al-Salafiyyah” selepas ditukar jenama daripada “al-Wahhabiyyah” kerana pengamal ajaran ini tidak mahu ajaran ini dinisbahkan kepada Muhammad Ibn Abdul Wahhab semata-mata. [Rujuk m/s 235 & 236 daripada kitab dibawah]
Beliau menyatakan bahawa MENGIKUT GENERASI SALAF adalah satu perkara yang sangat-sangat berbeza berbanding BERMAZHAB DENGAN MAZHAB AL-SALAFIYYAH yang digembar-gemburkan oleh pengamal Wahhabi pada hari ini.[Rujuk m/s 221 sehingga 242 daripada kitab di bawah].
Beliau berkata bahawa istilah yang digunakan oleh para ulama’ untuk menamakan kedudukan para ulama’ yang benar adalah Ahli Sunnah dan Jama’ah. Istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah adalah istilah yang telah diijmak oleh para ulama’ generasi Salaf untuk menamakan golongan yang benar. Manakala istilah al-Salafiyyah yang digunakan oleh golongan Wahhabi pada hari ini untuk melambangkan dan menamakan golongan yang benar [menurut sangkaan mereka] adalah satu bid’ah yang tercela bahkan tidak pernah digunakan oleh generasi Salafus Soleh untuk menamakan golongan yang benar. Sila lihat petikan dan terjemahan kata-kata beliau di bawah [Semoga anda diberi hidayah oleh Allas SWT]. Kitab ini bertajuk:
[السلفية: مرحلة زمنية مباركة لا مذهب إسلامي]
“Al-Salafiyyah: Satu Tempoh Masa Yang Diberkati dan bukanlah Sebuah Mazhab Islam.”
Kitab ini adalah satu penerangan dan kritikan yang penuh ilmiah terhadap ajaran Wahhabi yang dikarang oleh seorang alim seperti beliau.
“Cukuplah pujian bagi kitab ini dengan disebutkan nama penulisnya.”
Terjemahan:“Dan manakala apabila seorang Muslim mentakrifkan / memperkenalkan dirinya dengan menyatakan bahawa dia disandarkan kepada sebuah mazhab yang dikenali pada hari ini dengan al-Salafiyyah, maka tanpa ragu-ragu lagi dia adalah seorang ahli bid’ah.
Ini adalah kerana sekiranya istilah “al-Salafiyyah” boleh memberi maksud yang sama seperti “Ahli Sunnah dan Jamaah”, maka sesungguhnya dia telah melakukan bid’ah dengan mencipta nama yang berbeza dengan nama yang telah disepakati oleh generasi Salaf [Semoga keredhaan Allah dilimpahkan ke atas mereka].
Dan nama yang bid’ah lagi tidak diperlukan ini telah cukup untuk menimbulkan ketidakstabilan dan perpecahan di dalam saf-saf [perpaduan] umat Islam.
Dan manakala sekirannya nama al-Salafiyyah ini memberi maksud yang berbeza dengan dengan hakikat Ahli Sunnah dan Jama’ah – dan inilah kebenarannya – maka bid’ah ini telah berlaku dengan nama rekaan tersebut [al-Salafiyyah] serta kandungannya yang bathil, dan istilah ini cuba menegakkan benderanya dan mengangkat kedudukannya sebagai ganti kepada kebenaran yang telah disepakati oleh generasi Salaf dan [generasi Salafus Soleh pada hakikatnya] telah berijma’ menggunakan nama “Ahli Sunnah dan Jama’ah” [bagi golongan yang benar].”
Maka telah terbuktilah bid’ah [golongan Salafi Wahhabi ini] dalam menggunakan istilah “al-Salafiyyah” di samping maksudnya yang juga bid’ah untuk digunakan sebagai jenama/nama bagi sebuah kumpulan baru [Salafi Wahhabi] yang memisahkan diri mereka dari jemaah umum Umat Islam yang bersatu dalam menggunakan istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” serta berpegang dengan hakikat [Ahli Sunnah dan Jama’ah] yang benar.”
Dapat difahami daripada kata-kata di atas bahawa al-Sheikh al-Bouthi:
Menerangkan bahawa istilah al-Salafiyyah adalah satu istilah yang bid’ah dan bertentangan dengan kesepakatan ulama’ generasi Salaf.
Menolak istilah al-Salafiyyah untuk digunakan sebagai ganti Ahli Sunnah dan Jamaah.
Berterus-terang bahawa kandungan ajaran yang dibawa oleh kelompok Salafiyyah Wahhabiyyah adalah bukan merupakan pegangan Ahli Sunnah dan Jamaah.
Semoga nasihat beliau ini mampu melembutkan hati yang keras, menghidupkan hati yang mati, menyedarkan hati yang lalai, mengubati hati yang berpenyakit dan meluruskan hati yang terpesong dengan izin Allah SWT dan berkat kasih sayang-Nya kepada Rasulullah SAW.
Wassalam.
http://al-ashairah. blogspot. com/
http://salafytobat. wordpress. com
http://bahrusshofa. blogspot. com/
Sejarah telah membuktikan bahawa taqlid dan thoriqah tidak sekali-kali menyebabkan umat menjadi jumud dan beku. Sebaliknya, seruan ijtihad dan bebas dari bertaqlid kepada mazhab tertentu yang diserukan oleh kaum mutassallif abad kita ini, amatlah meragukan dan sehingga kini yang dihasilkannya adalah perpecahan dan kehinaan yang berpanjangan kepada umat ini. Seruan tersebut masih tidak membuahkan apa-apa hasil dan natijah yang boleh dibanggakan. Seruan agar umat berijtihad tanpa mengira samada mereka itu berkelayakan atau tidak, adalah satu seruan yang merbahaya dan boleh meruntuhkan agama serta memecahkan perpaduan umat. Kalaupun nak berijtihad, maka biarlah ianya dilakukan oleh ulama yang mencapai darjat mujtahid. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthi telah mengarang satu buku yang amat baik menjelaskan tentang bahaya fahaman al-la madzhabiyyah (bebas mazhab). Karyanya tersebut berjodol “al-La Madzhabiyyah akhtharu bid`atin tuhaddidusy Syarii`atal Islamiyyah” (Bebas Mazhab bid`ah yang paling bahaya yang meruntuhkan Syariat Islam). Eloklah sesiapa yang ingin mengetahui berhubung bahaya ini membaca dan mentelaah karya ulama Syria ini dengan hati yang bersih dan ikhlas untuk mencari kebenaran. Rasanya telah ada pun terjemahannya dalam Bahasa Melayu, tapi kepada yang nak jadi mujtahid kenalah baca yang asal dalam Bahasa `Arab. Cam ne nak jadi mujtahid kalau masih bertaqlid dengan terjemahan orang lain!!!!!
Realiti dari sejarah telah membuktikan bahawa Islam dahulunya berkembang dan gemilang di bawah tangan mereka – mereka yang bermazhab dan sufi. Seruan agar pintu ijtihad dibuka luas hatta kepada golongan awam yang fatihah pun lintang-pukang adalah seruan yang diterbitkan oleh musuh-musuh Islam untuk memusnahkan perpaduan umat. Jelas kesannya, umat mula berpecah belah sesama sendiri, sehingga mereka bergaduh isu remeh temeh, dan meninggalkan pembangunan dalam bidang-bidang lain. Apa tidaknya, bila ahli ekonomi dan perbankan sibuk membicarakan hukum-hukum khilaf mazhab dan meninggalkan bidang ekonomi dan perbankan yang sepatutnya mereka bangun. Sayang sekali “ijtihad” mereka digunakan dalam perkara-perkara yang telah diijtihadkan oleh para ulama mujtahidin yang terdahulu. Sungguh ijtihad para juhala` itu lebih berbahaya dari taqlidnya mereka kepada ulama yang mujtahid. Marilah kita merenungi sepotong hadits yang diriwayatkan oleh Imam ad-Dailami dalam “Musnad al-Firdaus” yang walaupun dinilai sebagai dhoif oleh para muhadditsin tetapi ianya memiliki makna yang shohih yang tidak bercanggah dengan roh syariat Islam. Tambahan pula ianya turut dinukil oleh para muhadits lain dalam karya-karya mereka seperti oleh Imam as-Sayuthi dalam “al-Jami`ush Shoghir fi ahaaditsil Basyirin Nadzir” iaitu hadits yang ke – 11. Tidaklah kita pedulikan penilaian al-Albani yang memaudhu`kan hadits ini, kerana jika dia yang memaudhu`kannya, maka ada ulama lain yang tidak mengeluarkannya dari senarai hadits walaupun dinilaikan sebagai dhoif. Jika al-Albani berhak untuk berijtihad bahawa hadits tersebut maudhu`, maka apa pula yang menegah para muhaddits terdahulu berijtihad untuk tidak memaudhu`kan riwayat tersebut. Berbalik kepada sabdaan tersebut, maka Junjungan Nabi s.a.w. diriwayatkan sebagai bersabda:-
Penyakit / Kebinasaan bagi agama itu ada tiga: (i) faqih yang fajir; (ii) pemimpin yang jahat; dan (iii) mujtahid yang jahil.
Tanpa memperhatikan kepada sanad hadits di atas, adakah kita tidak setuju bahawa mujtahid yang jahil itu membinasakan agama? Bukankah yang dinyatakan itu adalah satu kebenaran yang tidak boleh ditolak. Semoga Allah merahmati semua mujtahid yang benar-benar layak berijtihad dan dibersihkanNya umat ini dari segala fitnah yang timbul daripada mujtahid-mujtahid gadungan. Pahlawan agama yang bermazhab dan berjasa mendaulatkan Islam
2. Bermazhab dengan mazhab al-Salafiyyah (Salafy/shahabat) adalah DILARANG
Penjelasan Imam al-Nawawi dipetik dari kitab Majmu’ Sharh al-Muhazzab
Bab Adab Berfatwa, Mufti dan Orang Yang Bertanya Fatwa
Bab Adab Berfatwa, Mufti dan Orang Yang Bertanya Fatwa
Terjemahan
“Dan tidak boleh bagi si awam itu bermazhab dengan mazhab salah seorang daripada imam-imam di kalangan para sahabat r.anhum dan selain daripada mereka daripada generasi-generasi yang terawal, walaupun mereka lebih alim dan lebih tinggi darjatnya berbanding dengan (ulama’) selepas mereka;
ini adalah kerena mereka tidak meluangkan masa sepenuhnya untuk mengarang ilmu dan meletakkan prinsip-prinsip asas dan furu’nya. Maka tidak ada bagi salah seorang daripada mereka sebuah mazhab yang telah dihalusi, dianalisis dan diperakui.
Hanyasanya, (ulama’2) yang datang selepas mereka yang merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien lah yang melakukan usaha meletakkan hukum-hukum sebelum berlakunya perkara tersebut; yang bangkit menerangkan prinsip-prinsip asas dan furu’ mereka seperti (Imam) Malik dan (Imam) Abu Hanifah dan selain dari mereka berdua.”
[Kemudian Imam al-Nawawi menjelaskan kelebihan mazhab Imam al-Shafie dari pandangan beliau dan dengan secara tersiratnya menerangkan mengapa beliau bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie]
“Dan oleh kerana Imam al-Shafie adalah merupakan imam yang terkemudian dari sudut masa, maka beliau telah melihat mazhab-mazhab mereka seperti mana mereka melihat mazhab-mazhab ulama’ sebelum mereka. Maka beliau menperhalusinya, mengujinya dan mengkritiknya dan memilih yang paling rajih (kuat) dan beliau mendapat hasil daripada usaha ulama’2 sebelum beliau yang telah meletakkan gambaran dan pengasasan, maka beliau telah meluangkan masa untuk memilih dan mentarjih dan menyempurnakan dan meminda, dengan pengetahuan beliau dan kebijaksanaan beliau dalam pelbagai bidang ilmu.
Dan dengan perkara ini beliau mendapat kedudukan yang lebih kuat dan rajih, kemudian tidak ada selepas beliau, (alim) yang mencapai kedudukan seperti beliau dalam perkara ini.
Maka dengan ini, mazhab beliau adalah mazhab yang paling utama untuk diikuti dan bertaqlid dengannya – dan ini dengan jelasnya bahawa kita mestilah berlaku adil dan tidak ada meletakkan sebarang sikap memandang rendah pada salah seorang daripada para imam.
Hal ini, apabila diteliti oleh si awam akan memandunya kepada memilih mazhab Imam al-Shafie dan bermazhab dengannya.”
Sedikit Ulasan
Mengikut mazhab yang empat pada hakikatnya mengikut mazhab para sahabat dan tabien kerana ulama’ mazhab empat merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien yang mengikut sunnnah Rasulullah SAW.
Terdapat beberapa Imam dalam mazhab al-Shafie yang menerangkan sebab kenapa mereka bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie seperti Imam al-Nawawi, Imam al-Bayhaqi dan Imam al-Suyuthi. Jelaslah mereka bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie bukan kerana taqlid semata-mata.
Kalau andadapat cari sebab-sebab yang dikemukan oleh para imam tersebut, Insya Allah, akan bertambah kuat pegangan anda dengan mazhab yang muktabar seperti mazhab Imam al-Shafie .
Ada saper2 nak bantah kata2 Imam al-Nawawi ini?!
Pelik sungguh bila melihat orang ramai sanggup mengikut pendapat golongan Wahhabi yang tidak mempunyai latar belakang pengajian agama yang kukuh, bahkan sebahagian besar mereka adalah daripada golongan professional [pilot pun ader, pegawai syarikat komunikasi pun ader, pegawai bank pun ader] yang tidak mahir berbahasa arab dan meninggalkan ulama’ mazhab yang empat seperti Imam al-Nawawi .
Fikir-fikirkanlah .
3. Bermazhab dengan mazhab al-Salafiyyah adalah bid’ah yang tidak pernah berlaku sebelum ini.
Alim besar Syria yang tidak perlu diperkenalkan lagi, al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouthi menerangkan dengan panjang lebar sebuah ajaran baru yang dinamakan “al-Salafiyyah” selepas ditukar jenama daripada “al-Wahhabiyyah” kerana pengamal ajaran ini tidak mahu ajaran ini dinisbahkan kepada Muhammad Ibn Abdul Wahhab semata-mata. [Rujuk m/s 235 & 236 daripada kitab dibawah]
Beliau menyatakan bahawa MENGIKUT GENERASI SALAF adalah satu perkara yang sangat-sangat berbeza berbanding BERMAZHAB DENGAN MAZHAB AL-SALAFIYYAH yang digembar-gemburkan oleh pengamal Wahhabi pada hari ini.[Rujuk m/s 221 sehingga 242 daripada kitab di bawah].
Beliau berkata bahawa istilah yang digunakan oleh para ulama’ untuk menamakan kedudukan para ulama’ yang benar adalah Ahli Sunnah dan Jama’ah. Istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah adalah istilah yang telah diijmak oleh para ulama’ generasi Salaf untuk menamakan golongan yang benar. Manakala istilah al-Salafiyyah yang digunakan oleh golongan Wahhabi pada hari ini untuk melambangkan dan menamakan golongan yang benar [menurut sangkaan mereka] adalah satu bid’ah yang tercela bahkan tidak pernah digunakan oleh generasi Salafus Soleh untuk menamakan golongan yang benar. Sila lihat petikan dan terjemahan kata-kata beliau di bawah [Semoga anda diberi hidayah oleh Allas SWT]. Kitab ini bertajuk:
[السلفية: مرحلة زمنية مباركة لا مذهب إسلامي]
“Al-Salafiyyah: Satu Tempoh Masa Yang Diberkati dan bukanlah Sebuah Mazhab Islam.”
Kitab ini adalah satu penerangan dan kritikan yang penuh ilmiah terhadap ajaran Wahhabi yang dikarang oleh seorang alim seperti beliau.
“Cukuplah pujian bagi kitab ini dengan disebutkan nama penulisnya.”
Terjemahan:“Dan manakala apabila seorang Muslim mentakrifkan / memperkenalkan dirinya dengan menyatakan bahawa dia disandarkan kepada sebuah mazhab yang dikenali pada hari ini dengan al-Salafiyyah, maka tanpa ragu-ragu lagi dia adalah seorang ahli bid’ah.
Ini adalah kerana sekiranya istilah “al-Salafiyyah” boleh memberi maksud yang sama seperti “Ahli Sunnah dan Jamaah”, maka sesungguhnya dia telah melakukan bid’ah dengan mencipta nama yang berbeza dengan nama yang telah disepakati oleh generasi Salaf [Semoga keredhaan Allah dilimpahkan ke atas mereka].
Dan nama yang bid’ah lagi tidak diperlukan ini telah cukup untuk menimbulkan ketidakstabilan dan perpecahan di dalam saf-saf [perpaduan] umat Islam.
Dan manakala sekirannya nama al-Salafiyyah ini memberi maksud yang berbeza dengan dengan hakikat Ahli Sunnah dan Jama’ah – dan inilah kebenarannya – maka bid’ah ini telah berlaku dengan nama rekaan tersebut [al-Salafiyyah] serta kandungannya yang bathil, dan istilah ini cuba menegakkan benderanya dan mengangkat kedudukannya sebagai ganti kepada kebenaran yang telah disepakati oleh generasi Salaf dan [generasi Salafus Soleh pada hakikatnya] telah berijma’ menggunakan nama “Ahli Sunnah dan Jama’ah” [bagi golongan yang benar].”
Maka telah terbuktilah bid’ah [golongan Salafi Wahhabi ini] dalam menggunakan istilah “al-Salafiyyah” di samping maksudnya yang juga bid’ah untuk digunakan sebagai jenama/nama bagi sebuah kumpulan baru [Salafi Wahhabi] yang memisahkan diri mereka dari jemaah umum Umat Islam yang bersatu dalam menggunakan istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” serta berpegang dengan hakikat [Ahli Sunnah dan Jama’ah] yang benar.”
Dapat difahami daripada kata-kata di atas bahawa al-Sheikh al-Bouthi:
Menerangkan bahawa istilah al-Salafiyyah adalah satu istilah yang bid’ah dan bertentangan dengan kesepakatan ulama’ generasi Salaf.
Menolak istilah al-Salafiyyah untuk digunakan sebagai ganti Ahli Sunnah dan Jamaah.
Berterus-terang bahawa kandungan ajaran yang dibawa oleh kelompok Salafiyyah Wahhabiyyah adalah bukan merupakan pegangan Ahli Sunnah dan Jamaah.
Semoga nasihat beliau ini mampu melembutkan hati yang keras, menghidupkan hati yang mati, menyedarkan hati yang lalai, mengubati hati yang berpenyakit dan meluruskan hati yang terpesong dengan izin Allah SWT dan berkat kasih sayang-Nya kepada Rasulullah SAW.
Wassalam.
http://al-ashairah. blogspot. com/
http://salafytobat. wordpress. com
http://bahrusshofa. blogspot. com/
Kikis kolesterol dengan JERUK BALI
Kikis Kolesterol, Lindungi Jantung, Natural Healing
Jeruk bali bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan pektinnya lebih banyak dibandingkan dengan jeruk jenis lain. Pektin inilah yang dipercaya mampu menurunkan kolesterol sekaligus mengurangi risiko sakit jantung.
Hampir semua orang kenal jeruk bali. Rasa dan bentuknya khas. Kulitnya sering dimanfaatkan anak-anak di pedesaan sebagai bahan baku mobil-mobilan.
Daging buahnya yang segar dan banyak mengandung air, bisa langsung dimakan setelah dikupas atau sebagai campuran salad maupun rujak.
Buahnya yang berwarna putih dapat dijadikan manisan setelah dibuang bagian kulit luarnya yang banyak mengandung kelenjar minyak. Di Vietnam, bunganya yang harum digunakan untuk membuat parfum. Bukan hanya itu, kayunya juga sering dimanfaatkan untuk gagang perkakas alat dapur.
Jeruk bali bermanfaat menurunkan kolesterol dan melawan penyakit jantung. Kenyataan tersebut diungkapkan peneliti asal Israel seperti yang dirilis di berbagai situs kesehatan dunia.
Penelitian tersebut melibatkan 57 orang dengan kadar kolesterol tinggi dan baru menjalani operasi bypass pembuluh darah koroner. Kandungan lemak yang sangat tinggi menyebabkan tubuh pasien kebal terhadap obat-obatan yang biasa dipakai untuk menurunkan kadar kolesterol.
Pasien-pasien tersebut kemudian dibedakan menjadi tiga kelompok.
*Kelompok pertama diberi hidangan jeruk bali dengan daging buah berwarna merah selama 30 hari berturut-turut.
*Kelompok kedua diberi jeruk bali warna putih.
*Kelompok terakhir tidak diberi jeruk bali sama sekali.
Hasilnya, pasien kelompok pertama dan kedua sama-sama mengalami penurunan lemak darah, sedangkan pasien di kelompok terakhir tidak mengalami perubahan apa pun. Diketahui pula bahwa jeruk bali merah diyakini lebih efektif menurunkan kadar lemak, khususnya trigliserida.
Kandungan likopen jeruk bali berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut para peneliti, daging buah segar maupun jusnya memiliki manfaat yang sama. Temuan-temuan ini dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry.
Antibakteri
Para ahli dari Universitas Jagiellonian, Polandia, menemukan, ekstrak jeruk bali mengandung antibakteri dan antioksidan yang bisa "menenangkan" sistem getah perut untuk membantu proses penyembuhan. Dr. Thomas Brzozowski, ketua penelitian, menyarankan agar para penderita tukak lambung memasukkan jeruk ke dalam diet mereka meski secara alamiah mengandung asam.
Selama ini penderita luka lambung diminta tidak memasukkan jeruk ke dalam diet mereka, tetapi penelitian ini justru menyarankan sebaliknya. Ekstraknya diyakini bisa mengurangi kadar enzim COX-1 dan COX-2 yang ada dalam obat-obatan.
Kondisi ini memainkan peran utama dalam upaya penyembuhan lambung. Para peneliti yakin ekstrak jeruk bali mampu menyatu dengan kedua enzim itu dalam proses penyembuhah lambung.
Tak hanya bermanfaat menjaga kesehatan jantung dan lambung, jeruk bali juga baik untuk kesehatan gusi karena kadar vitamin C-nya tinggi. Hal ini diungkapkan Peneliti di Universitas Friedrich Schiller, Jerman, yang menemukan kaitan kesehatan gusi pada mereka yang banyak mengonsumsi jeruk bali.
Penelitian melibatkan 58 responden yang mengalami kerusakan gusi yang cukup parah. Kenyataannya, jeruk bali membawa dampak positif setelah dikonsumsi setiap hari selama sekitar dua minggu. Bahkan, dampak positif itu juga berlaku bagi perokok maupun bukan perokok. Seperti diketahui merokok adalah salah satu penyebab utama kerusakan gusi...
Manfaat lain jeruk bali, yakni membersihkan sel darah merah yang telah tua didalam tubuh dan menormalkan hematokrit (persentase sel darah per volume darah). Sekaligus sebagai sumber antioksidan penangkal kanker.
Jus Paling Favorit
Selain dikonsumsi segar, jeruk bali sering diolah dalam bentuk jus. Saat membuat jus, Anda dapat mencampur jeruk bali dengan bahan atau buah lainnya, sehingga rasanya jadi lebih nikmat.
Berikut contoh meramu jeruk bali yang baik untuk kesehatan:
#Sumber vitamin C dan penurun kolesterol
Konsumsi dua "siung" (helai dalam buah) jeruk bali ukuran sedang setiap hari untuk mendapatkan manfaatnya secara maksimal.
#Minuman antioksidan dan antikanker
Ambil satu buah jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas dan dibuang isinya. Masukkan ke dalam blender, tambahkan air secukupnya. Dapat juga ditambahkan satu sedok madu dan buah lainnya seperti mangga atau pir.
Cara lain, ambil satu buah jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas dan dibuang isinya, dan 1 cm jahe kupas. Masukkan seluruh bahan tersebut ke blender dengan ditambah sedikit air.
#Manisan
Potong-potong daging kulit jeruk bali (kulit luarnya dibuang) berbentuk juring, rebus dengan api kecil selama 60 menit. Buang air rebusannya, tiriskan, lalu timbang. Siapkan gula pasir sama beratnya dengan berat kulit jeruk yang telah direbus.
Taruh kulit jeruk rebus dalam panci, bubuhi air hingga terendam seluruhnya, tambahkan gula pasir. Rebus di atas api kecil sambil sesekali diaduk sampai menjadi sirop pekat. Angkat, biarkan kulit jeruk tetap terendam dalam sirop semalaman.
Esoknya, masak lagi di atas api kecil hingga sirop gula hampir habis. Keluarkan kulit jeruk dari sirop, hamparkan di atas nyiru, jemur hingga setengah kering. Potong-potong kecil panjang, masukkan ke dalam wadah tertutup. Agar tahan lama (1 bulan), simpan dalam lemari es.
Selain disantap sebagai kudapan, manisan kulit, jeruk bali bisa dicampurkan ke dalam adonan cake, terutama untuk menggantikan manisan sukade atau kulit jeruk parut. Manisan kulit jeruk yang dicampur manisan kering buah-buahan akan memperkaya cita rasa fruitcake.
#Campuran salad buah
Siapkan 200 gram pepaya, 200 gram apel, 200 gram nanas, 200 gram melon (semuanya dipotong dadu), dan jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas, dibuang isinya, dan dipotong-potong sesuai selera. Tambahkan stroberi dan kiwi untuk hiasan.
Siapkan juga bahan dressing, campuran alpukat yang telah diblender halus dengan mayones. Tambahkan empat sendok madu, kocok dengan mikser sampai rata, beri air secukupnya, lalu aduk rata. Bahan buah segar diatur dalam mangkuk atau piring, kemudian disiram dengan dressing.
Kandungan Jeruk Bali
>Likopen
Kandungan likopen pada jeruk bali cukup tinggi, yaitu 350 mikrogram per 100 gram daging buah. Jika bersinergi dengan betakaroten (provitamin A) yang banyak terdapat pada jeruk bali, likopen bisa berperan sebagai antioksidan.
>Pektin
Jeruk bali mengandung pektin jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis jeruk lainnya setelah dijus. Satu porsi jus jeruk bali mengandung lebih dari 3,9 persen pektin. Setiap 15 gram pektin dapat menurunkan 10 persen tingkat kolesterol. Berarti jeruk bali dapat menurunkan risiko penyakit jantung.
>Zat aktif pembersih darah
Jeruk bali dipercaya mengandung zat aktif yang dapat membersihkan sel darah merah yang telah tua di dalam tubuh dan menormalkan hematokrit, yaitu persentase sel darah per volume darah. Tingkat hematokrit normal pada wanita adalah 37-47 persen, sedangkan laki-laki 40-54 persen. Rendahnya hematokrit akan menyebabkan anemia, tetapi jika sangat tinggi dapat memicu penyakit jantung karena darah jadi mengental.
>Kalium
Jeruk bali (gravefruit) merupakan sumber kalium, vitamin A (440 IU), bioflavonoid, dan likopen (350 ug/100g). Hasil penelitian, jeruk bali termasuk antikanker yang sekaligus menyehatkan prostat.
>Vitamin C
Seperti jeruk lain, jeruk bali adalah sumber vitamin C (350 mikrogram per 100 gram daging jeruk). Vitamin C sangat baik sebagai sumber antioksidan.
Perokok dianjurkan untuk mengosumsi jeruk bali dua "siung" (helai dalam buah) setiap hari. Peningkatan kadar vitamin C di dalam darah mampu memperbaiki jaringan yang rusak, bahkan kanker, akibat tidak stabilnya molekul radikal bebas karena rokok dan polusi udara.
Jeruk bali bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan pektinnya lebih banyak dibandingkan dengan jeruk jenis lain. Pektin inilah yang dipercaya mampu menurunkan kolesterol sekaligus mengurangi risiko sakit jantung.
Hampir semua orang kenal jeruk bali. Rasa dan bentuknya khas. Kulitnya sering dimanfaatkan anak-anak di pedesaan sebagai bahan baku mobil-mobilan.
Daging buahnya yang segar dan banyak mengandung air, bisa langsung dimakan setelah dikupas atau sebagai campuran salad maupun rujak.
Buahnya yang berwarna putih dapat dijadikan manisan setelah dibuang bagian kulit luarnya yang banyak mengandung kelenjar minyak. Di Vietnam, bunganya yang harum digunakan untuk membuat parfum. Bukan hanya itu, kayunya juga sering dimanfaatkan untuk gagang perkakas alat dapur.
Jeruk bali bermanfaat menurunkan kolesterol dan melawan penyakit jantung. Kenyataan tersebut diungkapkan peneliti asal Israel seperti yang dirilis di berbagai situs kesehatan dunia.
Penelitian tersebut melibatkan 57 orang dengan kadar kolesterol tinggi dan baru menjalani operasi bypass pembuluh darah koroner. Kandungan lemak yang sangat tinggi menyebabkan tubuh pasien kebal terhadap obat-obatan yang biasa dipakai untuk menurunkan kadar kolesterol.
Pasien-pasien tersebut kemudian dibedakan menjadi tiga kelompok.
*Kelompok pertama diberi hidangan jeruk bali dengan daging buah berwarna merah selama 30 hari berturut-turut.
*Kelompok kedua diberi jeruk bali warna putih.
*Kelompok terakhir tidak diberi jeruk bali sama sekali.
Hasilnya, pasien kelompok pertama dan kedua sama-sama mengalami penurunan lemak darah, sedangkan pasien di kelompok terakhir tidak mengalami perubahan apa pun. Diketahui pula bahwa jeruk bali merah diyakini lebih efektif menurunkan kadar lemak, khususnya trigliserida.
Kandungan likopen jeruk bali berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut para peneliti, daging buah segar maupun jusnya memiliki manfaat yang sama. Temuan-temuan ini dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry.
Antibakteri
Para ahli dari Universitas Jagiellonian, Polandia, menemukan, ekstrak jeruk bali mengandung antibakteri dan antioksidan yang bisa "menenangkan" sistem getah perut untuk membantu proses penyembuhan. Dr. Thomas Brzozowski, ketua penelitian, menyarankan agar para penderita tukak lambung memasukkan jeruk ke dalam diet mereka meski secara alamiah mengandung asam.
Selama ini penderita luka lambung diminta tidak memasukkan jeruk ke dalam diet mereka, tetapi penelitian ini justru menyarankan sebaliknya. Ekstraknya diyakini bisa mengurangi kadar enzim COX-1 dan COX-2 yang ada dalam obat-obatan.
Kondisi ini memainkan peran utama dalam upaya penyembuhan lambung. Para peneliti yakin ekstrak jeruk bali mampu menyatu dengan kedua enzim itu dalam proses penyembuhah lambung.
Tak hanya bermanfaat menjaga kesehatan jantung dan lambung, jeruk bali juga baik untuk kesehatan gusi karena kadar vitamin C-nya tinggi. Hal ini diungkapkan Peneliti di Universitas Friedrich Schiller, Jerman, yang menemukan kaitan kesehatan gusi pada mereka yang banyak mengonsumsi jeruk bali.
Penelitian melibatkan 58 responden yang mengalami kerusakan gusi yang cukup parah. Kenyataannya, jeruk bali membawa dampak positif setelah dikonsumsi setiap hari selama sekitar dua minggu. Bahkan, dampak positif itu juga berlaku bagi perokok maupun bukan perokok. Seperti diketahui merokok adalah salah satu penyebab utama kerusakan gusi...
Manfaat lain jeruk bali, yakni membersihkan sel darah merah yang telah tua didalam tubuh dan menormalkan hematokrit (persentase sel darah per volume darah). Sekaligus sebagai sumber antioksidan penangkal kanker.
Jus Paling Favorit
Selain dikonsumsi segar, jeruk bali sering diolah dalam bentuk jus. Saat membuat jus, Anda dapat mencampur jeruk bali dengan bahan atau buah lainnya, sehingga rasanya jadi lebih nikmat.
Berikut contoh meramu jeruk bali yang baik untuk kesehatan:
#Sumber vitamin C dan penurun kolesterol
Konsumsi dua "siung" (helai dalam buah) jeruk bali ukuran sedang setiap hari untuk mendapatkan manfaatnya secara maksimal.
#Minuman antioksidan dan antikanker
Ambil satu buah jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas dan dibuang isinya. Masukkan ke dalam blender, tambahkan air secukupnya. Dapat juga ditambahkan satu sedok madu dan buah lainnya seperti mangga atau pir.
Cara lain, ambil satu buah jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas dan dibuang isinya, dan 1 cm jahe kupas. Masukkan seluruh bahan tersebut ke blender dengan ditambah sedikit air.
#Manisan
Potong-potong daging kulit jeruk bali (kulit luarnya dibuang) berbentuk juring, rebus dengan api kecil selama 60 menit. Buang air rebusannya, tiriskan, lalu timbang. Siapkan gula pasir sama beratnya dengan berat kulit jeruk yang telah direbus.
Taruh kulit jeruk rebus dalam panci, bubuhi air hingga terendam seluruhnya, tambahkan gula pasir. Rebus di atas api kecil sambil sesekali diaduk sampai menjadi sirop pekat. Angkat, biarkan kulit jeruk tetap terendam dalam sirop semalaman.
Esoknya, masak lagi di atas api kecil hingga sirop gula hampir habis. Keluarkan kulit jeruk dari sirop, hamparkan di atas nyiru, jemur hingga setengah kering. Potong-potong kecil panjang, masukkan ke dalam wadah tertutup. Agar tahan lama (1 bulan), simpan dalam lemari es.
Selain disantap sebagai kudapan, manisan kulit, jeruk bali bisa dicampurkan ke dalam adonan cake, terutama untuk menggantikan manisan sukade atau kulit jeruk parut. Manisan kulit jeruk yang dicampur manisan kering buah-buahan akan memperkaya cita rasa fruitcake.
#Campuran salad buah
Siapkan 200 gram pepaya, 200 gram apel, 200 gram nanas, 200 gram melon (semuanya dipotong dadu), dan jeruk bali ukuran sedang yang telah dikupas, dibuang isinya, dan dipotong-potong sesuai selera. Tambahkan stroberi dan kiwi untuk hiasan.
Siapkan juga bahan dressing, campuran alpukat yang telah diblender halus dengan mayones. Tambahkan empat sendok madu, kocok dengan mikser sampai rata, beri air secukupnya, lalu aduk rata. Bahan buah segar diatur dalam mangkuk atau piring, kemudian disiram dengan dressing.
Kandungan Jeruk Bali
>Likopen
Kandungan likopen pada jeruk bali cukup tinggi, yaitu 350 mikrogram per 100 gram daging buah. Jika bersinergi dengan betakaroten (provitamin A) yang banyak terdapat pada jeruk bali, likopen bisa berperan sebagai antioksidan.
>Pektin
Jeruk bali mengandung pektin jauh lebih banyak dibandingkan dengan jenis jeruk lainnya setelah dijus. Satu porsi jus jeruk bali mengandung lebih dari 3,9 persen pektin. Setiap 15 gram pektin dapat menurunkan 10 persen tingkat kolesterol. Berarti jeruk bali dapat menurunkan risiko penyakit jantung.
>Zat aktif pembersih darah
Jeruk bali dipercaya mengandung zat aktif yang dapat membersihkan sel darah merah yang telah tua di dalam tubuh dan menormalkan hematokrit, yaitu persentase sel darah per volume darah. Tingkat hematokrit normal pada wanita adalah 37-47 persen, sedangkan laki-laki 40-54 persen. Rendahnya hematokrit akan menyebabkan anemia, tetapi jika sangat tinggi dapat memicu penyakit jantung karena darah jadi mengental.
>Kalium
Jeruk bali (gravefruit) merupakan sumber kalium, vitamin A (440 IU), bioflavonoid, dan likopen (350 ug/100g). Hasil penelitian, jeruk bali termasuk antikanker yang sekaligus menyehatkan prostat.
>Vitamin C
Seperti jeruk lain, jeruk bali adalah sumber vitamin C (350 mikrogram per 100 gram daging jeruk). Vitamin C sangat baik sebagai sumber antioksidan.
Perokok dianjurkan untuk mengosumsi jeruk bali dua "siung" (helai dalam buah) setiap hari. Peningkatan kadar vitamin C di dalam darah mampu memperbaiki jaringan yang rusak, bahkan kanker, akibat tidak stabilnya molekul radikal bebas karena rokok dan polusi udara.
Bid'ah
Kenapa Ulama Guna Istilah “Bid’ah Dholalah dgn bid’ah hasanah” Bukan “sunnah sayyi’ah dgn sunnah hasanah”
FAHAMAN YANG SAHIH PADA AL- SUNNAH DAN AL- BID’AH.
Disediakan
OLEH :
AL-USTAZ ABD RAOF AL-BAHANJI AL-ALIYY.
http://pondoktampin .blogspot. com
Al-Sunnah dan al-Bid’ah adalah dua perkara yang berlawanan pada tuturan Soohib al- Syara’ , maka tidak dapat didefinasikan salah-satu dari keduanya melainkan dengan mendefinasikan pasangannya, dengan makna bahawa keduanya adalah saling berlawanan, (dengan sebab berlawanan definasi, ternyata segala perkara). Sesungguhnya kebanyakan pengarang telah mendefinasikan makna al-Bid’ah terlebih dulu dari al-Sunnah , maka sebab itu mereka jatuh kejurang yang sempit yang tidak mampu untuk keluar darinya dan berlumuran dengan dalil-dalil yang bercanggah dengan penta’rifan al- Bid’ah mereka . Jika mereka mendahulukan definasi al-Sunnah nescaya mereka dapat keluar dari kekeliruan dengan dhobith- dhobith yang tidak bercanggahan. Rasulullah s.a.w dalam hadis-hadis berkenaannya, bersungguh-sungguh mendahulukan mendefinasikan al-Sunnah , kemudian barulah dengan pasangannya yang berlawanan iaitu al-Bid’ah , seperti yang dilihat dalam hadis-hadis yang berikut:
1. Hadis Jabir disisi Muslim:
كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا خطب احمرت عيناه وعلا صوته : ويقول أما بعد فأن خير الحديث كتاب الله خير الهدى هدى محمد صلى الله عليه وآله وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثه بدعة وكل بدعة ضلالة
{ Adalah Rasulullah apabila berkhutbah , merah kedua mata baginda dan meninggi suara. Baginda bersabda : Amma ba’du ,maka sebaik-baik hadis itu adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejahat –jahat perkara adalah perkara baru. Tiap-tiap perkara baru adalah Bid’ah , dan setiap bid’ah adalah sesat.}. AL-Bukhari telah mentakhrijkannya sebagai mawquf atas Ibnu Mas’ud.
2. Menjelaskannya lagi oleh hadis Irbadh disisi Abi Daud dan al-Tirmizi , al-Tirmizi berkata Hasan Sahih , Ibnu Majah dan selain beliau
وعظنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم موعظة بليغة وجلت منها القلوب ودرفت منها العيون فقلنا يا رسول الله كأنها موعظه مودع فأوصنا فقال : أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع وان تأمر عليكم عبد حبشي فأنه من يعش بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فان كل بدعة ضلالة
{Rasulullah s.a.w, telah memberi wa’adz kepada kami satu wa’adz yang hebat sehingga hati kami berasa takut dan mata, maka kami berkata ” Wahai Rasulullah , seolah-olahnya wa’adz ini untuk yang terakhir, wasiatkankan kami . Baginda bersabda : Daku berwasiat kepada kamu dengan bertakwa kepada Allah s.w.t dan dengarlah (patuhilah amir ) sekalipun bahawa memerintahkan kamu oleh seorang Habsyhi , Sesungguhnya….. sesiapa yang sempat hidup selepas wafatku akan melihat pertelingkahan yang banyak . Maka lazimkan olehmu berpegang dengan al-Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa al- Rashidin al- Mahdiyyin , gigitlah ia dengan gigi gerham . Jaga-jagalah akan perkara-perkara baru, maka sesungguhnya setiap yang bid’ah adalah sesat}.
3. Telah menjelaskannya lagi oleh hadis Muslim dari Jarir r.a:
من سن في الإسلام سنة حسنة فله اجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الإسلام سنه سيئة كان عليه وزرها ووز من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من اوزارهم شئ
{Sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang baik didalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala sesiapa yang beramal dengan (SUNNAH) nya selepas (kematian) nya.Tidak berkurang pahalanya sedikitpun. (Sebaliknya) sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang buruk , adalah dosa atasnya dan dosa mereka yang beramal dengan (SUNNAH BURUK) nya selepas (kematian) nya, tidak berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka yang akan ditanggungnya) .}
Seumpama hadis-hadis ini ada lagi hadis-hadis lain yang beredar disekitarnya . Salahsatunya hadis riwayat Ibnu Masud r.a:
( من دل على خير فله مثل أجر فاعله )
{Sesiapa yang menunjjukan perkara kebaikan maka baginya seumpama pahala orang yang melakukannya. }.
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص من أجورهم شئ ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الآثم
{Sesiapa yang menyeru kepada petunjuk , nescaya dia mendapat pahala seumpama pahala mereka yang mengikutinya ,tidak ada kurang pahalanya sedikitpun. Sesiapa yang menyeru kepada kesesatan ,adalah ia mendapat dosa….. hingga akhir hadis…}.
Cublah kita perhatikan pada susunan ayat hadis-hadis tersebut. Nabi s.a.w telah mendahulukan anjuran menuruti Sunnah/petunjuk kemudian barulah diikuti tegahan bid’ah/kesesatan.. disetiap kalimat yang datang dari Penghulu Segala Rasul ,adalah hikmat dan makna yang perlu diperhatikan dengan teliti . Jangan gopoh dan melulu membuat kesimpulan .Perhatikanlah dan telitilah pada hadis yang pertama lawan bagi- “Perkara baru (al-muhdath) dan al-Bid’ah” – adalah- “Petunjuk Nabawi”-, dan bahawa petunjuk Rasul adalah sebaik-baik petunjuk . dan sejahat-jahat perkara baru yang bertentangan bagi petunjuk adalah bid’ah.
Hadis yang kedua ini :
.عليكم بسنتي وسنة الخلفاء … الخ
. واياكم ومحدثان الأمور فأن كل محدثة بدعة
dan pada hadis yang ketiga – “al-Sunnah yang baik (al-sunnah al-Hasanah)”- dilawankan -dengan “al-Sunnah yang buruk ( al-Sunnah al-Sayyiah)”;
من سن سنة حسنة ومن سن سنة الحسنة مقابل بالسنة السيئة من سن سنة حسنة ومن سن سنة سيئة
Oleh itu, “al-Sunnah” yang disebut diawal hadis-hadis tersebut adalah merupakan “Asal” atau punca , sedangkan perkara yang keluar atau terbit atau dikatakan furu’ dari asalnya,disebut
“al-Bida’h”.
Kemudian marilah kita menyelidik , apakah yang dimaksudkan dengan “al-Sunnah” yang telah dilawankan dengan pasangannya “al-Bid’ah” didalam hadis riwayat al-Irbadh tersebut?.
“Al-Sunnah” pada sisi bahasa Arab dan disisi Syara’ bermakna “al-Thoriqah” iaitu “Petunjuk Rasul s.a.w” . Pentakrifan begitu sebenarnya adalah yang paling tepat sebab ianya telah diambil dari sisi pihak matan Hadis-hadis tersebut sendiri .
Lihatlah saja pada kalimat dalam hadis Jabir :
من دعا إلى هدى
(Sesiapa yang telah menyeru kepada “Petunjuk” Rasul s.a.w )…
Satu lagi pada hadis Sahih yang Masyhur :
لتتبعن سنن من قبلكم
(Nanti kamu akan mengikuti sunnah-sunnah mereka yang terdahulu dari kamu)
- maksudnya – Thoriqah mereka- .
Demikian juga hadis: (Sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang baik didalam Islam…(Sebaliknya) sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang jahat) iaitu maksudnya adalah “Thoriqah- seperti makna-makna hadis dulu juga..
Maka Thoriqah Rasul s.a.w adalah PetunjukNya (al-Huda), samada menerimanya atau menolaknya adalah disebut juga al-Sunnah yang yang dimaksudkan dan ditafsirkan oleh hadis Jabir r.a dengan – Sunnah yang Baik- dan Sunnah yang jahat- iaitu Thoriqah yang baik atau Thoriqah kejahatan atau Petunjuk yang baik dan Petunjuk yang jahat. Disebut juga method.
Mendefinasikan al-Sunnah dalam hadis-hadis tersebut dengan makna-makna lain , seperti mana definasi “al-Sunnah” dalam ilmu Musthalah dan ilmu Usul Fiqh atau ilmu Fiqh , adalah kekeliruan yang membawa kepada bencana yang dahsyat dalam arena keilmuan.
1.Takrif al-Sunnah disisi ilmu Musthalah memaksudkan “hadis-hadis”.
2.Takrif al-Sunnah disisi ilmu Fiqh dan Usulnya, bermaksud Muqobil (lawanan) bagi “al-Waajib”.
Kedua-dua bentuk takrifan tesebut adalah bertentangan dan tidak menepati kehendak-kehendak hadis-hadis yang berkaitan. Kerana takrif al-Sunnah pada sisi kedua-dua bidang tersebut adalah bukan makna-makna yang difaham dari hadis-hadis yang berkaitannya. Bahkan yang dimaksudkan dengan “al-Sunnah” atau “Sunnatur Rasul” disisi hadis-hadis tersebut adalah -ThoriqahNya- pada Perbuatan, Perintah, Menerima dan Menolak – ianya juga merupakan Thoriqah Khalifah-khalifahny a (Khulafaa al-Raashidin) , yang telah mengikuti ThoriqahNya pada Perbuatan, Perintah, Menerima dan Menolak.
Saya menegaskan , jika dipakai makna ayat “Sunnatun Hasanatun dan Sunnatun Sayyiatun” sebagai makna 2 takrifan yang tersebut adalah yang betul dan menepati kehendak lafaz hadis tersebut?, maka timbul kemuskilan yang besar pula, iaitu ” adakah pernah dijumpai dimana-mana petunjuk dalil bahawa terdapatnya satu contoh Sunnah Jahat (Sunnatun Sayyiatun) dalam Perbuatan, perkataan dan cita-cita Nabi s.a.w????? “. maka fikirkanlah dan kajilah dengan melalui method yang wajar.
Lampiran (dari admin salafytobat) :
1. Ayat al-qur’an
Bid’ah Huda (baik) dan Bid’ah Dlalalah (sesat). Allah ta’ala berfirman:
( (ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله) (سورة الحديد : 27
Maknanya: “… dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya)
untuk mencari keridlaan Allah” (Q.S. al Hadid: 27) >>>> lihat dalam ayat ini : ini fi’il atau kata kerja yg artinya mengada-adakan ,(lafadz bid’ah adalah kata isim (benda))
Allah memuji perbuatan para pengikut nabi Isa ‘alayhissalam yang muslim, yaitu melakukan rahbaniyyah (menjauhkan diri dari hal-hal yang mendatangkan kesenangan nafsu, supaya bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan ibadah), padahal hal itu tidak diwajibkan atas mereka. Hal ini mereka lakukan sematamata
2. Menurut Imam Syafi’i tentang pemahaman bid’ah ada dua riwayat yang menjelaskannya.
Pertama, riwayat Abu Nu’aim;
اَلبِدْعَة ُبِدْعَتَانِ , بِدْعَة ٌمَحْمُودَةٌ وَبِدْعَةِ مَذْمُوْمَةٌ فِيْمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومْ.
‘Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela’.Kedua, riwayat Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi’i :
. اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ, مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ
وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا ِمْن ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٌ
‘Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah bid’ah dholalah/ sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’.
Menurut kenyataan memang demikian, ada bid’ah yang baik dan terpuji dan ada pula bid’ah yang buruk dan tercela. Banyak sekali para Imam dan ulama pakar yang sependapat dengan Imam Syafi’i itu. Bahkan banyak lagi yang menetapkan perincian lebih jelas lagi seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu ‘Abdussalam, Imam Al-Qurafiy, Imam Ibnul-‘Arabiy, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar dan lain-lain.
Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa bid’ah itu adalah segala praktek baik termasuk dalam ibadah ritual maupun dalam masalah muamalah, yang tidak pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Meski namanya bid’ah, namun dari segi ketentuan hukum syari’at,, hukumnya tetap terbagi menjadi lima perkara sebagaimana hukum dalam fiqih. Ada bid’ah yang hukumnya haram, wajib, sunnah, makruh dan mubah.
Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari 4/318 sebagai berikut: “Pada asalnya bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek. Jika tidak begitu, maka dia termasuk bagian yang mubah. Dan terkadang bid’ah itu terbagi kepada hukum-hukum yang lima”.
Pendapat beliau ini senada juga yang diungkapkan oleh ulama-ulama pakar berikut ini :
Jalaluddin as-Suyuthi dalam risalahnya Husnul Maqooshid fii ‘Amalil Maulid dan juga dalam risalahnya Al-Mashoobih fii Sholaatit Taroowih; Az-Zarqooni dalam Syarah al Muwattho’ ; Izzuddin bin Abdus Salam dalam Al-Qowaa’id ; As-Syaukani dalam Nailul Author ; Ali al Qoori’ dalam Syarhul Misykaat; Al-Qastholaani dalam Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhori, dan masih banyak lagi ulama lainnya yang senada dengan Ibnu Hajr ini yang tidak saya kutip disini.
3. Bid’ah menurut wahhaby???
Ada golongan lagi yang menganggap semua bidáh itu dholalah/sesat dan tidak mengakui adanya bidáh hasanah/mahmudah, tetapi mereka sendiri ada yang membagi bidáh menjadi beberapa macam. Ada bidáh mukaffarah (bidáh kufur), bidáh muharramah (bidáh haram) dan bidáh makruh (bidáh yang tidak disukai). Mereka tidak menetapkan adanya bidáh mubah, seolah-olah mubah itu tidak termasuk ketentuan hukum syariát, atau seolah-olah bidáh diluar bidang ibadah tidak perlu dibicarakan
http://salafytobat. wordpress. com
Diambil dari : Milist Majelis Rasululloh
FAHAMAN YANG SAHIH PADA AL- SUNNAH DAN AL- BID’AH.
Disediakan
OLEH :
AL-USTAZ ABD RAOF AL-BAHANJI AL-ALIYY.
http://pondoktampin .blogspot. com
Al-Sunnah dan al-Bid’ah adalah dua perkara yang berlawanan pada tuturan Soohib al- Syara’ , maka tidak dapat didefinasikan salah-satu dari keduanya melainkan dengan mendefinasikan pasangannya, dengan makna bahawa keduanya adalah saling berlawanan, (dengan sebab berlawanan definasi, ternyata segala perkara). Sesungguhnya kebanyakan pengarang telah mendefinasikan makna al-Bid’ah terlebih dulu dari al-Sunnah , maka sebab itu mereka jatuh kejurang yang sempit yang tidak mampu untuk keluar darinya dan berlumuran dengan dalil-dalil yang bercanggah dengan penta’rifan al- Bid’ah mereka . Jika mereka mendahulukan definasi al-Sunnah nescaya mereka dapat keluar dari kekeliruan dengan dhobith- dhobith yang tidak bercanggahan. Rasulullah s.a.w dalam hadis-hadis berkenaannya, bersungguh-sungguh mendahulukan mendefinasikan al-Sunnah , kemudian barulah dengan pasangannya yang berlawanan iaitu al-Bid’ah , seperti yang dilihat dalam hadis-hadis yang berikut:
1. Hadis Jabir disisi Muslim:
كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا خطب احمرت عيناه وعلا صوته : ويقول أما بعد فأن خير الحديث كتاب الله خير الهدى هدى محمد صلى الله عليه وآله وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثه بدعة وكل بدعة ضلالة
{ Adalah Rasulullah apabila berkhutbah , merah kedua mata baginda dan meninggi suara. Baginda bersabda : Amma ba’du ,maka sebaik-baik hadis itu adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejahat –jahat perkara adalah perkara baru. Tiap-tiap perkara baru adalah Bid’ah , dan setiap bid’ah adalah sesat.}. AL-Bukhari telah mentakhrijkannya sebagai mawquf atas Ibnu Mas’ud.
2. Menjelaskannya lagi oleh hadis Irbadh disisi Abi Daud dan al-Tirmizi , al-Tirmizi berkata Hasan Sahih , Ibnu Majah dan selain beliau
وعظنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم موعظة بليغة وجلت منها القلوب ودرفت منها العيون فقلنا يا رسول الله كأنها موعظه مودع فأوصنا فقال : أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع وان تأمر عليكم عبد حبشي فأنه من يعش بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فان كل بدعة ضلالة
{Rasulullah s.a.w, telah memberi wa’adz kepada kami satu wa’adz yang hebat sehingga hati kami berasa takut dan mata, maka kami berkata ” Wahai Rasulullah , seolah-olahnya wa’adz ini untuk yang terakhir, wasiatkankan kami . Baginda bersabda : Daku berwasiat kepada kamu dengan bertakwa kepada Allah s.w.t dan dengarlah (patuhilah amir ) sekalipun bahawa memerintahkan kamu oleh seorang Habsyhi , Sesungguhnya….. sesiapa yang sempat hidup selepas wafatku akan melihat pertelingkahan yang banyak . Maka lazimkan olehmu berpegang dengan al-Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa al- Rashidin al- Mahdiyyin , gigitlah ia dengan gigi gerham . Jaga-jagalah akan perkara-perkara baru, maka sesungguhnya setiap yang bid’ah adalah sesat}.
3. Telah menjelaskannya lagi oleh hadis Muslim dari Jarir r.a:
من سن في الإسلام سنة حسنة فله اجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الإسلام سنه سيئة كان عليه وزرها ووز من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من اوزارهم شئ
{Sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang baik didalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala sesiapa yang beramal dengan (SUNNAH) nya selepas (kematian) nya.Tidak berkurang pahalanya sedikitpun. (Sebaliknya) sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang buruk , adalah dosa atasnya dan dosa mereka yang beramal dengan (SUNNAH BURUK) nya selepas (kematian) nya, tidak berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka yang akan ditanggungnya) .}
Seumpama hadis-hadis ini ada lagi hadis-hadis lain yang beredar disekitarnya . Salahsatunya hadis riwayat Ibnu Masud r.a:
( من دل على خير فله مثل أجر فاعله )
{Sesiapa yang menunjjukan perkara kebaikan maka baginya seumpama pahala orang yang melakukannya. }.
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص من أجورهم شئ ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الآثم
{Sesiapa yang menyeru kepada petunjuk , nescaya dia mendapat pahala seumpama pahala mereka yang mengikutinya ,tidak ada kurang pahalanya sedikitpun. Sesiapa yang menyeru kepada kesesatan ,adalah ia mendapat dosa….. hingga akhir hadis…}.
Cublah kita perhatikan pada susunan ayat hadis-hadis tersebut. Nabi s.a.w telah mendahulukan anjuran menuruti Sunnah/petunjuk kemudian barulah diikuti tegahan bid’ah/kesesatan.. disetiap kalimat yang datang dari Penghulu Segala Rasul ,adalah hikmat dan makna yang perlu diperhatikan dengan teliti . Jangan gopoh dan melulu membuat kesimpulan .Perhatikanlah dan telitilah pada hadis yang pertama lawan bagi- “Perkara baru (al-muhdath) dan al-Bid’ah” – adalah- “Petunjuk Nabawi”-, dan bahawa petunjuk Rasul adalah sebaik-baik petunjuk . dan sejahat-jahat perkara baru yang bertentangan bagi petunjuk adalah bid’ah.
Hadis yang kedua ini :
.عليكم بسنتي وسنة الخلفاء … الخ
. واياكم ومحدثان الأمور فأن كل محدثة بدعة
dan pada hadis yang ketiga – “al-Sunnah yang baik (al-sunnah al-Hasanah)”- dilawankan -dengan “al-Sunnah yang buruk ( al-Sunnah al-Sayyiah)”;
من سن سنة حسنة ومن سن سنة الحسنة مقابل بالسنة السيئة من سن سنة حسنة ومن سن سنة سيئة
Oleh itu, “al-Sunnah” yang disebut diawal hadis-hadis tersebut adalah merupakan “Asal” atau punca , sedangkan perkara yang keluar atau terbit atau dikatakan furu’ dari asalnya,disebut
“al-Bida’h”.
Kemudian marilah kita menyelidik , apakah yang dimaksudkan dengan “al-Sunnah” yang telah dilawankan dengan pasangannya “al-Bid’ah” didalam hadis riwayat al-Irbadh tersebut?.
“Al-Sunnah” pada sisi bahasa Arab dan disisi Syara’ bermakna “al-Thoriqah” iaitu “Petunjuk Rasul s.a.w” . Pentakrifan begitu sebenarnya adalah yang paling tepat sebab ianya telah diambil dari sisi pihak matan Hadis-hadis tersebut sendiri .
Lihatlah saja pada kalimat dalam hadis Jabir :
من دعا إلى هدى
(Sesiapa yang telah menyeru kepada “Petunjuk” Rasul s.a.w )…
Satu lagi pada hadis Sahih yang Masyhur :
لتتبعن سنن من قبلكم
(Nanti kamu akan mengikuti sunnah-sunnah mereka yang terdahulu dari kamu)
- maksudnya – Thoriqah mereka- .
Demikian juga hadis: (Sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang baik didalam Islam…(Sebaliknya) sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang jahat) iaitu maksudnya adalah “Thoriqah- seperti makna-makna hadis dulu juga..
Maka Thoriqah Rasul s.a.w adalah PetunjukNya (al-Huda), samada menerimanya atau menolaknya adalah disebut juga al-Sunnah yang yang dimaksudkan dan ditafsirkan oleh hadis Jabir r.a dengan – Sunnah yang Baik- dan Sunnah yang jahat- iaitu Thoriqah yang baik atau Thoriqah kejahatan atau Petunjuk yang baik dan Petunjuk yang jahat. Disebut juga method.
Mendefinasikan al-Sunnah dalam hadis-hadis tersebut dengan makna-makna lain , seperti mana definasi “al-Sunnah” dalam ilmu Musthalah dan ilmu Usul Fiqh atau ilmu Fiqh , adalah kekeliruan yang membawa kepada bencana yang dahsyat dalam arena keilmuan.
1.Takrif al-Sunnah disisi ilmu Musthalah memaksudkan “hadis-hadis”.
2.Takrif al-Sunnah disisi ilmu Fiqh dan Usulnya, bermaksud Muqobil (lawanan) bagi “al-Waajib”.
Kedua-dua bentuk takrifan tesebut adalah bertentangan dan tidak menepati kehendak-kehendak hadis-hadis yang berkaitan. Kerana takrif al-Sunnah pada sisi kedua-dua bidang tersebut adalah bukan makna-makna yang difaham dari hadis-hadis yang berkaitannya. Bahkan yang dimaksudkan dengan “al-Sunnah” atau “Sunnatur Rasul” disisi hadis-hadis tersebut adalah -ThoriqahNya- pada Perbuatan, Perintah, Menerima dan Menolak – ianya juga merupakan Thoriqah Khalifah-khalifahny a (Khulafaa al-Raashidin) , yang telah mengikuti ThoriqahNya pada Perbuatan, Perintah, Menerima dan Menolak.
Saya menegaskan , jika dipakai makna ayat “Sunnatun Hasanatun dan Sunnatun Sayyiatun” sebagai makna 2 takrifan yang tersebut adalah yang betul dan menepati kehendak lafaz hadis tersebut?, maka timbul kemuskilan yang besar pula, iaitu ” adakah pernah dijumpai dimana-mana petunjuk dalil bahawa terdapatnya satu contoh Sunnah Jahat (Sunnatun Sayyiatun) dalam Perbuatan, perkataan dan cita-cita Nabi s.a.w????? “. maka fikirkanlah dan kajilah dengan melalui method yang wajar.
Lampiran (dari admin salafytobat) :
1. Ayat al-qur’an
Bid’ah Huda (baik) dan Bid’ah Dlalalah (sesat). Allah ta’ala berfirman:
( (ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله) (سورة الحديد : 27
Maknanya: “… dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya)
untuk mencari keridlaan Allah” (Q.S. al Hadid: 27) >>>> lihat dalam ayat ini : ini fi’il atau kata kerja yg artinya mengada-adakan ,(lafadz bid’ah adalah kata isim (benda))
Allah memuji perbuatan para pengikut nabi Isa ‘alayhissalam yang muslim, yaitu melakukan rahbaniyyah (menjauhkan diri dari hal-hal yang mendatangkan kesenangan nafsu, supaya bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan ibadah), padahal hal itu tidak diwajibkan atas mereka. Hal ini mereka lakukan sematamata
2. Menurut Imam Syafi’i tentang pemahaman bid’ah ada dua riwayat yang menjelaskannya.
Pertama, riwayat Abu Nu’aim;
اَلبِدْعَة ُبِدْعَتَانِ , بِدْعَة ٌمَحْمُودَةٌ وَبِدْعَةِ مَذْمُوْمَةٌ فِيْمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومْ.
‘Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela’.Kedua, riwayat Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi’i :
. اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ, مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ
وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا ِمْن ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٌ
‘Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah bid’ah dholalah/ sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’.
Menurut kenyataan memang demikian, ada bid’ah yang baik dan terpuji dan ada pula bid’ah yang buruk dan tercela. Banyak sekali para Imam dan ulama pakar yang sependapat dengan Imam Syafi’i itu. Bahkan banyak lagi yang menetapkan perincian lebih jelas lagi seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu ‘Abdussalam, Imam Al-Qurafiy, Imam Ibnul-‘Arabiy, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar dan lain-lain.
Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa bid’ah itu adalah segala praktek baik termasuk dalam ibadah ritual maupun dalam masalah muamalah, yang tidak pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Meski namanya bid’ah, namun dari segi ketentuan hukum syari’at,, hukumnya tetap terbagi menjadi lima perkara sebagaimana hukum dalam fiqih. Ada bid’ah yang hukumnya haram, wajib, sunnah, makruh dan mubah.
Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari 4/318 sebagai berikut: “Pada asalnya bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek. Jika tidak begitu, maka dia termasuk bagian yang mubah. Dan terkadang bid’ah itu terbagi kepada hukum-hukum yang lima”.
Pendapat beliau ini senada juga yang diungkapkan oleh ulama-ulama pakar berikut ini :
Jalaluddin as-Suyuthi dalam risalahnya Husnul Maqooshid fii ‘Amalil Maulid dan juga dalam risalahnya Al-Mashoobih fii Sholaatit Taroowih; Az-Zarqooni dalam Syarah al Muwattho’ ; Izzuddin bin Abdus Salam dalam Al-Qowaa’id ; As-Syaukani dalam Nailul Author ; Ali al Qoori’ dalam Syarhul Misykaat; Al-Qastholaani dalam Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhori, dan masih banyak lagi ulama lainnya yang senada dengan Ibnu Hajr ini yang tidak saya kutip disini.
3. Bid’ah menurut wahhaby???
Ada golongan lagi yang menganggap semua bidáh itu dholalah/sesat dan tidak mengakui adanya bidáh hasanah/mahmudah, tetapi mereka sendiri ada yang membagi bidáh menjadi beberapa macam. Ada bidáh mukaffarah (bidáh kufur), bidáh muharramah (bidáh haram) dan bidáh makruh (bidáh yang tidak disukai). Mereka tidak menetapkan adanya bidáh mubah, seolah-olah mubah itu tidak termasuk ketentuan hukum syariát, atau seolah-olah bidáh diluar bidang ibadah tidak perlu dibicarakan
http://salafytobat. wordpress. com
Diambil dari : Milist Majelis Rasululloh
Langganan:
Postingan (Atom)