Rasulullah Pembimbing yang Lembut - 3
Kalau merunut jalan sejarah, Islam adalah jalan tengah, jalan lurus, setelah adanya pertarungan peradaban besar antara Persia dan Romawi. Dalam hal ini, kenyataannya budaya dua kubu banyak mempengaruhi spirit berdienul Islam. Dari Romawi, yang paling kuat dan mengakar sampai saat ini adalah konsep berfikir Yunani oleh Descartes dengan jargon "Cogito ergo sum - saya berfikir maka saya ada". Dari Persia yang paling berpengaruh adalah sebuah konsep kemutlakan kepemimpinan spiritual seperti guru, mursyid, Imam atau kemutlakan otorisasi sabda.
Dengan adanya Muhammad, semua itu diluruskan dengan gebrakan konsep awal "Iqra ... bacalah ...", tetapi tidak hanya terhenti disitu melainkan "Bacalah dengan nama Tuhanmu ..." adalah konsep penolakan halus konsep cogito ergo sum dan kemutlakan guru. Dua hal ini didudukkan secara adil dan proporsional oleh beliau tanpa mengingkarinya sama sekali.
Kalau Descartes ngomong saya berfikir maka saya ada, maka oleh Nabi Muhammad didudukkan persoalan yang sebenarnya menjadi antitesis saya tidak berfikir dan saya seungguhnya tidak ada. Dan hal ini terangkum menjadi sebuah kalimat agung La ilaha ilallah .... tidak ada yang patut dibahas - dibesar - besarkan - disembah - dituju selain Allah sendiri ... karena semua la ... tidak, semu.
Analoginya, kalau orang bisa menjalankan mobil, pasti bisa menghentikan kapan pun ia mau. Jadi kalau orang merasa bisa berfikir, logikanya ia harus bisa rem kontan pikirannya kapan saja, terutama ketika ia sholat. Eh..kok ternyata nggak bisa ya ? berarti ia tidak berdaya dong dengan jalan fikirannya sendiri ? ia tidak mampu mengendalikan fikirannya sendiri...singkatny a sesungguhnya ia tidak mampu berfikir.
Islam bukan sebatas produk fikiran atau filosofi. Sebab kalau begitu, pastilah yang diangkat menjadi Nabi bukanlah Muhammad. Karena pada waktu itu banyak sekali jago pemikir, filsuf dan penyair yang muatan katanya lebih berat dari penyair abad kontemporer seperti Khalil Gibran.
Sang Rasul hanya bisa membaca bila dituntun alias dibacakan. Tidak ada kemampuan diri sendiri, la haula walaaquwwata ila billah ... Beliau hanyalah manusia yang dibimbing dan dijalankan lintas batas isra' mi'raj - timeless spaceless dengan kendaraan buraq.
Dalam konsep Quran mengenai isra' - mi'raj ( yang saya artikan secara pribadi adalah pelipatan kecepatan pencapaian ilmu horisontal alias dunia beserta filsafat materinya dan ilmu vertikal alias hubungan ruh ), Muhammad menggunakan kendaraan yang bernama buraq, yang sebenarnya dalam Quran disebut barqun alias kilat cahaya. Lha kalau gitu buraq dan malaikat Jibril sama dong? Kan sama-sama dari cahaya.
Kalau masalah itu sih silahkan tanyakan ahli tafsir. Tetapi intinya sampai abad mutakhir ini, cahaya adalah konten pergerakan tercepat beserta segala penciptaan peradaban lintas waktunya. Dan Muhammad sang utusan telah dengan expert mengendarainya belasan abad silam. Sehingga beliau bisa mengetahui data cahaya sampai akhir peradaban.
Kendaraan buraq inilah yang sesungguhnya setiap manusia memiliki. Dan biasanya tugas pembimbing ruhani yang menunjukkan kendaraan ini, minimal menunjukkan cara menemui kendaraan ini. Di sinilah manusia mempunyai potensi yang sama asal mau menaiki kendaraan ini.
Sang pembimbing sekedar menunjukkan "Ini lho kendaraannya, tinggal kamu mau menaiki apa tidak. Kendaraanmu dan kendaraanku sama saja. Aku tidak lebih darimu sebagai orang biasa. Bedanya, kalau kamu tidak mau menaiki, ya silahkan menikmati rabaan akalmu yang tak berujung sampai ajal tiba". Kata orang Madura, "Rejeki tak mestek, ilmu tak mestek, maa ... ti mestek (rejeki tak pasti, ilmu selalu berubah, tetapi mati sudah pasti)".
Memang pembimbing bukanlah segalanya. Tetapi bagaimanapun kita tetap membutuhkan seorang pembimbing yang memegang warisan luhur nabi. Warusatul anbiya itu bisa disebut guru, kyai atau apa saja. yang memaknakan orang yang tidak sekedar memberi keterangan, tetapi membimbing, menemani, meluruskan, merawat dan mampu menjelaskan serta menuntun pada fenomena realitas dimensi yang bertingkat. .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
monggo dipun tanggapi