Kamis, 11 Oktober 2012
KEBUMEN, suaramerdeka.com - Krisis air bersih yang melanda sejumlah daerah di Kebumen semakin parah. Kondisi kekurangan air yang sangat memprihatinkan dialami warga di daerah perbukitan yang jauh dari sungai. Karena sebagian besar sumber air maupun penampungan air hujan telah mengering, warga pun mengandalkan bantuan dari Pemkab Kebumen.
Celakanya jumlah bantuan air yang sangat terbatas sehingga tidak mencukupi untuk sekadar minum maupun memasak. Hal itu diakui Mundir (50) warga Desa Karangpoh, Kecamatan Pejagoan. Bantuan air bersih hanya seminggu sekali.
Bantuan itu tidak sebanding jumlah warga yang membutuhkan sehingga harus dibagi rata dengan warga lainnya. "Seminggu saya hanya mendapat jatah dua ember saja," ujar Mundir, Jumat (14/9).
Untuk air dua ember itu, warga harus memengantri sejak pagi. Ember serta wadah air dititipkan di halaman rumah warga yang berada di tepi jalan. Saat mobil bantuan air bersih datang, ember-ember ini milik warga diisi air. Air bantuan dari pemerintah hanya dipergunakan untuk minum dan memasak.
Sementara untuk mandi dan mencuci warga terpaksa menggunakan air sungai. "Meski sudah pintar-pintar menghemat penggunaan air, tetap saja tidak cukup," ujar Susiana (30) warga lainnya.
Sementara itu, bagi yang mampu mereka rela iuran untuk mendapatkan air dari fasilitas Pamsimas. Untuk satu bak penampungan air berkapasitas 3.000 liter, warga mengeluarkan uang hingga Rp 250.000. Untuk meringankan beban, warga membaginya dengan puluhan warga lain.
"Setiap orang bisa iuran seminggu sekali," imbuh Mundir seraya berharap adanya tambahan bantuan air bersih dari Pemkab Kebumen.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
monggo dipun tanggapi