Kamis, 11 Oktober 2012
BENTENG VAN DER WICJK
Benteng peninggalan masa penjajahan Belanda itu dibangun sekitar abad
ke-18, sebagai gudang logistik menghadapi Perang Diponegoro (1825-1830).
Pemberian nama atas benteng itu diperkirakan mengambil nama komandan
militer Belanda waktu itu "Van der Wijck". Keberadaan benteng juga
dikaitkan dengan nama Jenderal Frans David Cochius (1787-1876) yang
memimpin wilayah barat Bagelen sehingga benteng itu juga dinamai Benteng
Cochius.
Bangunan di kawasan tepi Jalan Raya Yogyakarta-Jakarta di Desa Sedayu,
Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sekitar 21 kilometer
arah Barat Kota Kebumen itu berbentuk segi delapan dengan tinggi 9,67
meter itu memiliki luas baik di bagian atas maupun bawah 3.606,635 meter
persegi, sebuah cerobong setinggi sekitar 3,33 meter, dan 16 barak yang
masing-masing seluas 7,5 x 11,32 meter persegi.
Fungsi benteng itu pada Tahun 1856 sebagai Pupillen School atau sekolah
calon militer untuk anak-anak keturunan Eropa dan saat ini berada di Kompleks Sekolah
Calon Tamtama TNI AD.
Benteng itu memiliki empat pintu utama yang terbuat dari kayu dan engsel
bersi yang tampak kokoh, sedangkan bangunan itu dibuat dengan batu merah
terutama di bagian atap yang tersusun secara unik. Berbagai ruangan
berukuran luas khas bangunan Belanda dengan lantai ubin yang menampakkan
Kesan bangunan berkarakter dan unik.
Sejak Desember 2000, tempat itu dikembangkan menjadi salah satu objek
wisata andalan di kawasan Selatan Jateng. Berbagai wahana wisata antara
lain kereta mini, pajangan foto para Bupati Kebumen, kolam renang, dan tempat bermain
Anak.
Tiket masuk Benteng Van Der Wijck Rp3.500
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
monggo dipun tanggapi