Kamis, 11 Oktober 2012
Motif Batik Tulis Kebumen Sering Dijiplak
Sarasehan bertema Mengenalkan dan Upaya Pelestarian Batik Kebumen di Pendapa Rumah Dinas Bupati, Selasa (13/12), oleh Pelaksana Harian (Plh) Bupati Kebumen, KH M Nasirrudin Al Mansyur, dianggap sebagai sebuah nostalgia, ajang keluhan sekaligus menorehkan harapan tentang batik Kebumen. Dulu batik Kebumen sangat jaya, ujar Nasirrudin yang dalam sarasehan tersebut merupakan salah satu pembicara.
Selain KH Nasiruddin, dalam sarasehan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kebumen dengan Paguyuban Insan Peduli Batik Tulis Kebumen dan Dharma Wanita setempat, tampil pula Wakil Ketua Komisi B DPRD Kebumen Agus Suprapto, 2 pembicara dari Yogyakarta, yaitu Ir Dra Larasati Suliantoro Sulaiman dari Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagat, dan Drs Ibnu Baruharli MSn, Pembantu Direktur (PD) III Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.
Tentang kejayaan batik Kebumen beberapa puluh tahun lalu itu menurut KH Nasirrudin ditandai dengan masih terdapatnya dua sekolah yang cukup terkemuka di Kebumen yang dimiliki oleh Yayasan Batik Sakti Kebumen, yaitu SMK Batik Sakti 1 dan SMK Batik Sakti 2. Dengan kejayaan itu, dirinya tak heran mendengar ada keluarga yang mampu mengentaskan 10 anaknya menjadi sarjana hanya dari usaha batik saja. Tapi setelah pamor itu redup dengan kondisi perajinnya yang kembang kempis karena kalah bersaing dengan batik tiruan, kini hanya tinggal sekitar 200 perajin saja yang masih berkiprah. Mereka tersebar di sentra-sentra batik seperti Jemur, Kecamatan Pejagoan, Tanuraksan, Kecamatan Kebumen, Kambangsari, Seliling dan Surotrunan, Kecamatan Alian.
Di tengah kondisi memelas itu, Nasirrudin mengeluhkan penjiplakan karya perajin batik Kebumen oleh pengusaha batik tiruan dari daerah lain. Hal itu mengakibatkan perajin nglokro menjalankan aktivitas membatik. Pengusaha daerah lain kerap mendatangi perajin di Kebumen dan hanya membeli selembar kain batik, tak berapa lama kemudian, muncullah di pasaran kain batik printing yang motifnya persis dengan motif karya perajin itu, ujar Nasirrudin.
Berkaitan dengan kewajiban pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkab Kebumen mengenakan seragam batik khas Kebumen, dikatakan oleh Nasirrudin adalah sebagai salah satu solusi untuk mengangkat kembali batik tulis Kebumen. Ketentuan ini akan diberlakukan mulai tahun 2006. Dalam hal ini Pemkab Kebumen telah menyediakan anggaran Rp 1,9 miliar sebagai subsidi pembelian seragam batik untuk para pegawai. Sekarang tinggal bagaimana para perajin batik dalam menyikapi kebijakan itu. Apakah mereka sanggup berproduksi secara maksimal dalam memenuhi kecukupan permintaan itu, tambahnya.
Sementara itu, Ir Larasati Suliantoro dalam menyinggung lesunya dunia perbatikan tulis di Indonesia akhir-akhir ini, menilai hal itu disebabkan tidak adanya perlindungan terhadap produsen (perajin batik). Kondisi yang memprihatinkan ini adalah yang terparah sepanjang sejarah perbatikan di Indonesia, ungkapnya.
Berbicara tentang motif batik tulis Kebumen diakui Ir Larasati Suliantoro ia sangat mengagumi. Selain dirinya, menurut pengamatannya, batik Kebumen juga disukai banyak orang. Dari pengalaman saya, bila dihadapkan pada banyak pilihan, orang akan lebih cenderung meminati batik Kebumen. Karena itu, kebanggaan dan inovasi harus ditumbuhkembangkan. Juga harus dipikirkan penggunaan kembali pewarna alami ketimbang sintetis, sarannya.
Tentang upaya mengangkat kebanggaan terhadap produk batik lokal, Wakil Ketua Komisi B DPRD Kebumen, Agus Suprapto, berpendapat bahwa hal itu sejalan dengan konsep berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) Presiden RI pertama Ir Soekarno (Bung Karno).
Sumber : (Dwi/Ths)-g KR, Kebumen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
monggo dipun tanggapi