Rabu, 28 April 2010

Harap dan Takut

Sumber: Bisyarah.Wordpress. Com



Kalam Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi



Habib Abdullah Al-Haddad berkata dalam qoshidahnya:



Dan rasa takut kepada Allah Al-Adhim
dan juga rasa harap,
keduanya bagai obat
yang bermanfaat



Al-Khouf (takut) adalah penderitaan dan rasa tak enak hati karena menunggu kedatangan sesuatu yang dibenci. Dan Ar-Roja (harap) adalah ketentraman dan kebahagiaan hati karena menunggu kedatangan sesuatu yang disukai. Keduanya: takut dan harap, adalah obat untuk menghilangkan perasaan aman dari makar Allah dan untuk mengobati perasaan putus asa dari rahmat-Nya. Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi, dan tidak berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang merugi.



Maksud aman di sini adalah perasaan yakin bahwa Allah tidak akan menyiksanya. Putus asa di sini adalah perasaan yakin bahwa Allah tidak akan merahmatinya. Keduanya adalah sikap yang bodoh terhadap Allah dan dapat menjadi penyakit yang membinasakan. Obat bagi kedua penyakit ini adalah Al-Khouf dan Ar-Roja karena dengan memiliki kedua perasaan tadi manusia akan berpikir bahwa boleh jadi, Allah akan menyiksanya atau merahmatinya.



Jadi, janganlah terlalu yakin dengan dirimu. Benar, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, namun juga maha pedih siksanya:



“Yang Maha mengampuni dosa dan menerima taubat, pedih siksa-Nya, mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” (QS Al Mukmin, 40:3)



Jika manusia membayangkan kerasnya siksa Allah Ta’âla maka hatinya akan merasa sedih dan menderita. Namun, jika membayangkan rahmat dan ampunan-Nya, meski ia tahu bahwa siksa Allah amat pedih, hatinya merasa tenang. Al-Khouf dan Ar-Roja bagaikan dua sayap burung. Ar-Roja menggerakkan manusia untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Al-Khouf mengekang manusia dari perbuatan yang membahayakan keselamatan.



[Diambil dari Wasiat dan Nasihat, Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi, penerbit Putera Riyadi, Solo]

Kisah Said bin Zaid dan Ayahnya

kompilasi dari beberapa link berikut:
http://majlisdzikru llahpekojan. org/kisah- sahabat-nabi/ said-bin- zaid-bin- amru-bin- nufail.html
http://www.al- ikhwan.net/ mutiara-kehidupa n-para-sahabat- said-bin- zaid-sosok- pemberani- nan-gagah- yang-memilki- doa-makbul- 324/
http://tokoh- ilmuwan-penemu. blogspot. com/2009/ 12/said-bin- zaid-bin- amru.html


Said bin Zaid bin Amru bin Nufail Al Adawi atau sering juga disebut sebagai Abul A'waar lahir di Mekah 22 tahun sebelum Hijrah. Beliau termasuk sepuluh orang yang diberi kabar gembira akan masuk surga oleh Nabi saw.



"Wahai Allah, jika Engkau mengharamkanku dari agama yang lurus ini, janganlah anakku Sa’id diharamkan pula daripadanya.” (Doa Zaid untuk anaknya Said).



Ayah Said bernama Zaid bin Amru bin Nufail, tidak suka dan tidak pernah mau mengikuti ajaran jahiliyah. Beliau, yang diberi gelar Hanif, adalah penyelamat bayi perempuan yang ingin di bunuh oleh bapaknya pada masa tersebut dan mengambilnya sebagai anak angkat. Beliau juga tak pernah menyekutukan Allah, juga tak pernah menggunakan apa pun sebagai perantaranya dengan Allah. Beliau pernah mempelajari agama Yahudi dan Nasrani, tapi masih juga tak puas, sampai akhirnya beliau bertemu dengan seorang rahib yang memberi tahu bahwa Allah akan mengirimkan seorang Nabi dari kalangan bangsa Arab. Oleh karena itu beliau memutuskan untuk kembali ke Mekah. Di tengah jalan beliau terbunuh oleh kawanan perampok sehingga tak sempat kembali ke Mekah. Tapi doanya agar Allah tidak menghalangi anaknya masuk Islam sebagaimana beliau terhalang, terkabul.



Allah memperkenankan doa Zaid. Pada waktu Rasulullah saw mengajak orang banyak untuk masuk Islam, Said segera memenuhi panggilan Islam. Said bin zaid menjadi pelopor orang-orang beriman dengan Allah dan membenarkan kerasulan Nabi Muhammad saw.

Said bin Zaid masuk Islam tidak seorang diri, melainkan bersama-sama dengan isterinya, Fathimah binti Khatthab, adik perempuan Umar bin Khattab. Karena pemuda Quraisy ini masuk Islam, dia disakiti dan dianiaya, serta dipaksa oleh kaumnya agar kembali kepada agama mereka. Tetapi jangankan mereka berhasil mengembalikan Said dan isterinya kepada kepercayaan nenek moyang mereka, bahkan sebaliknya Said dan isterinya berhasil menarik seorang laki-laki Quraisy yang paling berbobot, baik fisik maupun intelektualnya masuk ke dalam Islam. Mereka berdualah yang telah menyebabkan Umar bin Khattab masuk Islam.



Said bin zaid pernah hijrah ke Habsyah (Ethiopia), kemudian Madinah, dan Rasulullah saw mempersaudarakan beliau dengan Ubay bin Ka’ab.


-=-=-=-


Beliau adalah Sa’id bin Zaid –semoga Allah meridloinya- salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, tumbuh di rumah dan keluarga yang tidak merasa asing akan iman, bapaknya bernama Zaid bin Amru bin Nufail yang sudah sejak lama meninggalkan sembahan berhala, dan kembali kepada menyembah Allah dan agama Ibrahim, dimana beliau pernah menyandarkan kepalanya di dinding Ka’bah dan berkata : “Wahai penduduk Quraisy, demi Allah tidak ada seorangpum selain saya yang mengikuti agama nabi Ibrahim”. (Ibnu Hisyam), Sa’id tumbuh yang semenjak kecilnya dengan agama yang suci seperti bapaknya, dan saat mendengar seruan Islam beliaupun segera memeluk Islam, yaitu pada saat Rasulullah saw masuk ke dalam Rumah Al-Arqom bin Abi Al-Arqam, bersama istrinya Fatimah binti Khattab.



Zaid banyak menanggung beban penyiksaan selama berada di jalan Allah, dimana keduanya yang menyebabkan Umar masuk Islam; saat Umar mendatangi rumahnya yang sedang membaca Al-Qur’an bersama Khabbab bin Al-Art, maka Umarpun mengambil Sohifah itu dari keduanya dan membaca isinya, hingga Allah memberikan kelapangan dadanya dan mengiklankan diri untuk masuk Islam.



Sa’id pernah hijrah ke Habsyah, kemudian Madinah, dan Rasulullah saw mempersaudarakan beliau dengan Ubay bin Ka’ab –semoga Allah meridloi keduanya-.


-=-=-=-

Sa id bin zaid bin Amru bin Nufail bin Abdulluza bi Al Adwa adalah
anak dari Fatimah binti Ba jah bin Malik Alkhuzaiyyah. Nama Fatimah
tercatat sebagai salah seorang yang pertama kali masuk islam.
Sedangkan Said termasuk gelombang pertama yang masuk islam
sebelum Rasulullah saw masuk Daarul Arqom. Said telah memeluk
islam sebelum Umar bin Khattab. Isteri Said bernama Fatimah binti
Khattab, yang merupakan adik dari Umar bin Khattab sendiri.
Zaid bin Amru bin Nufail yang merupakan ayah dari Said adalah
termasuk orang yang meninggalkan penyembahan berhala sebelum
Muhammad diutus menjadi Nabi dan Rasul. Zaid bin Amru
mengumumkan keyakinannya itu secara terbuka di hadapan kaum
Quraisy. Ia berkata, Wahai kaum Quraisy, apakah ada diantara
kalian yang mrnganut agama Ibrahim? Zaid klemudian berkata
kepada sahabatnya, Amir, Aku sedang menanti seorang Nabi dari
keturunan Ismail yang akan diutus. Aku kira tidak akan sempat
melihatnya tapi aku beriman kepadanya dan meyakini kebenerannya.
Aku bersaksi bahwa dia adalah nabi. Jika kamu panjang umur dan
bertemu dengannya sampaikan salamku padanya.

Ayah Said wafat ketika kaum Quraisy memperbaharui tatanan
Ka bah sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. Said berasal dari
keluarga yang hanif , pengikut ajaran Ibrahin as. Ayahnya telah
meninggalkan tradisi Quraisy , menyembah berhala, minuman keras,
dan permainan hiburan yang merusak. Dia menentang sekali
penguburan hidup-hidup bayi perempuan. Kepada yang akan
menguburkan bayi perempuan anaknya ia berkata, Jangan kau
membunuhnya, aku yang akan memeliharanya.

Ibarat peribahasa, air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga ,
makan Said dan ayahnya merupakan contoh dari peribahasa tersebut.
Tidak heran, bila langkah-langkah yang ditempuh Said sejalan dengan
ayahnya yang telah mengenal Tuhannya dan jiwanya sarat dengan
keimanan. Said termasuk sahabat ikut hijrah ke Madinah. Hampir
setiap pertempuran diikutinya, kecuali perang Badar. Sewaktu perang
Badar, bersama Thalhah bin Ubaidillah, ia mendapat tugas sebagai pengintai kafilah dan kekuatan lawan yang sedang dalam perjalanan
dari negeri Syam. Tugas ini adalah bagian dari rencana Rasulullah
saw sebelum mengatur strategi dalam perang Badar.

Tafsir QS al-Baqarah [2]: 62)

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in, siapa saja di antara mereka yang beriman� kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal salih akan menerima pahala dari Tuhan mereka;� tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (QS al-Baqarah [2]: 62).


Sabab Nuzûl

Dikemukakan Ibnu Abi Hatim dari Salman al-Farisi, “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang para pemeluk agama yang pernah saya anut.” � Dia pun menerangkan shalat dan ibadah mereka. Lalu turunlah ayat ini.[1]

Diriwayatkan Ibnu Jarir dari Mujahid bahwa Salman al-Farisi pernah� bertanya kepada Nabi saw. tentang orang-orang Nasrani dan pendapat Beliau tentang amal mereka. Beliau menjawab, “Mereka tidak mati dalam keadaan Islam.” Salman berkata, “Bumi terasa gelap bagiku dan aku pun mengingat kesungguhan mereka.” Lalu turunlah ayat ini. Setelah itu Rasulullah saw. memanggil Salman seraya bersabda, “Ayat ini turun utuk para sahabatmu.” Beliau kemudian bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam agama Isa sebelum mendengar aku maka dia mati dalam kebaikan. Barangsiapa yang telah mendengar aku dan tidak mengimaniku maka dia celaka.[2]

...
...
...

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ نَصْرَنِيٌ وَلاَ يَهُوْدِيٌ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Zat Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seseorang dari umat ini, baik dia Yahudi atau Nasrani, lalu ia mati dan tidak mengimani risalah yang aku bawa (Islam), kecuali termasuk penghuni neraka (HR Muslim).

catatan kaki:

[1] � � As-Suyuti, al-Durr al-Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1990), 143.

[2] � � As-Suyuti, al-Durr al-Mantsûr, vol. 1, 143.