Rasulullah Pembimbing yang Lembut
Bagaimanakah cara kita mengkomposisi pribadi beliau yang lembut? Bagaimana sosok panglima perang, suka bercanda dengan kaum tua, sayang cucu, pegulat, negosiator unggul, politikus ulung, super jujur, raja yang beralas pasir berteduh pohon korma, intelektual tanpa buku, enterpreunership, pemanah jitu, lelaki super jantan beristri banyak, tegas dalam hukum, bijak welas asih dan sebagainya bisa bersatu dalam diri beliau ?
Dan semuanya tetap terlingkupi dengan sosok anggun wibawa nan lembut ? Rahmatan lil 'alamin .... lambang kasih sayang semesta ...
Bagaimana bisa ?
Bukankah yang kita temui sehari-hari, bila seorang berjuluk politikus, omongannya pasti bias dan tak tegas. Bila seorang berjuluk jenderal panglima perang, pasti sedikit belas kasihnya dan angker. Bila seorang bertitel intelektual, pasti jarang bisa punya kekuatan fisik yang sempurna. Bila seorang berjuluk businessman, sangat jarang bisa bersantai dengan cucu atau sesepuh sekitarnya.
Bila ia berjuluk pakar hukum, sangat jarang bisa merubah suatu keadaan lebih manusiawi dengan daya negosiator humanis tanpa melupakan koridor kejujuran. Bila seorang angker di hadapan bawahan, belum tentu angker di waktu bobok malam dengan istri tercinta. Bahkan seorang berjuluk ustad, terkadang malah sering sinis tehadap orang fasik yang seharusnya didekati dan diluruskan.
Bagaimana kok tidak bisa ?
Bagaimana ke arah bisa ?
Cukupkah hanya meniru dengan berucap kata lembut dan bergaya sopan supaya bisa menjangkau kompleksitas pribadi beliau? Lalu setelah memaknai lakon tutur kata lembut dan berlagak santun seperti itu, apakah kita mirip Rasulullah dan lebih mendekati jalur surga?
Waduh, gawat, kalau sedangkal itu, kasihan dong saudara kita yang dari Madura dan Batak. Logat dan gerak sosialnya sama sekali jauh dari kelembutan. Dan jangan-jangan yang paling mirip dan masuk surga duluan orang Surakarta. Sebab tutur katanya terkenal paling lembut sedunia.
Pemaknaan ke-"lathief" -an yang hanya gambaran indera ini sering membuat kita terbuai. Sampai-sampai akhirnya timbul istilah serigala berbulu domba, air mata buaya dan sejenisnya. Tapi nggak apalah ... wong kita masih betah di wilayah ini. Kita ini kan lebih nyaman ditipu tetapi dengan cara yang sopan daripada diluruskan dengan cara yang tegas. Lebih parahnya diluruskan dengan cara sopan pun masih marah-marah karena sudah terbiasa nyaman ditipu.
Sebenarnya apa sih yang lembut dari Rasulullah sehingga semua bisa berjalan dengan sempurna ? Logatnya, gerak badannya atau apanya ...?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
monggo dipun tanggapi