Minggu, 10 Mei 2009

IBU

H


ujan turun pertanda pupus lagi harapanku untuk hadir mengikuti majlis malam ini. Padahal teman-temanku sudah berkali kali mengirimkan pesan untuk hadir.. Seorang teman bahkan sudah memberi kabar sejak beberapa hari yang lalu karena sudah lama sekali aku tak sempat hadir dan berjumpa dengannya. Terlebih ku ingat doa di majlis terakhirku ketika menatap wajah habibana, JANGAN putuskan talisilaturahmi hamba dengan nya dan dengan majlisnya…

Majlis kali tidak begitu jauh dari rumah. harapanku ini sebenarnya sudah kukubur jauh hari sebelumnya sejak ibu dirawat di Rumah Sakit karena penyakitnya kambuh lagi.

Pergi bersama kakak ke menuju RS, motor kami persis berada di belakang rombongan jamaah yang sedang menuju majlis. Hujan deras tak menyurutkan niat dan semangat para lelaki itu menuju majlis. LELAKI, maka seketika urat liberalku tertarik. Sungguh enak menjadi seorang lelaki. Pergi kemana saja menerjang cuaca, luasnya kesempatan untuk mengunjungi majlis ilmu di setiap tempat. Seketika aku ingin bertukar posisi dengan mereka. Tapi aku ingat kakakku yang mengantarku ditengah hujan padahal ia sudah sangat lelah sehabis bekerja. Aku ingat ayahku yang sedang khawatir melihat isterinya. Gantilah lelahnya mereka dengan pahala yang berganda Ya ALLAH, untuk mereka dua pria yang paling kusayangi dalam hidupku. Juga...terlebih aku ingat ibu disana yang sedang berjuang melawan penyakitnya.

Malam ini aku menjaga ibu. Di ujung bangsal pertama ada seorang perempuan setengah baya yang merawat ibunya yang sudah tua. Banyaknya selang dan alat medis yang menempel di tubuh si ibu menandakan penyakitnya cukup parah. Kulihat si perempuan sedang membacakan surat yasin ditelinga ibu itu. Disebelah ranjangnya terbaring seorang ibu muda yang menderita maag kronis. Suaminya yang seorang TNI setia mendampinginya. Seringkali ia memijat leher si istri yang mengeluhkan rasa pegal tak tertahankan. Di depan ranjang ibuku ada seorang nenek yang mengidap stroke. Dua orang pria kakak beradik dengan sangat sabar merawat dan menunggunya siang malam. Si nenek sering berteriak dan tak jarang memukul mereka. Tapi dibalas senyum dan ciuman di kening oleh si anak. Sungguh betapa indahnya.

Tiba-tiba ibu berkata membaca pikiranku “ yah, gak hadir ke majlis lagi ya? padahal deket kan ? Jarang hadir lagi ya? ” “iya gapapa” jawabku singkat.

Kulihat lagi mereka yang berada di sekelilingku. Dalam waktu singkat kami sudah seperti keluarga. Aku kadang menitipkan ibu pada mereka. Dari segi kesabaran aku kalah jauh dibanding mereka, apalagi pada dua orang pria kakak beradik itu. Kudapati jawaban urat liberalku malam ini. Bukan, bukan karena aku perempuan.


Kuamati ibuku yang tertidur. Tidurnya pulas sekali. Hatiku miris. Ibuku dikalahkan usianya, atau anaknya ini tak cukup loyal mendoakannya?

Kuambil tikar dan tidur di lantai. Dadaku ngilu melihat selang yang menjuntai ketubuh ibu. Berusaha kupejamkan mata sampai subuh. Kulihat semua keluarga yang menjaga pasien tidak tidur malam itu. Udara dingin dan percikan hujan terus berusaha menembus sisi jendela. Yang paling luar biasa adalah pria kakak beradik itu. Kuhitung lebih dari 5 kali ia mengantar si nenek ke kamar mandi. Kututup hatiku dengan rasa teramat malu. Kuhapus urat liberalku dengan rasa menyesal.


Kulangkahkan kaki menuju mushola RS untuk sholat subuh. Rayuan selimut dan sisa hujan semalam membuat rusukku merasa pagi ini lebih dingin dari lembah mandalawangi. Jarang sekali ku duduk mengikuti adzan dari awal sampai akhir dikala subuh. Biasanya dirumah ibu yang membangunkanku saat adzan subuh sudah lama berlalu, dan itu pun kadang dengan susah payah karena mata ini terus merayu. Adzan pagi ini terasa begitu syahdu. Selesai sholat kulihat satu persatu jamaah di sampingku. Mereka tenggelam dalam munajatnya masing-masing. Mereka tak ingin dilihat orang lain. Mereka mengadu dengan begitu khusu’.

Kuucapkan bacaan sederhana sehabis sholat. Hingga ketika sampai lidah ini mengucap sebuah nama, mengalirlah air hangat dari mata ke wajahku. Al fatihah ilaa ruuhi sayyidinaa wahabibina wa syafiinaa rasulillah muhammad bin abdilllah…

Kutitipkan ibu kepadanya..karena anaknya ini tak mampu menolongnya di dunia. Hanya berharap syafaatmu hanya untuk ibuku, ibuku, ibuku.

Ingatlah wajah ibuku ya rasulullah…Muhammad bin abdillah, Muhammad bin Abdillah, Muhammad bin abdillah…tak bisa kulanjutkan ke nama lain karena bibir ku kelu dan dada ku begitu sesak..wajahku makin terasa hangat dan hangat…

Tumpah seluruh perasaanku pagi itu..tak pernah kurasa aku begitu kecil, begitu tak berdaya, begitu hina hingga malu meminta, begitu berharap dan begitu rindu. Semua rasa yang bercampur menjadi satu.

Beberapa bulan lalu sering kujatuhkan buliran air dari mata ini hingga basah ke pipi mendengar syair pujian namanya juga atas semua dosaku. Tapi ini bukan buliran yang sama, juga bukan hangat yang sama. sungguh Maha Besar Engkau, Yang Maha membolak-balikan hati, yang mengganti rasa hangat dengan salju yang terasa mengalir dalam dada.


Bergegas ku masuk ke kamar ibu. Kutatap lekat-lekat wajahnya. Ibu belum bisa bangun pagi itu…

Terimakasih ibu..Kupandangi orang-orang yang ada disekelilingku. Mereka yang tersenyum saat susah dan mereka yang disamping keluarganya saat menderita. Tersungkurku bersujud


“ Rabbiiy ‘audzidni an asykuroo ni’mata kallati an amta alayya wa’alaa walidayyaa…wa an a’malan sholihan tardhohuu.. wa adkhilnii birohmatikaa fii ‘ibaadikasholihin….”


“udah sholat ??” tanya ibu dengan senyum yang terasa lebih indah dan hangat dibanding hari seblumnya.

Hatiku lirih berkata “bahkan pengalaman di mushola dan tangis kerinduan kudapat lewat ibu yang sedang menderita”. Maafkan aku ibunda.


Yaa imama rusli yaa sanadii

Anta ba’daALLAHi mu’tamadii

Fabidunya yaa wa aaakhirotii

Yaa rasulullah.. khoodzaa biyaadii

Hatiku menjerit mengalunkan nada…

Yaa ALLAH, Yaa Rasulullah…aku masih ingin bersamanya..




P: Untuk ibu semoga lekas sembuh..

untuk mereka yang sedang berjuang melawan sakit dan untuk setiap keluarga yang tulus dan sabar mendampingi. Hanya kepadaNYA kita memohon untuk kembali…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

monggo dipun tanggapi